
Benar saja. Sesuai yang dikatakan oleh Felix, Chika memikirkan apa yang dikatakan Felix di restoran. Merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, memandangi langit-langit kamar, memikirkan semua yang dikatakan Felix.
"Mencintai dan menemani mencapai kesuksesan?" Mengulang pertanyaannya sendiri. Bagi Chika menemani sampai sukses adalah hal yang sangat penting dari sebuah hubungan. Akan tetapi semua berawal dari sebuah rasa cinta terlebih dahulu, sehingga bisa dengan ikhlas menemani mencapai kesuksesan.
"Cinta?" gumam Chika. Sampai detik ini perasaanya begitu sangat aneh. Ada terbesit kekaguman di hatinya. Apa lagi setelah mendengar penjelasan bagiamana Felix putus dengan mantan kekasihnya. Chika hanya bisa menggeleng karena aksi Felix.
"Kalau aku menyakitinya lagi, jadi aku wanita kelima yang menyakitinya." Chika hanya bergidik ngeri membayangkan dirinya akan menjadi orang yang begitu jahat.
Chika membalikkan tubuhnya membenamkan wajahnya di dalam bantal. Bertepatan dengan Chika yang sedang sangat frustrasi, suara ponselnya berdering. Tangannya meraih ponsel miliknya di dalam tas dengan malas.
Tubuhnya yang masih merebah langsung bangkit saat melihat nama siapa yang menghubunginya. "Kenapa dia menghubungiku saat seperti ini?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Chika saat Erix menghubunginya.
Tidak seperti biasanya, dia merasa Erix tidak pas menghubunginya, dan dia tidak siap. Padahal Chika sadar jika sudah sangat lama Erix tidak menghubunginya.
Karena merasa tidak enak, akhirnya Chika mengangkat sambungan telepon. "Hai, Erik, apa kabar?"
"Hai Chika, aku baik. Aku sudah lama sekali tidak menghubungimu." Erik tertawa dari balik sambungan telepon.
"Sepertinya kamu sama sibuknya denganku," ucap Chika. Sejak bersama Felix, dia seolah lupa menghubungi Erix. Banyak waktu yang dihabiskan bersama Felix, hingga tak ada celah untuk dirinya menghubungi Erix.
"Iya, karena di sini Rumah sakit kecil jadi aku cukup sibuk, jadi setiap pulang kerja aku langsung beristirahat," jelas Erix, "apa kamu tidak merindukan aku?" tanyanya lagi.
Chika terdiam mendapati pertanyaan Erix. Mengingat Erix saja tidak, bagaimana ada rasa rindu hadir. Sejenak pikiran Chika gelisah, merasakan apa yang dirasakannya. Kenapa tidak seantusias dulu saat Erix menghubunginya.
"Chika … " panggil Erik saat tidak ada suara sama sekali di sambungan telepon.
"Iya, aku merindukanmu, apa kamu juga merindukanku?" Akhirnya Chika melontarkan pertanyaan itu.
Erix tertawa. "Aku juga sangat merindukan kamu dan ingin sekali enam bulan ini berakhir. Oh … salah masukannya lima bulan dua minggu." Erix kembali tertawa mengingat dirinya yang salah menghitung.
"Lima bulan dua minggu?" Mengulang kembali waktu di mana Erix akan kembali dan waktu itu juga yang dia miliki untuk mengakhiri rencana pernikahannya.
"Aku pikir aku sudah lama di sini, ternyata baru dua minggu."
__ADS_1
"Dua minggu?" Chika menghitung juga. Ternyata baru dua minggu dirinya dan Felix bersama. Rasanya waktu sengaja berlama-lama, agar dua insan itu menikmatinya.
"Iya, dan aku tidak sabar menghitung hari untuk bertemu denganmu." Banyak hal yang sudah direncanakan Erix yang masih dia simpan rapat-rapat.
"Aku juga menanti akan hal itu." Suara Chika terdengar lemas. Tidak ada semangat sama sekali. Hingga Erix menduga jika Chika sudah mengantuk. Akhirnya, Erix mengakhiri sambungan telepon dan meminta Chika untuk istirahat.
Chika yang memang sedang tidak bersemangat mengiyakan dan mematikan sambungan telepon.
