Wedding Project

Wedding Project
Hanya Kelelahan


__ADS_3

Dahi Felix berkerut dalam mendapati pertanyaan dari Regan. Ini pertanyaan yang sama saat Shea-sekertaris Regan yang sekarang menjadi istri Bryan, pingsan.


Felix berdecak kesal. Dia tidak habis pikir bisa-bisanya Regan melayangkan tuduhan itu. "Aku tidak menghamilinya, dan dia tidak benar-benar tinggal di apartemen denganku. Kami tinggal bersebelahan," elaknya.


Regan masih menelisik ke dalam bola mata Felix. Memastikan jika asisten Bryan itu tidak berbohong.


Melihat Regan yang masih terus menatapnya, bisa dia artikan jika Regan tidak percaya. "Dia hanya kelelahan." Felix mencoba menjelaskan kondisi Chika.


Sebenarnya Regan tidak percaya, tetapi dia berusaha percaya karena dia tahu jika Felix masih jauh lebih baik dari pada Bryan, walaupun sekarang Bryan sudah banyak berubah.


Akhirnya Regan kembali pada stir mobilnya untuk membawa Chika ke Rumah sakit. "Memangnya kenapa dia bisa lelah?" Sambil melajukan mobilnya Regan kembali bertanya.


"Semalam dia bersamaku ke klub." Dengan polosnya Felix menjawab pertanyaan Regan.


Regan kembali menginjak pedal rem saat mendengar jawab Felix. Dia kemudian kembali menoleh ke belakang. "Kamu mengajaknya ke klub?" Mata Regan menatap tajam pada Felix.


"Aku —"


"Pria seperti apa dirimu yang membawa wanita baik-baik ke klub?" potong Regan. Dia benar-benar tidak habis pikir bagaimana Felix bisa membawa Chika ke klub.


Felix semakin kesal dengan Regan. Kakak ipar Bryan itu tidak memberikan kesempatan untuk berbicara sama sekali, dan justru menuduhnya berkali-kali.


Belum sempat Felix menjawab Chika tersadar. Dia meringis kesakitan merasakan kepalanya yang berdenyut.


"Lihatlah, Kak Regan yang terus berbicara justru membuatnya tersadar!" Felix balas menatap Regan tajam. Karena terlalu banyak mengajaknya berdebat justru membuat Chika sadar sebelum sampai Rumah sakit.


"Bagus, kita tidak perlu membawanya ke Rumah sakit." Regan tak mau kalah dan menjawab ucapan Felix.


Chika yang memijat kepalanya merasa bingung dengan perdebatan yang terjadi antara Regan Felix. Kemudian dia bangkit dari pangkuan Felix dan menegakkan tubuhnya.


Felix membantu Chika untuk menegakkan tubuhnya dan menyandarkan di kursi penumpang, sedangkan Regan mengawasi Felix agar tidak berbuat apa-apa.


Saat sedang sibuk dengan Chika, suara kaca mobil terdengar diketuk. Felix dan Regan menoleh dan mendapati Bryan di sana.


"Kenapa?" tanya Regan sesaat setelah membuka kaca mobil.

__ADS_1


Bryan membungkukkan tubuhnya dan memasukan kepalanya ke dalam mobil sedikit melalui kaca pintu mobil yang terbuka. "Apa kalian mau bunuh diri, berkali-kali mengerem secara mendadak?" tanyanya kesal.


Mobil Bryan yang tepat dibelakang mobil Regan harus ikut mengerem karena mobil di depannya berhenti. Untungnya Bryan bisa mengontrol laju mobilnya, kalau tidak mobilnya pasti akan menabrak mobil Regan.


"Kak Regan saja yang panik." Felix menjawab kekesalan Bryan dengan sindiran pada Regan.


"Bagaimana bisa aku tidak panik? Chika pingsan secara mendadak, dan kamu menjelaskan karena dia kelelahan ke klub semalam." Regan masih dengan pikirannya yang menganggap apa yang dilakukan Felix salah.


"Kamu mengajak Chika ke klub?" Bryan bertanya dan langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia merasa salut dengan Felix bisa membawa wanita baik-baik ke klub.


Chika yang memerhatikan tiga pria saling berdebat benar-benar dibuat pusing. Dia bingung dengan apa yang didengarnya. Namanya dan klub disebut-sebut dan membuatnya tidak mengerti yang sedang dibahas tiga pria itu. "Aku pusing," keluhnya.


