
"Apa rencana pernikahanmu sudah selesai?" tanya Bryan. Dia memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Makan siang kali ini dia tidak pulang karena pekerjaannya cukup banyak jadi dia memilih untuk makan di kantor dengan Felix.
"Hampir semua rampung."
"Apa sesulit itu menyiapkan pernikahan?" Bryan tersenyum. Dia memang tidak menyiapkan pernikahan layaknya Felix. Dulu dia hanya datang dan menerima. Semua urusan dekor dan segalanya diurus Regan dan Selly.
"Lumayan menguras tenaga, tetapi keseruannya akan sebanding."
"Yang terpenting cepatlah buat anak," goda Bryan.
"Tanpa kamu suruh pun aku sudah berangkat sendiri."
"Buatlah anak perempuan, agar kelak aku bisa menjodohkannya dengan El."
"Siapa mau berbesan denganmu?" tanya Felix dengan nada kesal.
Bryan tertawa melihat temannya kesal. "Kalau kamu tidak mau berbesan denganku lalu kamu mau berbesan dengan siapa?"
"Lebih baik aku berbesan dengan Kak Regan dan Kak Selly."
Dahi Bryan berkerut dalam. "Kenapa dengan mereka?"
__ADS_1
"Al akan jadi anak tunggal pewaris Maxton Company dan mempunyai saham di Adion Company 25%. Jadi akan sekaya apa Al. Jika anakku menikah dengan Al, aku yakin hidupnya akan aman."
Mata Bryan membulat sempurna. Tidak menyangka temannya itu matre. "Dasar!" Bryan melempar kertas pulpen, tetapi sayangnya tidak kena.
Felix tergelak mendengar kekesalan Bryan. "Ayolah, kamu yang mulai."
Bryan memutar bola matanya malas. Kelak memang Al akan lebih kaya dari pada anaknya. Belum lagi jika Shea hamil dan bertambah anak. Sudah di pastikan jika saham miliknya harus dibagi-bagi.
Sepertinya aku harus bekerja keras saat anak-anakku kelak. Bryan menertawakan dirinya sendiri membayangkan kekayaannya akan dibagi banyak anaknya.
"Kelak kita akan jadi orang tua yang bijak. Membiarkan anak-anak memilih ke mana cinta mereka akan berlabuh."
"Kamu benar." Bryan tersenyum.
"Masih dibahas juga," kesal Bryan dan mendapatkan tawa Felix.
Tawa mereka mengisi keheningan ruangan Bryan. Membayangkan hal yang jauh di sana kapan terjadi.
**
"Apa kamu sudah pulang, Sayang?" tanya Felix dari sambungan telepon. Dia mengayunkan langkahnya menuju ke lobi kantor.
__ADS_1
"Sudah, ini aku sudah di mobil dengan Papa."
Felix lega saat mendengar Chika sudah dijemput. "Baiklah, aku sedang akan pulang juga, nanti setelah sampai di apartemen aku akan menghubungimu."
"Baiklah, hati-hati di jalan."
"Iya." Felix mematikan sambungan teleponnya dan melanjutkan langkahnya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita yang dia kenal. Jantungnya berdetak kencang saat itu juga. Orang yang sudah sekian tahun dia tidak lihat sekarang berada di depannya.
"Hai," sapanya dengan lembut dan tersenyum. "Bisakah kita bicara sebentar?"
"Baiklah." Felix hanya berharap ini bukan keputusan yang salah saat menerima untuk bertemu dengan wanita yang menjadi kekasihnya dulu.
Aluna-mantan kekasih Felix atau mungkin lebih tepatnya wanita yang menjadi kekasih pertamanya. Wanita yang meniggalkan Felix begitu saja waktu itu. Tanpa memberikan kabar apa pun.
Dengan mobil masing-masing, mereka menuju ke restoran.
Di salah satu sudut restoran, mereka berdua duduk saling berhadapan. Masih terasa dingin karena tidak ada pembicaraan. Memesan dua cangkir kopi, mereka menikmati minuman yang tersaji.
"Apa kabar?"
Suara lembut yang tak pernah berubah terdengar begitu menghipnotis Felix. "Aku baik."
__ADS_1
"Aku dengar kamu akan menikah."
Felix yang sedang menempelkan cangkir kopinya, menghentikan gerakannya. Sedikit terkejut dengan apa yang didengarnya. Sejauh ini, wanita itu pergi dan kembali hanya untuk menanyakan akan hal itu. "Dari mana kamu tahu?"