
Hari pertama bekerja, Felix begitu senang. Tadi pagi suasana romantis begitu tercipta karena sarapan berhiaskan senyuman di wajah. Chika yang sudah banyak tersenyum memberikan energi positif padanya.
Di kantor Felix begitu bersemangat. Mengerjakan pekerjaannya dengan cepat. Berharap bisa cepat pulang dan bertemu dengan pujaan hati.
Bryan seharian juga dibuat bingung dengan sikap Felix. Namun, dia sudah menyadari jika temannya itu pasti sudah ada kemajuan dalam hubungannya dengan Chika.
Akan tetapi, kali ini Bryan dibuat tercengang saat mendapati Felix di toilet sedang gosok gigi. "Kamu sedang apa?"
"Amu isini?" Felix berbicara dengan mulut yang masih penuh dengan busa.
"Iya, aku ingin pulang, tetapi tidak melihatmu di mejamu."
Felix berkumur, membersihkan sisa busa pasta gigi di mulutnya.
"Memangnya kamu mau tidur di kantor, gosok gigi dulu." Bryan masih dibuat bingung.
"Tidur?" Felix juga ikut bingung.
"Iya, sebelum tidur gosok gigi, jadi kamu akan tidur di kantor 'kan?"
Felix baru mengerti maksud Bryan. "Enak saja!"
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu gosok gigi?"
"Aku mau bertemu Chika, jadi mulutku harus wangi."
"Apa hubungannya." Bryan memutar bola matanya.
Felix menepuk dahinya. Dia lupa menceritakan apa yang terjadi padanya. Jadi wajar saja. "Kemarin aku mau berciuman dengan Chika, tetapi dia memintaku untuk gosok gigi dulu agar wangi. Akhirnya sekarang aku gosok gigi dulu sebelum bertemu dengannya. Siapa tahu punya kesempatan berciuman aku tidak harus menunggu."
Tawa Bryan langsung pecah mendengar cerita Felix. "Makannya jangan makan sampah, jadi bau mulut!"
"Sial!" Felix melempar pasta gigi dan ditangkap oleh Bryan.
"Aku tidak bisa bayangkan, saat sedang bernafsu terus tiba-tiba harus berhenti karena harus gosok gigi." Bryan tertawa terbahak. Perutnya benar-benar sakit membayangkan hal itu.
"Apa jadinya nanti malam pertama?" Bryan kembali membayangkan sesulit apa rintangan Felix. "Sebaiknya nanti waktu malam pertama kamu mandi kembang, gosok gigi yang bersih. Jangan sampai ada noda yang tertinggal sedikitpun." Sungguh Bryan dapat hiburan sore ini.
Felix memutar bola matanya malas. Namun, dia membenarkan ucapan Bryan kalau dia pasti akan memastikan semua bersih sebelum menjamah Chika. Tidak mau sampai kegiatannya berhenti di tengah jalan.
"Sudah aku mau pulang." Bryan melempar pasta gigi pada Felix dan meninggalkan temannya itu. "Sebaiknya kamu beli penyegar mulut saja, dari pada harus sikat gigi," ucap Bryan sebelum benar-benar pergi.
Felix mendengus kesal. Dia juga sudah tahu jika harus memakai penyegar mulut. Namun, karena di kantor, dia memilih untuk menggosok gigi saja.
__ADS_1
Astaga aku harus kemana-kemana membawa penyegar mulut. Felix menepuk dahinya karena tidak sekarang dia punya kegiatan baru.
**
"Maaf tadi aku terlambat," ucap Felix saat Chika masuk ke dalam mobilnya.
"Tidak apa-apa, tadi juga ada yang masih aku kerjakan." Chika tersenyum seraya memakai seatbelt-nya.
Felix kembali melajukan mobilnya. Membelah kemacetan yang sudah menjadi hal biasa di jam pulang kantor.
"Tadi mama mengabari jika minggu ini dia ada di rumah, apa kamu mau ke sana?" tanya Felix memecah keheningan di dalam mobil.
"Tentu saja aku mau." Chika menatap Felix dengan senang. Membayangkan akan bertemu dengan calon mertuanya. Namun, perlahan senyumnya surut. "Seperti apa mamamu?" Ada ketakutan di hatinya membayangkan mama Felix. Kemarin dia melihat hanya sebentar dan tidak terlalu fokus jadi tidak bisa menyimpulkan seperti apa mama Felix.
"Kenapa kamu takut?" Tangan kiri Felix meraih tangan Chika, menggenggamnya erat.
"Iya, waktu acara lamaran aku belum sempat mengobrol jadi aku tidak tahu seperti apa mamamu."
"Mama tidak beda jauh dari aku. Jadi jika kamu nyaman denganku, aku yakin kamu akan nyaman juga dengan mama." Felix memberikan keyakinan jika mamanya menerima Chika dengan baik.
Chika tersenyum. Berharap mama Felix akan seperti Felix yang selalu membuatnya nyaman. Jika benar, dia tidak akan kesulitan untuk beradaptasi.
__ADS_1
Felix mendaratkan satu kecupan di punggung tangan Chika. Merasakan senang saat tunangannya begitu antusias bertemu mamanya.