Wedding Project

Wedding Project
Terima Kasih


__ADS_3

Selesai pulang dari berbelanja, Felix dan Chika kembali ke rumah keluarga Maxton. Selly masuk lebih dulu, sedangkan Regan mengambil barang belanjaan. 


Bersama dengan Felix, Regan mencari mana belanjaan Selly dan mana punya Chika. Setelah mendapatkan punya Selly, Regan masuk terlebih dahulu.


"Ini," ucap Felix memberikan paper bag pada Chika. 


Dahi Chika berkerut dalam karena dia menerima empat paper bag. Padahal jelas-jelas tadi dia hanya punya satu paper bag yang berisi baju yang dibeli.


"Punyaku hanya satu," elaknya.


"Yang tiga, aku yang belikan." Felix tersenyum. 


"Tapi-" Chika merasa tidak enak saat dibelikan sesuatu oleh seorang pria. 


"Aku tidak akan meminta bayaran dari apa yang sudah aku belikan. Ini tulus dari hatiku karena aku kamu senang." 


Chika terdiam. Sebenarnya dia ragu, tetapi melihat ketulusan Felix, Chika tidak enak jika menolak.


"Barang sudah dibeli, akan sangat disayangkan jika tidak diterima." Felix kembali menyakinkan Chika. 


"Terima kasih." Tangan Chika meraih tiga paper bag yang dibawa oleh Felix. Tak ada alasan untuk menolak kebaikan Felix. Jadi akhirnya dia memilih untuk menerima. 


Felix tersenyum, Chika mau menerima apa yang sudah dibelinya. Tadi dia memang mengandalkan Shea untuk membelikan semua yang diinginkan oleh Chika. 


Felix dan Chika masuk ke dalam rumah. Mereka menuju kamar untuk beristirahat sejenak karena nanti malam akan ada pesta. 


Chika yang sampai di kamar membuka paper bag yang diberikan Felix. Satu paper bag berisi lima baju yang dibelinya tadi. Kemudian dia mengambil satu paper bag dan ternyata itu berisi tas yang dilihatnya tadi. Tas dengan harga lima puluh juta itu tidak jadi Chika beli karena tidak ada uang sebegitu banyak, tetapi sekarang Felix membelikannya untuknya. 


"Kenapa dia membeli tas semahal ini?" gumamnya, tidak habis pikir dengan Felix. 


Tangan Chika meraih satu paper bag yang ternyata berisi sepatu. Dia ingat betul jika sepatu itu yang dilihatnya tadi. Walaupun sempat ingin membeli Chika urung membelinya karena berfikir ulang. 


Segera membuka paper bag yang satunya, Chika ingin melihat apa isinya. Ternyata ada beberapa gaun yang tadi sempat dipilihkan Selly untuknya. 

__ADS_1


Chika menduga, pasti Felix meminta tolong pada Shea ataupun Selly. Karena sepanjang berbelanja Felix tidak bersamanya. Hanya dua wanita itu saja yang bersamanya. 


"Mendapat perhatianmu seperti ini membuatku meleleh," gumam Chika. Senyum tertarik di sudut bibir Chika. Dia sulit menggambarkan bagaimana baiknya Felix. 


Chika bersiap untuk membersihkan diri. Menyiapkan diri untuk pesta yang akan di adakan di rumah yang ditempati.  Chika yang  sudah bersiap, ikut bergabung dengan yang lain di taman belakang. Sudah ada keluarga Regan dan Felix di sana. Si bayi kecil Al juga ada di sana. 


Beberapa saat keluarga Bryan datang dan pesta dimulai. Suasana semakin ramai saat dua anak kecil bergumam dan menimbulkan tawa. 


"Semoga ke depan kita bisa membangun kembali kerja sama dengan baik dan kembali membangun apartemen-apartemen di tempat lain." Regan yang mengangkat minumannya mengajak keluarganya untuk bersulang. 


Semua mengangkat gelas dan mengamini apa yang diharapkan oleh Regan. 


Suasana semakin semarak dengan alunan musik. Beberapa dari mereka bernyanyi untuk mengisi acara yang berlangsung. 


Chika yang baru saja keluar dari toilet berpapasan dengan Felix. Chika tersenyum melihat Felix. Detak jantung yang mulai berdetak lebih kencang membuatnya bingung. 


