
Felix menenangkan El. Dia mengayunkan tubuh El, mendekatkan pada Chika seakan-akan bersiap akan mencium Chika. Apa yang dilakukan oleh Felix membuat El tertawa. Tawa bayi kecil itu sangat riang, hingga menular pada Felix dan Chika.
Suasana di kamar seketika menjadi sangat ramai diisi dengan tawa dari Felix, Chika dan El yang begitu tampak senang.
"Apa anak seumur El boleh di taruh di bahu?" tanya Felix pada Chika.
Chika memikirkan, yang ingin dilakukan Felix itu terlalu bahaya, bisa jadi jika mereka salah memegang, El bisa jadi jatuh. "Jangan, itu terlalu berbahaya," ucapnya menatap Felix seraya memegangi pipi gembul El.
"Iya juga, kalau sampai terjadi apa-apa dengan El, aku bisa dibunuh Bryan." Felix bergidik ngeri membayangkan, jika sampai anak satu-satunya Bryan dan Shea itu sampai terluka.
"Bagaimana jika naik di punggungmu saja, aku akan memeganginya. Tidak terlalu tinggi dan aku yakin lebih aman." Chika memberikan ide pada Felix.
Menimbang ide Chika, Felix akhirnya setuju. Paling tidak hal itu dapat membuat kedekatan dirinya dan Chika. Menyerahkan El pada Chika, Felix beralih ke posisi merangkak dan membiarkan El naik di atas.
Benar saja, El tertawa saat naik di punggung Felix. Apalagi saat Felix mulai merangkak, tawa bayi kecil itu semakin riang. Merangkak mengelilingi kamar, Felix terus membuat El bersenang-senang.
Chika ikut tertawa saat Felix dengan pasrah berkeliling. Sebenarnya tadi dia tidak sungguh-sungguh memberi ide, tetapi ternyata Felix menerimanya. Apalagi El yang tampak senang, sehingga Chika merasa tidak menyesal memberikan ide.
"Ayo, terus uncle Felix," seru Chika meminta Felix terus merangkak. Tangan Chika memegang tubuh El yang bergerak terus. Bayi kecil yang kesenangan itu bergerak hingga membuat Chika kewalahan.
Felix terus merangkak, membuat bayi kecil itu seakan naik kuda. Mengelilingi kamar berputar berkali-kali.
Saat Felix sudah mulai lelah, mereka menghentikan aksi main kuda-kudaan di kamar. Kali ini El yang main kuda-kudaan di kamar bukan dua orang dewasa yang menemaninya.
Chika mengangkat tubuh El dan memindahkannya ke tempat tidur. Chika menganti baju El yang basah karena air liurnya akibat tertawa membasahi bajunya. Kemudian memberikan susu, karena pasti bayi kecil itu sangat haus.
Dari posisi merangkak, Felix menegakkan tubuhnya. Memijat punggungnya, berharap meredakan pegalnya. Namun, saat memegangi punggungnya, Felix merasakan basah di bajunya.
"Apa El mengompol?" tanya Felix menatap Chika dengan wajah yang terkejut.
"Itu bukan ompol, hanya air liur," jawab Chika. Tangannya mulai membuka baju El dan menggantinya.
Felix bergidik ngeri membayangkan tubuhnya terkena air liur. Buru-buru dia ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Chika yang melihat Felix buru-buru mandi tertawa. Dia berbicara pada El menceritakan apa yang terjadi pada Felix.
Selesai mandi, Felix keluar. Karena tidak membawa baju ke dalam kamar mandi, dia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk yang dipakai untuk menutupi tubuhnya bagian bawah.
"Felix," teriak Chika. Tubuhnya yang merebah langsung bersembunyi di tubuh El.
__ADS_1
"Maaf, aku lupa membawa baju." Felix melangkah menuju ke lemari untuk segera memakai bajunya.
Wajah Chika yang berada di perut El, justru membuat bayi kecil itu tertawa. Dia mengira Chika sedang menggelitiknya. Kaki kecilnya menendang dan justru membuat Chika akhirnya mundurkan tubuhnya agar memberikan ruang untuk El.
Saat tubuhnya menjauh, Chika melirik sedikit ke arah Felix. Ternyata Felix tidak mengganti bajunya di kamar mandi dan justru di depan lemari pakaian.
Bagian tubuh Felix tidak terlihat, tetapi saat menaikan celana dan melepas handuk, dia melihat paha Felix. Buru-buru Chika membuang pandangan ke arah lain.
Kenapa juga aku melirik ke sana.
Chika merutuki kesalahannya yang melirik Felix dan membuat matanya ternoda dengan melihat tubuh Felix.
Felix yang sudah selesai, kembali merebahkan tubuhnya, menyusul Chika dan El yang bermain di atas tempat tidur. "Kamu membuatku mandi ya," ucap Felix mendaratkan kecupan di pipi El.
