
Semua sudah disiapkan untuk perjalanan ke luar negeri. Rencananya, Regan dan Bryan akan memakai pesawat pribadi untuk penerbangan ke luar negeri dikarenakan untuk kenyamanan, mengingat semua anggota keluarga ikut.
Setelah berhari-hari menyiapkan keperluan dari berangkat dan jadwal yang akan mereka jalani di sana, hari ini Felix dan Chika bisa bernapas lega. Tinggal menunggu keberangkatan dua hari lagi.
Karena mereka belum sempat menyiapkan segala keperluan untuk mereka. Hari ini mereka menyiapkan untuk kebutuhan mereka sendiri.
Salah satu mall menjadi tujuan mereka untuk mencari baju hangat yang akan mereka pakai nanti di sana. Maklum, udara yang dingin di sana harus mereka antisipasi.
"Apa ini bagus?" tanya Chika menunjukan coat warna coklat muda pada Felix.
"Cocok untuk kulitmu yang putih," jawab Felix menyelipkan pujian.
Chika merona. Entah kenapa perasaan berbunga-bunga saat mendapati pujian dari Felix. Kemudian dia mencoba coat itu di fitting room.
Dari pantulan cermin, Chika memperhatikan tubuhnya. Memang warna yang dipilih sangat cocok dengan kulit putihnya. Senyumnya mengembang saat membayangkan dia akan memakai coat tersebut nanti di luar negeri.
Namun, sejenak dia mengingat jika tadi dia belum melihat label harga dari coat yang dicobanya. Sambil melepas, Chika memperhatikan di mana letak price tag-nya.
Matanya membulat saat melihat angka lima juta untuk sebuah coat. Rasanya dia berat jika harus mengeluarkan uang sebanyak itu. Dengan berat hati, akhirnya dia memilih membatalkan membeli coat tersebut. Mungkin dia akan mencari yang lebih murah saja.
Keluar dari fitting room, Chika menemui Felix. Sambil melangkah menghampiri Felix, dia memikirkan alasan yang tepat yang bisa diberikan pada Felix.
"Bagaimana?" tanya Felix melihat Chika.
"Sepertinya ini tidak cocok, jadi aku akan mencari yang lain lagi saja." Chika kembali menaruh coat yang diambilnya tadi ketempat semula.
Sebenarnya Felix heran kenapa Chika tiba-tiba membatalkan barang yang dia pilih. Padahal tadi dia melihat jelas jika Chika sangat menyukainya.
Chika melanjutkan mencari coat yang sesuai dengan uangnya. Targetnya tidak boleh lebih dari satu juta, jadi dia memilih-milih yang pas.
__ADS_1
Felix dengan setiap menemani Chika. Dia memang tidak ada rencana untuk beli karena coat miliknya sudah banyak. Terakhir kali pergi bersama Regan, dia membeli di sana.
"Beli saja satu, nanti sisanya kita beli di sana," ucap Felix.
"Apa di sana tidak lebih mahal?"
"Tidak juga. Karena di sana menjadi barang wajib yang dimiliki warganya jadi harganya tidak semahal di sini."
Mendengar penjelasan Felix, Chika menimbang-nimbang. Akhirnya dia mengangguk. Kemudian, kembali mencari satu coat untuknya.
Melihat-lihat coat, Chika mengecek harga satu persatu. Memastikan jika harganya pas di kantongnya. Tangannya terus menyibak untuk mengetahui harga barang tersebut.
Akhirnya, dia mendapatkan satu coat dengan harga delapan ratus ribu karena ternyata sedang diskon dengan harga awal tiga juta. Namun, sayangnya warna yang tersisa adalah merah. Warna itu terlalu terang saat dipakai.
"Apa kamu ingin membeli ini?" Felix memastikan kembali. Sebenarnya dia ingin meminta Chika mencari warna lain, tetapi tidak tega untuk mengatakannya.
"Iya, aku suka yang ini." Pilihan tepat adalah berbohong karena agar Felix tidak curiga.
Tangan Felix meraih coat yang dipegang oleh Chika, tetapi Chika menariknya dan menjauhkan coat dari tangan Felix. "Aku akan membayar sendiri," ucapnya.
"Kenapa? Aku akan membayarnya saja." Felix mencoba meraih coat tersebut.
"Tapi—"
Belum sempat Chika menolak, Felix sudah mendapatkan coat yang dibawa Chika. Kemudian dia membawa ke kasir untuk di bayar.
"Jika tahu dia yang bayar, aku tidak perlu susah payah mencari yang murah," gumam Chika. Namun, buru-buru dia buang jauh pikirannya. Minggat Felix belum menjadi suaminya dan tidak seharusnya Chika banyak meminta.
Chika menyusul Felix membayar belanjaan, tetapi dia melihat Felix juga membeli syal. Dari warnanya yang hitam, dia menduga jika itu untuk Felix sendiri.
__ADS_1
"Total satu juta lima ratus, Pak."
Chika membulatkan matanya. Dia tidak mengerti kenapa Felix membeli barang yang harganya hampir sama dengan coat miliknya. Padahal hanya syal kecil, tetapi harganya sangat mahal.
Felix langsung membayar semuanya dan Chika menunggu dengan tenang. Selesai membayar Felix memberikan paper bag pada Chika.
"Apa kamu tadi tidak sayang membeli syal semahal itu? Harganya saja hampir sama dengan coat milikku." Chika yang keluar dari toko baju mengeluarkan pendapatnya.
"Itu karena tidak diskon, mungkin jika diskon harganya lebih murah," elak Felix.
Chika hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Membenarkan jika mungkin harganya akan murah jika diskon. "Apa syal itu akan kamu pakai nanti di sana?" tanyanya.
"Kamu yang akan memakai."
Mata Chika membulat sempurna. Terkejut karena ternyata syal itu untuknya. "Apa kamu tidak salah? Harga syal itu mahal, kenapa kamu membelikan untukku?" Dia benar-benar tidak terima, karena harganya yang hampir sama dengan coat yang dibelinya.
"Tidak ada yang salah," jawab Felix santai.
"Tapi—"
"Sudah dibeli jangan dipermasalahkan," potong Felix.
Chika hanya bisa pasrah. Walaupun bukan dengan uangnya. Membeli barang mahal menurutnya sangat sayang. Apalagi hanya untuk sebuah syal.
.
.
.
__ADS_1
...My Perfect Daddy up ya, jangan lupa dibaca ...
...Jangan lupa berikan vote, hadiah, komentar, like...