
Chika terdiam. Tidak menyangka kalimat itu keluar dari Felix. " Apa kamu tidak mau mendengar penjelasanku?"
Di dalam kekesalan yang masih menyesakkan hati, Felix merasa belum siap untuk menerima penjelasan apa-apa. "Aku butuh waktu sendiri."
Chika menyadari penjelasannya juga tidak akan bisa diterima Felix jika tunangannya itu masih sangat kesal. "Baiklah, kalau memang kamu ingin sendiri. Aku akan jelaskan semua jika kamu sudah lebih baik." Dia melangkah keluar dari apartemen Felix, menuju ke apartemennya.
Sampai di kamar, dia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. "Harusnya kamu mendengar semuanya, baru menyimpulkan semua. Ingatannya kembali pada pertemuan beberapa jam yang lalu dengan Erix.
"Aku …." Chika tampak bingung menjelaskan. "Sebenarnya aku tidak menceritakan karena aku berencana menggagalkan rencana pernikahan."
"Kenapa kamu merencanakan itu?"
"Karena aku mencintaimu."
"Ap—" Saat hendak menjawab ucapannya teleponnya berdering. Chika menghentikan ucapannya, menunggu Erix yang sedang menerima panggilan telepon.
"Apa maksudmu tadi?" Erix yang mematikan sambungan telepon bertanya.
"Iya, aku mencintaimu," jawab Chika, "awalnya aku berpikir aku mencintaimu dan karena itu aku memutuskan untuk membatalkan hubungan pertunangan dengan Felix. Hingga saat aku menyadari jika aku mencintainya bukan dirimu."
"Aku pikir, aku saja yang berpikir jika aku mencintaimu. Sampai akhirnya aku bertemu Lyra di sana."
__ADS_1
"Lyra? Dokter Lyra maksud kamu?" Chika ingat betul dokter kandungan di rumah sakit tempat Erix bekerja.
"Iya, dia ikut pindah tugas dan menjadi teman kosku."
"Jadi dia mengejarmu sampai sana?" tanya Chika dan mendapati anggukan dari Erix.
"Sepertinya kita menganggap kedekatan yang kita bangun sebagai cinta, tanpa kita sadari hanya sebuah rasa nyaman saja tak lebih."
Chika tersenyum saat mengetahui Erix merasakan hal yang sama.
"Kamu benar. Kita hanya sering bersama hingga berpikir kita saling mencinta."
"Terkadang seperti itu, terlalu baper."
"Kamu benar." Chika mengingat bagaimana perjuangan Felix, bertahan menahan godaanya.
"Jadi apa kamu akan menikah dengan Felix?"
"Tentu saja, aku justru akan mempercepat pernikahan, tak mau kalah darimu!" seru Chika tertawa. Mereka berdua tertawa bersama.
Terkadang begitulah cinta. Kenyamanan yang dirasakan bersama teman diartikan dengan cinta. Jadi harus pandai-pandai merasakan mana cinta sesungguhnya mana yang hanya perasaan nyaman sesaat.
__ADS_1
Chika yang mengingat pertemuan dengan Erix, mengembuskan napas kasar. "Pasti dia hanya mendengar setengahnya," gumamnya.
"Apa benar dia akan membatalkan pernikahan?" Rasanya Chika benar-benar takut. Tak mau hal itu terjadi, Chika bangkit lagi dan menuju ke apartemen Felix. Dia berniat untuk menjelaskan pada Felix dari pada berlarut-larut sampai membuat Felix membatalkan pernikahan.
Mengetuk kamar Felix, Chika menunggu sesaat. Namun, berkali-kali dia mengetuk, Felix tidak membukakan pintu juga. Akhirnya, dia membuka pintu untuk mengecek keadaan Felix.
"Dia kemana?" Chika mencari Felix, tetapi tunangannya itu tidak ada. "Apa jangan-jangan dia …." Dia berpikir jika Felix pasti ke klub untuk minum dan melepas kekesalannya.
Chika buru-buru kembali ke apartemennya. Mengambil ponsel dan menghubungi Felix. Dia ingin tahu di mana tunangannya itu sekarang berada. Namun, sayangnya beberapa kali dihubungi, nomor tidak diangkat.
Ingin memastikan apa yang dilakukan oleh Felix, akhirnya Chika menyusul ke klub. Dia tidak mau sampai Felix melakukan hal-hal seperti dulu.
.
.
.
.
...Felix Chika segera tamat ya...
__ADS_1
...buat perpisahan bisa kasih bunga buat mereka Besok hari terakhir periode kasih hadiah,...
...yuk kasih hadiah buat Felix Chika...