Wedding Project

Wedding Project
Koki Kue


__ADS_3

Suara bel terdengar. Chika menebak jika itu adalah orang dari toko roti mertuanya yang akan mengajarinya membuat kue. Kemarin suaminya sudah menghubungi mamanya, jadi dia yakin jika orang yang datang adalah orang suruhan mertuanya. 


Chika membuka pintu melihat seorang pria dengan baju putih khas koki membelakanginya. "Apa Anda yang disuruh mengajari membuat kue?" 


"Iya," jawabnya seraya berbalik. 


Mata Chika membulat sempurna saat melihat siapa yang ada di hadapannya. "Kamu?" Sungguh Chika terkejut melihat Felix yang datang. 


"Hai …." Dengan polos Felix menyapa Chika. 


"Kenapa kamu yang datang? Bukannya harusnya koki dari toko roti mama yang datang?" 


"Iya, aku koki dari toko roti."


"Sayang jangan bercanda!" 


"Aku tidak bercanda. Aku yang akan mengajari kalian membuat kue."


"Memangnya kamu bisa," cibir Chika. 


"Kamu pikir anak tukang kue tidak bisa buat kue." 


"Anak tukang bengkel juga belum tentu bisa menambal ban." Chika masih tidak menyangkal ucapan Felix. 


"Sudah-sudah, percayalah padaku jika aku bisa membuat kue." 


Chika masih tak percaya dengan apa yang diucapkan Felix. Dia belum pernah melihat Felix membuat kue. 


"Hai …." Shea dan Selly yang datang menyapa Felix dan Chika. 

__ADS_1


"Kamu tidak kerja Felix?" tanya Shea yang melihat Felix di rumah. 


"Tadi pagi aku sudah masuk dan izin setengah hari."


"Oh …." Shea mengerti. "Chika apa yang akan mengajari kita belajar membuat kue sudah datang?"


Chika melihat ke arah Felix. Bingung menjawab apa pada dua temannya, sedangkan dia masih ragu dengan Felix. 


"Ini." Ragu-ragu Chika menunjuk Felix. 


Shea terkejut melihat Chika menunjukan jika Felix yang akan membuat kue. Ingatannya kembali pada Bryan yang pernah membuat waffle yang gosong. 


"Felix yang akan mengajari?" tanya Shea dan Chika mengangguk, sedangkan Felix tersenyum bangga. 


"Kalau Felix yang mengajari, aku mau buat rainbow cake." Selly tersenyum membayangkan rainbow cake yang pernah dia makan.


Chika dan Felix melihat ke arah Selly. Dari raut wajah Selly yang begitu yakin, kini Chika dan Shea yakin jika Felix bisa membuat kue. 


"Iya, dulu dia selalu membuat kue saat main ke rumah dan kue buatan Felix enak."


"Kenapa kamu tidak pernah membuatkan untukku?" Chika melayangkan protes pada Felix. 


"Semenjak kerja aku malas," jawab Felix tersenyum. "Sudah ayo kita mulai." Tak mau membuang waktu Felix buru-buru mengajak para ibu-ibu muda itu untuk membuat kue.


Tiga wanita itu mengikuti arahan Felix untuk membuat kue. Namun, acara membuat kue belum dimulai, dua bayi kecil sudah mulai beraksi. Mereka yang berada di dalam gendongan mommy-nya meraih tepung hingga membuat tepung berhamburan. 


Shea dan Selly hanya tersenyum polos saat membuat dapur Chika seketika  kotor. 


"Kalian juga mau buat kue?" tanya Felix. Dia justru menyiapkan satu tempat tepung dan memberikannya pada dua anak kecil yang sudah tidak bisa diam. Bagi Felix anak-anak perlu memang menganggap semua hal mainan. Jadi wajar saja. 

__ADS_1


Felix meminta asisten rumah tangga untuk menunggu dua krucil itu saat bermain, sedangkan mommy mereka asyik belajar membuat kue. 


Dua ibu muda dan satu calon ibu itu mengikuti arahan Felix. Hingga akhirnya sebuah rainbow cake buatan mereka berhasil dibuat. 


Mata ketiga wanita itu berbinar saat melihat kue yang dibuat. Mereka bisa membuat kue dengan resep toko kue terkenal milik mama Felix. 


Selesai membuat kue mereka menghampiri dua bayi yang sudah tumbuh besar di taman belakang. 


Alangkah terkejutnya saat ternyata dua bayi itu sudah jadi hantu dengan wajah putih tepung. Shea dan Selly menyesali menerima ide Felix untuk memberikan tepung agar anak mereka main. 


Karena tubuh anak-anak sudah penuh tepung, mau tidak mau akhirnya Shea dan Selly mengajak mereka pulang dan berpamitan dengan Felix dan Chika. 


Kerusuhan yang dibuat dua anak tadi itu akhirnya Felix bersihkan, mengingat asisten rumah tangga akan kewalahan. 


Di saat suaminya membersihkan sisa masak dan tepung yang dibuat main, Chika justru asyik menikmati kue buatannya. Menikmati setiap rasa manis yang tercipta.  Biasanya dia hanya suka cheesecake, tetapi setelah mencoba kue buatannya sendiri, dia menambah daftar menu kesukaannya itu. 


Felix yang sudah selesai berbenah, menghampiri Chika. Alangkah terkejut melihat Chika sudah menghabiskan seloyang kue yang dibuatnya. Dia benar-benar dibuat heran saat melihat istrinya yang hobi sekali makan semenjak hamil. 


Namun, dia merasa senang karena di saat mual, Chika masih bisa menelan makanan. Padahal Felix sering mendengar banyaknya wanita hamil yang susah makan.


"Enak?" tanya Felix seraya duduk di samping Chika.


"Emnak," jawab Chika dengan mulut penuh.


"Kunyah dulu yang benar, baru bicara." Felix menyodorkan minuman pada Chika.


"Enak," jawab Chika saat makanya sudah tertelan dengan dibantu air minum yang diberikan Felix. "Apa kamu mau mengajariku lagi membuat kue?"


"Tentu," jawab Felix, "tapi jangan jam kerja. Lagi pula Al dan El tidak ada yang menjaga."

__ADS_1


"Baiklah, nanti aku akan bilang Kak Selly dan Shea jika belajar buat kuenya hari libur."


Felix tersenyum. Melihat istrinya senang, dia juga ikut senang. Bahagia saat bisa menyenangkan istrinya.


__ADS_2