Wedding Project

Wedding Project
Mencari Felix


__ADS_3

Chika sampai di klub. Suara dentuman musik terdengar menggema di dalam ruangan gelap yang hanya terdapat sinar dari lampu disko. 


Melangkah masuk ke dalam, dia mengedarkan pandangan, mencari Felix yang mungkin saja di sana. 


Saat melangkah sendiri, beberapa orang terlihat menggoda Chika. Namun, dia terus saja melangkah mencari Felix. 


Langkah Chika terhenti saat ponselnya berdering. Mengecek ponselnya, dia melihat jika Felix menghubunginya. "Halo Felix." 


"Halo Chika. Kamu di mana?" Felix mendengar suara musik terdengar. 


"Iya, kamu di mana?"


"Halo Chika suaramu tidak jelas." 


"Halo Felix kamu di mana?" 


Felix yang tidak jelas mendengar suara Chika mematikan sambungan telepon. "Sial dia di klub." Dia bergegas pergi dari kafe dan menuju ke klub yang kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh. 


Chika merasa aneh dengan Felix karena pria itu justru tidak menjawab pertanyaannya. Kembali melangkah, Chika mencari Felix. "Tapi tadi dia sepertinya tidak ada suara musik, apa jangan-jangan dia tidak ada di sini?" Chika menebak-nebak di mana Felix berada. 


Karena ragu Felix berada di klub, akhirnya Chika memilih untuk pergi dari tempat itu. Tak mau sampai terjadi apa-apa jika Felix benar-benar tidak ada di klub.


Chika melangkah buru-buru menuju pintu keluar. Namun, langkahnya terhenti saat seorang pria berdiri menghalanginya. "Mau ke mana Nona, sepertinya kamu mencari seseorang, apa itu aku?" 


"Maaf, aku harus pulang, karena orang yang aku cari tidak ada di sini." Chika melangkah melewati sisi kanan tubuh pria itu, tetapi sayangnya pria itu menghalangi kembali langkah Chika. 


"Jika yang kamu cari tidak ada, kalau begitu bisa bersamaku saja." 


Chika semakin takut dengan ucapan pria di hadapannya. Aroma alkohol yang tercium menandakan pria itu sedang mabuk, dan sudah bisa Chika pastikan jika dia pasti akan macam-macam. 

__ADS_1


"Permisi Tuan, saya mau pulang."


"Ayolah, masih ada aku jadi kenapa harus buru-buru pulang." Tangan pria itu berusaha untuk menyentuh pipi Chika.


Namun, tangan kekar mencekalnya. "Jangan berani-berani menyentuhnya!"


Chika yang mendengar suara langsung menoleh. Walaupun gelap dan tidak terlalu terlihat wajahnya, dia tahu jika itu adalah suara Felix. 


"Oh dia wanitamu, baiklah." Pria itu menarik tangannya dan pergi meninggalkan Felix. Tak mau bertengkar dengan orang di klub. 


Felix yang melihat pria itu pergi, langsung menarik tangan Chika dan membawanya ke mobil. Sepanjang perjalanan ke mobil Felix diam saja. Tidak berbicara sama sekali. Membuka pintu dia meminta Chika untuk masuk ke dalam mobil. Kemudian dia masuk juga setelahnya. 


"Apa kamu tidak sadar sangat bahaya ke klub sendiri?" Akhirnya setelah bungkam. dia membuka suaranya. Felix meninggikan suaranya, merasa kesal saat mendapati Chika ada di klub.  


"Kamu juga kenapa tadi teleponku tidak diangkat?" Chika tak mau kalah juga meninggikan suaranya.


Felix terdiam. Tadi dia sedang ada urusan jadi tidak mengangkat sambungan telepon dari Chika. Saat urusannya selesai dia justru mendapati Chika di klub. Untung tadi jarak kafe tempatnya berada tidak jauh. 


"Aku mencarimu ke apartemen, tetapi kamu tidak ada. Jadi akhirnya aku kemari." 


"Memangnya kamu pikir aku ada di sini?" 


"Iya, ke mana lagi pikiranku tertuju jika bukan ke sini. Dalam keadaan kamu butuh waktu sendiri pasti kamu akan minum." Chika membuang wajahnya melihat ke sisi luar. 


Felix tersenyum. "Bukannya aku sudah bilang aku sudah berhenti."


"Siapa tahu kamu ingin minum lagi?" Chika masih memandang keluar, tak mau melihat Felix sama sekali.


"Bicaralah dengan menghadap kemari." Tangan Felix meraih dagu Chika untuk membuat tunangannya itu melihatnya. 

__ADS_1


Chika yang melihat Felix merasa kesal. Dia mengingat bagaimana tadi dia seperti orang bodoh mencari Felix. "Kamu jahat sekali, tidak mengangkat telepon dariku." Dia memukul tubuh Felix. 


Mendapati pukulan, Felix membiarkan begitu saja. Membiarkan Chika melampiaskan kekesalannya. Saat Chika sudah mulai berhenti, dia memeluk Chika. "Maaf, tadi aku sedang ada urusan."


Tadinya Chika tidak mau menangis, tetapi mendapati maaf dari Felix, air matanya menetes. "Aku tidak mau kamu ke klub!"


"Memang aku tidak ke klub 'kan." Felix mencoba membela diri. 


"Dengar dan turuti perintah aku!"


"Baiklah, aku akan turuti." Felix tak mau berdebat. Dia memilih diam, tetapi cukup lama dia tidak mendengar suara Chika. "Kamu tidur?" tanyanya. 


Satu pukulan melayang ke dada felix. "Apa kamu tidak lihat aku menangis?"


"Suaranya tidak terdengar jadi aku pikir kamu tidur." Felix tertawa dan mengeratkan pelukannya. Kali ini Chika mencubit Felix karena kesal, dan membuat Felix mengaduh. 


Felix melepaskan pelukannya dan melihat wajah Chika. Tangannya menghapus air mata yang masih menetes. "Jangan menangis, aku merasa bersalah jika kamu menangis."


"Memang kamu salah!" 


"Iya aku salah, maaf." Felix menatap lekat wajah Chika. "Kita pulang sudah malam." Felix mengakhiri perdebatan mereka dan melajukan mobilnya. 


.


.


.


...Sebentar lagi mau tamat ya, yuk kasih hadiah perpisahan buat mereka. Kasih bunga buat mereka🥰...

__ADS_1


...Setelah ini aku aku akan lanjut MPD...


...jangan lupa follow Instagram aku, biar tahu kapan up ya...


__ADS_2