"Kenapa aku seperti ini? Kenapa rencanaku batal semua?" Chika mengingat rencananya untuk membuat Felix kembali pada kekasihnya. Akan tetapi, kekasih Felix tidak ada yang benar sama sekali dan Chika tidak rela jika Felix jatuh pada wanita yang tidak baik.
Semakin pusing memikirkan semua itu, Chika memilih memejamkan matanya. Kini dia pasrah pada Tuhan, akan membawanya ke mana.
***
Siang ini sebelum makan siang, Regan meminta Chika untuk ke Adion Company menyerahkan berkas pada Bryan. Dengan naik taxi, dia pergi ke kantor Bryan.
Turun dari mobil, dia melangkah masuk. Waktu menunjukan jam sebelas jadi lobi masih tampak sepi. Terus melangkah, dia sampai di depan resepsionis.
Hingga akhirnya langkahnya berhenti tepat di meja resepsionis, dia menemukan siapa wanita yang menjadi mantan kekasih Felix. Karena dari name tag yang dipakai tertera nama Natasya.
"Selamat siang, bisa saya bantu?" tanya Natasya dengan lembut.
Cantik, lebih cantik dari pada aku. Chika memuji wanita yang ada di hadapannya itu. Namun, buru-buru dia membuang jauh pujiannya ketika mengingat bagaimana wanita itu mengakhiri hubungan dengan Felix.
"Saya dari Maxton company, ingin bertemu dengan Pak Bryan." Chika menjelaskan kedatangannya.
"Baiklah, saya akan hubungi Pak Felix dulu." Natasya langsung meraih telepon dan menghubungi Felix. Memberitahu jika ada pihak dari Adion Company datang.
Sepanjang menunggu, mata Chika tak lepas memperhatikan wanita cantik Natasya. Ini rasanya dia bertanya tentang Felix, tetapi rasanya tidak etis jika dia bertanya di waktu kerja.
"Pak Felix meminta Anda untuk ke ruangan Pak Bryan." Natasya memberitahu. Chika mengangguk dan berlalu menuju ke ruangan Bryan.
Sampai di ruangan Bryan, dia sudah di sambut oleh Felix. Senyuman pria itu dari jauh mengembang sempurna, hingga membuat debaran di hati Chika begitu kencang.
__ADS_1
Astaga kenapa dia senyum seperti itu? Kenapa juga hati ini?
Sangkalan demi sangkalan atas perasaanya masih Chika gaungkan dalam hatinya. Meyakinkan jika ini hanya rasa kagum semata.
"Kenapa tidak mengatakan jika Kak Regan meminta tanda tangan Bryan, aku bisa ke sana mengambil berkasnya," ucap Felix saat Chika tepat di hadapannya.
"Tidak apa, kebetulan aku tidak banyak kerjaan hari ini." Entah kenapa senyum di wajah Chika seolah berdusta. Wajahnya itu seolah ingin membalas senyuman Felix.
"Baiklah, ayo masuk." Felix mengajak Chika untuk masuk ke dalam ruangan Bryan dan meminta tanda tangan. Chika harus menunggu Bryan membaca berkas dulu sebelum membubuhi tanda tangan di sana.
Setelah mendapat tanda tangan, Chika berpamitan. Namun, saat di luar ruangan Bryan, Felix mengajak Chika untuk makan siang sekaligus karena mengingat jam istirahat sudah tiba.
Chika tidak keberatan. Dia memilih menunggu Felix di lobi karena Felix harus merapikan meja kerjanya terlebih dahulu. Menunggu di lobi, Chika di hampiri Natasya untuk ditawari minuman, tetapi Chika menolak dan Natasya pamit kembali ke meja resepsionis.
"Natasya … " panggil Chika dan membuat langkah Natasya berhenti. Natasya menoleh menatap Chika.
"Boleh aku minta nomor teleponmu?"
Natasya sedikit heran untuk apa sekertaris Maxton Company meminta nomor telepon.
"Aku tunangan Felix."
Mendengar itu Natasya langsung memberikan nomor teleponnya dan Chika mencatat di ponselnya. Chika mengatakan jika nanti dia akan mengubungi Natasya. Entah kenapa dia ingin tahu cerita versi mantan kekasih Felix.
Chika kembali menunggu Felix, sampai akhirnya pria itu sampai di lobi dan mengajaknya untuk ke restoran dekat kantor.
.
.
.
...like, komentar, vote dan beri hadiah...
__ADS_1