Felix yang mendengar suara Chika beralih menatap Chika. Tunangannya itu terlihat sangat pucat dan memegangi kepalanya terus menerus.


Felix tidak tega melihat Chika yang tampak kesakitan. "Sebaiknya kita ke dokter saja. Nanti aku akan jelaskan," ucap Felix beralih menatap Regan.


Regan tak mau berlama-lama apalagi melihat kondisi Chika yang tampak pucat. "Ya sudah, ayo kita lanjutkan ke Rumah sakit." Dia kembali menyalakan mobilnya.


Bryan kembali ke dalam mobilnya dan mengikuti Regan ke Rumah sakit. Sebenarnya dia penasaran bagaimana bisa Felix mengajak Chika ke klub?


Sampai di Rumah sakit, Felix membantu Chika ke UGD, memeriksakan keadaan Chika, sedangkan Bryan dan Regan menunggu di luar ruang UGD.


"Apa yang sebenarnya dilakukan Felix pada Chika." Regan benar-benar penasaran. Dia pun melayangkan pertanyaan pada Bryan.


"Mana aku tahu." Bryan menjawab dengan menaikan bahunya. Dia memang benar-benar tidak tahu apa yang terjadi.


"Jangan sampai saja Felix menghamili Chika." Regan berdecak kesal membayangkan akan hal itu.


Mendengar kakak iparnya, Bryan langsung tertawa. "Sepertinya Kakak benar-benar trauma."


Regan memutar bola matanya malas. Yang dikatakan Bryan memang ada benarnya. Kalau Chika hamil bisa jadi ini akan jadi kedua kalinya sekretarisnya hamil di luar nikah.


"Sebaiknya dari sekarang Kak Regan mencari sekretaris pria saja. Jadi tidak akan ada lagi Shea berikutnya," ucap Bryan tertawa.


"Apa kamu lupa jika kamulah pelakunya. Harusnya aku menjauhkan orang-orang Adion dari pada mengganti sekretaris baru." Suara Regan penuh sindiran mampu membuat Bryan tutup mulut.

__ADS_1


"Jangan begitu, aku sudah bertanggung jawab." Bryan sedikit takut jika sampai kakak iparnya itu tidak mau bekerja sama dengannya. Kerja sama dengan Regan adalah amanat dari sang papa yang harus dia jaga.


Sebenarnya Regan tidak benar-benar mengatakan akan hal itu dari hati. Namun, melihat reaksi Bryan, dia bisa menjamin jika Bryan pasti akan sangat berhati-hati ke depan.


"Nanti aku aku bilang Felix untuk tidak menghamili Chika," rayu Bryan pada kakak iparnya.


"Aku pegang janjimu!" Suara Regan terdengar penuh dengan nada ancaman dan mampu membuat Bryan bergidik ngeri.


Felix dan Chika keluar dari ruang UGD. Dokter hanya meminta Chika untuk istirahat di rumah, karena Chika hanya kelelahan dan kurang darah akibat kurang tidur.


Keluar dadi UGD, Felix mengajak Bryan dan Regan pulang. Regan dan Bryan pun ikut mengantar Chika. Mereka belum mendapatkan penjelasan dari Felix, jadi mereka memilih untuk ikut Felix. Masih dengan posisi semula, Regan, Felix dan Chika berada di dalam satu mobil, sedangkan Bryan berada di mobilnya sendiri.


Sampai di apartemen, Felix mengantarkan Chika ke kamarnya. Sebelumnya ke kamar, Chika meminta maaf karena merepotkan. Merasa tidak enak karena dia yang pingsan harus diantar oleh dua CEO perusahaan besar.


Bryan dan Regan tidak mempermasalahkannya, lagipula mereka tidak keberatan. Regan juga langsung memberikan izin Chika beberapa hari untuk istirahat.


"Terima kasih," ucap Chika pada Felix. Matanya menatap Felix dengan lekat. Merasa bersalah karena sudah membuat pria di hadapannya itu harus repot.


"Tidak apa-apa." Felix menyerahkan minuman dan obat pada Chika. Kemudian Chika meminumnya dan berharap akan membuatnya lebih baik.


"Sekarang kamu istirahat saja." Felix menarik selimut Chika dan memintanya untuk segera istirahat.


Chika memejamkan matanya. Tubuhnya memang masih terasa lemas. Jadi dalam hitungan detik, dia sudah terpejam.


Melihat Chika yang sudah tertidur, Felix keluar dari kamar. Kini dia harus berhadapan dengan CEO perusahan besar untuk menjelaskan semuanya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2