"Kira-kira jam berapa Bryan dan Shea menjemput El?" Chika mengingat jika tadi Shea mengatakan jika mereka akan menjemput anaknya. Jadi Felix dan Chika tidak perlu mengantar.
"Iya, tetapi mereka belum tahu jam berapa mereka akan menjemput." Felix memegangi tangan El yang sedang memukulkan ke wajahnya pelan. Bayi kecil itu suka sekali memukuli wajah karena gemas.
Chika yang ikut gemas justru ikut membantu El untuk memukul wajah Felix, hingga Felix mengadu. Suara Felix itu justru membuat tawa El. Chika semakin tertawa saat melihat El tertawa. Tawa cantik yang begitu lepas.
Tangan Felix memegangi tangan Chika yang berada di pipinya. Bertumpuk dengan tangan El yang menempel di pipinya.
"Aku mencintaimu." Tangannya merasakan lembut tangan Chika dan ini untuk pertama kalinya. Matanya menatap lekat wanita yang begitu dicintainya itu.
Tatapan dan kata cinta membuat Chika lemas tak berdaya. Hatinya goyah saat dihadapkan dengan pria yang mencintainya dan tanpa henti berusaha.
Pipinya menghangat dan menyemburkan rona merah. Hingga membuatnya salah tingkah. "Apa kamu tidak malu mengatakan cinta di hadapan anak kecil?" tanyanya mengelak dan menarik tangannya.
"Apa itu artinya jika tidak di hadapan El, aku boleh melakukannya?"
Sebenarnya bukan itu juga yang diharapkan oleh Chika. Kalau pun sampai Felix mengatakan cinta, entah jawaban apa yang dia akan berikan.
Suara bel apartemen menyelamatkan Chika dan membuatnya tidak harus menjawab pertanyaan Felix.
Felix akhirnya bangkit dari tempat tidur, karena ingin tahu siapa yang datang. Keluar dari kamar menuju ke pintu.
"Kenapa kalian sudah datang?" tanya Felix pertama kali melihat Shea dan Bryan. Baru sekitar lima jam anak mereka bersama Felix, tetapi temannya itu sudah datang.
__ADS_1
"Apa enam jam kamu belum dapat apa-apa? Aku lima jam sudah dapat berkali-kali," ucap Bryan malas.
"Sayang … " panggil Shea yang merona malu. Dia kemudian beralih pada Felix. "Maaf, Bryan dari tadi meminta kemari." Baru kali ini Bryan tidak tenang saat El bersama dengan orang lain. Biasanya dia betah dan justru memanfaatkan waktu bersama istrinya.
"Anakmu masih utuh, dan aku rasa dia akan ketagihan ikut bersamaku. Mungkin juga dia akan lupa jika kamu daddy-nya." Felix menggoda temannya itu. Sebenarnya dia tidak masalah El diambil, mengingat sudah cukup waktu yang dipakai untuk membuat Chika terpesona dengannya.
Bryan menatap kesal pada Felix. "Aku akan segera membawa anakku pulang sebelum kamu buat dia lupa siapa aku." Bryan masuk ke dalam apartemen begitu saja dan melewati Felix.
Felix menatap Shea dan ibu satu anak itu menaikan bahunya. Suaminya memang sedikit cemburu karena anaknya memang sangat suka dengan Felix.
Felix melebarkan pintu dan meminta Shea untuk masuk ke dalam apartemen. Kemudian mengambil El di kamar. Memberikan pada orang tuanya.
"Terima kasih jagoan kecil," ucap Felix pada El. Bayi kecil itu ingin meraih wajah Felix, tetapi Felix menempelkan telapak tangannya memberikan tos kemenangan.
"Terima kasih juga sudah menjaga, maaf merepotkan," ucap Shea basa-basi.
"Tidak masalah, jika butuh bantuan katakan saja." Felix tersenyum penuh arti pada Shea.
"Tentu," jawab Shea.
Bryan hanya mendengus kesal. Masih belum rela anaknya sampai dekat dengan pria lain. "Cepatlah menikah dan buatlah anak sendiri," ucapnya.
Kalimat Bryan membuat Chika terkesiap. Menelan salivanya membayangkan anak dengan Felix.
"Sudah-sudah, ayo pulang." Shea menarik tubuh Bryan saat melihat wajah terkejut Chika. "Kami pulang dulu." Shea berpamitan pada Felix dan Chika.
Seusai keluarga kecil itu pulang, Felix menutup pintunya. Kalimat Bryan membuat canggung Chika, dan itu sangat Felix rasakan.
"Mau makan di luar?" tanya Felix mengalihkan pembicaraan dan mencairkan suasana.
"Boleh," jawab Chika diiringi anggukan.
.
.
Bersambung
__ADS_1
...Jangan lupa like, koment, vote dan beri hadiah. ...