"Ayo ikut aku, akan aku tunjukan sesuatu." Felix meraih tangan Chika dan mengajak Chika ke suatu tempat. 


Di samping rumah Regan ada sebuah rumah kecil dengan dinding berhiaskan kaca. Beberapa bunga terlihat dari luar dan terlihat cantik. Chika mendua itu taman bunga. 


"Indah sekali." Chika terpesona karena bulan yang berada di kolam seolah di hiasi bunga-bunga di sekitar. 


"Kak Regan tadi memberitahuku tempat ini." Felix menatap Chika tersenyum. Tadi siang dia sudah diberitahu jika pemandangan akan tampak indah saat malam hari, dan ternyata benar. Pemandangan pantulan bulan terlihat sangat indah. 


Chika tersenyum. Namun, sejenak diingat yang ingin dikatakan pada Felix. "Felix, terima kasih untuk semua yang kamu berikan untukku tadi." 


Felix yang melihat bulan beralih pada Chika. "Apa kamu senang?" tanyanya dan mendapatkan anggukan dari Chika. 


"Aku senang jika kamu senang."


Pandangan mereka saling mengunci. Perlahan Felix mendekatkan tubuhnya. Matanya tertuju pada bibir merona milik Chika. 


Memiringkan kepalanya, dia menjangkau bibir Chika. Chika yang mendapati jarak Felix yang dekat memejamkan matanya.

__ADS_1


Saat bibir hanya berjarak beberapa inci saja, tiba-tiba Felix menghentikan aksinya. "Maaf," ucapnya.  Kemudian dia menegakkan tubuhnya. 


Chika membuka mata. Terlihat yang tidak jadi menciumnya. "Apa karena persyaratan yang aku minta?" tanyanya lirih.


"Aku tidak mau kehilangan dirimu hanya karena aku lupa akan janjiku." 


Chika tak habis pikir. Di saat bibir tinggal sedikit lagi menyatu, pria di hadapannya itu menghentikan karena tidak ingin menyentuhnya. 


"Tidak berlaku jika aku yang mencium bukan?" tanya Chika seraya mendaratkan bibirnya di bibir Felix. Entah keberanian dari mana Chika mendaratkan kecupan di bibir Felix. Hanya sebuah kecupan dan berlangsung hanya dalam hitungan detik. 


Felix yang melihat gerakan Chika terdiam. Dia terkejut dengan apa yang dilakukan Chika secara tiba-tiba.


Chika yang melepas kecupannya, merona malu. "Aku kembali ke dalam duluan," ucapnya berlalu meninggalkan Felix. 


Felix sudah seperti orang bodoh yang diam seperti patung. Dia menciumku? tanyanya pada dirinya sendiri. 


Tangannya menyentuh bibir di mana Chika mendaratkan bibirnya. Masih terasa hangat pertemuan dua bibir yang hanya sebentar itu. 


Harusnya tadi aku memperdalam menjadi ciuman! gerutunya dalam hati mendapati kebodohannya.  


Lain kali tidak akan aku sia-siakan kesempatan seperti tadi.


Walaupun merutuki kesalahannya, tetapi dia amat senang karena pertama kali Chika menciumnya. 


Itu artinya dia sudah membuka hati


Satu hal yang membuat Felix senang adalah bukan hanya sekedar mendapatkan kecupan, tetapi kecupan itu tanda jika Chika sudah mulai ada perasaan dengannya.


"Kamu sedang apa di sini?" Suara Bryan terdengar saat Felix melamun memikirkan Chika. 


Felix tersadar dari pikirannya saat mendengar suara Bryan. "Tidak apa-apa." Dia keluar dari ruangan dan menghampiri Bryan. 


"Kamu tidak kerasukan 'kan?" Bryan berhati-hati saat Felix mendekat. 

__ADS_1


"Iya, aku kerasukan hantu cinta." Felix mendekap tubuh Bryan dan mengunci pergerakannya. 


Bryan berusaha untuk melepaskan diri. Dua pria itu asik saling bercanda di tengah malam. Saat dapat melepaskan diri, Bryan lari ke acara pesta dan dikejar oleh Felix. Dua pria dewasa itu justru membuat ramai susana malam dengan candaan mereka. 


__ADS_2