
Chika yang merasakan tubuhnya sudah lebih segar bagun. Melihat jam dinding di kamar Felix, dia mendapati jika waktu menunjukan jam dua belas siang.
Menyibak selimut, dia bangkit dari tempat tidur. Keluar dari kamar, dia berniat untuk kembali ke apartemennya. Namun, langkahnya terhenti di depan kamar saat mencium aroma masakan.
Melanjutkan langkahnya, dia menuju ke dapur. Dari kejauhan, Chika melihat Felix yang sedang berperang di depan kompor. Pria itu sibuk menggoyangkan tangannya mengaduk masakan. Terlihat sangat tampan bagi Chika.
"Kamu masak apa?" tanya Chika ingin tahu.
Felix yang mendengar berbalik. "Kamu sudah bangun?"
Chika menghampiri Felix ke dapur. Dilihatnya, Felix sedang memasak sup berwarna merah. Chika merasa aneh melihat sup yang dibuat Felix.
"Kamu buat sup apa itu?" Dahi Chika berkerut dalam.
"Ini sup ayam angkak. Biasanya mamaku untuk meningkatkan daya tahan tubuh."
Chika baru mendengar jika angkak bisa dibuat masakan. Setahunya angkak hanya bisa untuk obat saja.
"Bukannya pahit?"
"Memangnya memakainya sekilo pahit," ucap Felix seraya mencubit pipi Chika karena gemas. "Pakainya hanya sejumput saja," tambahnya.
Chika yang melihat Felix mencubitnya, merona. Pria itu sudah berani menyentuhnya sekarang.
__ADS_1
"Coba cicipi?" Felix menyodorkan sendok berisikan masakan. Dia meniupnya terlebih dahulu sebelum memberikannya pada Chika.
Chika membuka mulutnya. Menerima makanan dari Felix. Dia mencicip sup yang diberikan Felix. Rasanya sup ternyata enak, walaupun tidak seenak sup biasanya.
"Kalau pahit, coba lihat aku, pasti akan berubah jadi manis." Felix tersenyum polos dengan memamerkan deretan giginya.
Chika tersenyum mendengar gombalan receh dari Felix. Tidak tahu sejak kapan pria itu mulai berani menggodanya.
"Apalagi bibirku, lebih manis." Felix mengerlingkan matanya.
"Aku tidak merasakan manis," jawab Chika polos.
"Iya, karena kamu hanya memberikan kecupan saja," jelas Felix. Tubuhnya mendekat ke arah Chika. "Manisnya akan terasa saat kamu menyesapnya." Felix bersiap mendaratkan bibirnya.
Felix mengembuskan napas kasar mendapati penolakan Chika. Padahal tadi dia sudah sangat dekat dengan bibir Chika dan tinggal sedikit lagi merasakan manisnya bibir Chika.
Dengan wajah kesal, dia melanjutkan masaknya. Memindahkan sup yang sudah matang ke mangkuk saji.
Chika yang sampai di kamarnya menjerit gemas dengan apa yang dilakukannya. Tangannya mengarahkan ke mulutnya dan mengembuskan napas. Mulutnya memang tidak bau, tetapi tadi dia malu karena tidak mau Felix menciumnya dalam keadaan baru bangun tidur.
"Ciuman yang lebih dalam harusnya dengan mulut yang wangi," gerutunya. Membayangkan aroma mulutnya yang baru bangun tidur. "Aku akan persiapkan mulut yang wangi." Chika tersenyum dan melangkah menuju ke kamarnya. Membersihkan dirinya dan membuat wangi mulutnya dengan menggosok gigi.
**
__ADS_1
Chika selesai mandi dan bersiap kembali ke apartemen Felix. Namun, sebelum melangkah keluar dari apartemen, dia mengarahkan lagi tangannya ke mulutnya. Mengembuskan napasnya dan memastikan aroma mulutnya sudah wangi.
"Sepertinya sudah wangi." Bagaimana tidak wangi jika Chika menggosok giginya tadi lima kali, terus dia berkumur dengan larutan penyegar mulut sebanyak lima kali. Jadi sudah dipastikan mulutnya sudah terasa permen mint dengan tingkat kepedasan sedang.
Saat mendapati mulutnya wangi, Chika menuju ke apartemen Felix. Masuk ke dalam dia mencari Felix yang tak tampak di area dapur atau pun di ruang tamu. Chika menduga jika Felix pasti di kamarnya.
Entah setan apa yang merasuki Chika, langkah kakinya mengarah ke tempat kamar Felix. Saat berdiri di depan pintu, dia tersadar tidak pantas jika berada di kamar pria. Buru-buru dia berbalik menunggu Felix dia ruang tamu.
Namun, belum sempat dia berbalik, Felix sudah keluar dan membuat Chika berhadapan dengan Chika.
"Kamu sudah di sini?" tanya Felix.
Embusan napas mint dari Felix sama persis dengan embusan napasnya tadi. Jadi dipikiran Chika adalah jika mulut keduanya sudah bersih.
"I-iya." Chika masih berdiri tepat di depan Felix.
Felix mendekat dan membuat Chika begitu berdebar. Kali ini dia tidak akan menolak jika sampai Felix menciumnya. Bayangan adegan film sudah terlintas di kepalanya. Kini dia akan mempraktekannya langsung apa yang dilihatnya.
Felix semakin mendekat dan membuat Chika bergetar. Benar saja Felix mendekatkan wajahnya pada Chika dan membuat Chika memejamkan mata. Menanti bibir Felix mendarat sempurna di bibirnya.
.
.
__ADS_1
.