
Tidur yang begitu nyenyak benar-benar dirasakan oleh Chika. Saat matanya terbuka, dia masih merasakan aroma parfum milik Felix.
"Aku serasa tidur bersamanya," gumamnya. Senyuman terselip di sudut bibirnya. Memang aroma parfum itu mencerminkan bagiamana orang yang memakai. Menjadi ciri khas dari si pemakai. Jadi tanpa melihat dan hanya menghirup udara di sekitar, sudah bisa ditebak siapa pemilik wangi itu.
Menyibak selimut, Chika beranjak dari tempat tidur. Dia ingin ke apartemennya untuk bersiap kantor.
Langkah Chika terhenti saat melihat jajaran foto milik Felix dia atas meja. Kemarin karena mengantuk, dia tidak memperhatikan foto-foto itu.
Tangan Chika mengambil Foto Felix dengan Bryan. "Dia tidak banyak berubah," ucap melihat wajah Felix. Wajah tunangannya itu terlihat sama, hanya tubuhnya saja yang sekarang lebih kekar. Matanya beralih melihat foto Bryan. "Justru Bryan yang berubah terlihat dewasa."
Ketukan pintu mengalihkan fokus Chika. Buru-buru dia meletakan kembali foto yang dipegangnya. Melangkah membuka pintu yang semalam dia kunci.
"Baru bangun?" tanya Felix sesaat setelah pintu terbuka.
"Tidak, aku sudah bangun dari tadi."
"Bersiaplah! Setelah itu kita sarapan. Aku sudah membuat sarapan."
Aku sudah bak putri raja yang dilayani. Chika tertawa dalam hati mendapati perhatian Felix. Kemudian dia mengangguk dan kembali ke apartemennya.
***
Di meja makan sudah tersedia sandwich dan segelas susu. Rasanya Chika seperti anak kecil yang akan berangkat sekolah. Dia duduk tepat di hadapan Felix memandangi sarapan pagi yang disiapkan oleh Felix.
"Kenapa ada susu?" tanyanya bergidik. Terakhir kali dia minum susu adalah saat sekolah menengah atas dan sejak itu dia tidak pernah minum.
"Apa kamu tidak suka?" Felix merasa bersalah karena menyediakan sesuatu yang tidak tunangannya suka.
"Bukan begitu, hanya saja aku sudah lama tidak minum susu," jawabnya mengelak.
"Aku juga sudah lama," gumam Felix. Matanya sekilas melihat dua gundukan milik Chika, tetapi buru-buru dia mengalihkan pandangan sebelum tongkat ajaibnya berubah bentuk.
Chika dan Felix memulai sarapan mereka. Di setiap gigitan sandwich yang di makannya, Chika memuji dalam hatinya. Padahal biasanya jika dia yang buat, ada saja bagian yang gosong.
"Aku melihat fotomu di kamar, tubuhmu jauh berubah ya?" Chika yang mengingat foto Felix, bertanya pada empunya foto.
"Berubah seperti apa?" Felix bertanya sambil tersenyum. Melihat Chika yang mau bertanya tetang dirinya, ada rasa bahagia yang menghampiri hatinya.
Pikirannya melayang memikirkan kenapa bisa Chika berubah. Hingga satu nama yang melintas dipikirannya. Siapa lagi jika bukan Shea. Entah sihir apa yang istri Bryan itu berikan, hingga tunangannya begitu baik dan mau bertanya tentang dirinya.
__ADS_1
"Tubuhmu ... tubuhmu sekarang lebih kekar." Chika menjelaskan apa yang dilihatnya berbeda.
"Sekarang aku lebih banyak olah raga, jadi wajar tubuhku kekar," jawab Felix seraya mengigit sandwich yang dipegangnya.
"Kapan kamu olah raga, aku tidak pernah melihatnya?" Chika memicingkan matanya serta memberikan pertanyaan bernada sindiran.
"Aku olah raga setiap pulang kerja. Biasanya aku akan pergi ke gym di lantai atas."
"Tapi aku tidak pernah melihatmu olah raga." Chika masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan Felix.
Felix tersenyum. Diam-diam, Chika memperhatikannya. "Semenjak ada kamu, aku belum pergi olah raga."
"Kenapa?" tanya Chika penasaran.
"Karena menghabiskan waktu denganmu lebih mengasikan." Felix menjawab dengan menambahi senyuman di wajahnya.
Chika merasakan pipinya menghangat dan dia tahu jika setelah itu akan muncul rona merah di pipinya. Namun, buru-buru dia mengalihkan dengan memakan sarapannya.
"Kalau malas, olah raga jangan jadikan aku alasan," sindir Chika.
"Aku hanya ingin menikmati waktu denganmu, tetapi jika kamu tidak keberatan aku tinggal untuk olah raga, aku akan lakukan." Sejak Chika tinggal di apartemen, bagi Felix waktu sangat berharga. Dia tidak mau kehilangan moment bersama walaupun hanya sekadar makan malam.
"Kamu mau ikut?" tanya Felix memastikan.
"Iya, tentu saja. Aku juga ingin langsing seperti wanita-wanita di luar sana." Chika berkata seraya membayangkan tubuhnya yang bak gitar Spanyol.
"Jadilah dirimu sendiri, tidak perlu ingin menjadi seperti orang lain."
Senyum Chika yang sedang membayangkan tubuh indahnya seketika surut saat mendengar ucapan Felix. "Bukankah mantan kekasihmu juga langsing dan cantik, kenapa aku tidak boleh?" Dia memanyunkan bibirnya dan kembali memakan Makanannya.
"Itulah yang berbeda mereka denganmu. Kamu lebih tampil apa adanya. Jadi jika kamu mau olah raga, niatkan hanya untuk menjaga kesehatanmu."
Chika terpaku mendengar setiap kata yang keluar dari Felix. Semakin lama mengenal Felix, dia menemukan sisi lain dari pria yang sekarang jadi tunangannya itu.
Benar apa yang dibilang Shea, jika aku harus mengenal dia dulu sebelum memutuskan untuk mengakhiri semuanya.
"Iya, aku akan olah raga agar sehat." Dengan malas Chika menjawab.
"Bagus," ucap Felix tersenyum. "Sekarang habiskan susu milikmu dan ayo kita berangkat."
__ADS_1
Mendapati perintah Felix, Chika beralih menatap susu yang disiapkan Felix. Namun, sejenak dia sadar jika hanya dirinya saja yang minum.
"Mana susu milikmu?" tanya Chika mengedikkan dagunya.
"Aku tidak minum susu sekarang."
"Curang sekali," ucap Chika memutar bola mata malas. "Kalau bukan sekarang kapan?" tanyanya penasaran.
"Nanti jika kita sudah menikah," jawab Felix dengan senyuman menyeringai. Matanya beralih menatap dua gundukan milik Chika.
Chika mencerna jawaban Felix. Dia memperhatikan ke mana Felix menatap. Hingga akhirnya dia mendapati sorot mata Felix tertuju pada dua gundukan miliknya.
Spontan Chika langsung menutupi dadanya dengan kedua tangannya. Melindungi aset pribadinya. Wajahnya panik, takut dengan apa yang akan Felix lakukan pada dua benda kenyal itu.
Felix tergelak melihat wajah Chika. Kini dia punya kegiatan baru yaitu menggoda tunangannya. Baginya melihat wajah panik Chika begitu mengasikan.
"Sudah ayo berangkat, jangan mengajakku membayangkan ke arah sana." Felix berdiri dan berlalu mengambil kunci mobil dan tasnya.
Perlahan Chika melepas tangan yang sedari tadi berada di dadanya. Walaupun hanya menggoda, ada perasaan takut di hatinya.
Tak mau berlama-lama, Chika dan Felix berangkat bekerja bersama-sama. Di dalam perjalanan ke kantor, Chika teringat sesuatu. "Kemarin kamu bilang akan menceritakan kekasihmu," ucapnya menoleh pada Felix.
Felix pikir Chika tidak akan menanyakan akan hal itu. "Apa yang ingin kamu tahu lebih dulu?" Sambil fokus pada kemudinya, Felix bertanya.
"Berapa kekasih yang kamu miliki?"
"Empat."
Mata Chika membulat mendengar jawaban jika pacar Felix cukup banyak. "Jadi aku yang ke lima?" tanyanya dengan nada tidak terima.
Senyum Felix tertarik di sudut bibirnya. "Apa kamu sedang mengakui jika kamu kekasihku?" tanyanya tersenyum penuh arti.
.
.
.
.
__ADS_1
...Info ya, grup chat di NT sudah dibuka, kalian masuk dengan memasukan alasan dengan menjawab pertanyaan makanan apa yang membuat Bryan alergi....