Wedding Project

Wedding Project
Persiapan Chika


__ADS_3

Dua minggu berlalu dengan cepat. Tepat hari ini Felix dan Chika akan melangsungkan pernikahan. Pagi-pagi sekali, keluarga Chika sudah pergi ke hotel tempat di mana di adakan pesta. Felix sudah menyiapkan satu tempat untuk Chika bersiap. Gaun yang sudah disiapkan pun juga sudah siap untuk dibawa. Dibantu papa dan mamanya, Chika membawa barang-barang keperluannya ke hotel.


Di kamar hotel Chika bersiap. Ditangan penata rias, wajah Chika dirias. Beberapa produk make up dipakai untuk merias wajah Chika. Mengubah wajah Chika menjadi lebih cantik dari biasanya.


Dari tampilan cermin, Chika melihat wajahnya tampak berbeda. Sampai-sampai dia tak mengenali wajahnya.


"Anak mama cantik sekali." Ella masuk ke dalam kamar untuk melihat Chika yang sedang berdandan. Bersama Elia, dia menghampiri Chika. 


"Kakak tidak menyangka sekarang adikku sudah akan menikah."  Elia tersenyum melihat ke arah cermin. Terlihat adiknya begitu cantik. Matanya berkaca-kaca melihat  adiknya.


"Kakak …" Chika melihat kakaknya dari pantulan cermin. Ikut sedih dengan ucapan kakaknya. 


"Jangan membuat adikmu menangis dan membuat riasannya luntur." Ella mendekat pada Chika. Meletakkan kepalanya di bahu Chika. Melihat anaknya dari pantulan cermin.


Tadi dia meminta anaknya pertamanya untuk tidak membuat Chika menangis. Namun, Ella sendiri menangis. Membuat Chika itu berkaca-kaca.


"Ma … " panggil Chika agar mamanya tidak menangis. Dia tahu tangisan mamanya adalah tangis bahagia. Namun, tetap saja membuatnya merasa sangat sedih. 

__ADS_1


"Iya, Mama tidak akan menangis." Ella menghapus air matanya tak mau membuat anaknya bersedih. "Mama hanya senang saja karena anak mama akan menikah dan bahagia. 


Chika membalikkan tubuhnya melihat mamanya. "Terima kasih sudah membesarkan aku dan mengantarkan aku sampai ke pelaminan. Mungkin aku tidak bisa membalas mama dan papa.


"Mama tidak perlu balasan. Hiduplah bahagia dengan suamimu, maka itu adalah balasan yang pas untuk mama dan papa." Tangan Ella membelai wajah Chika. 


"Aku akan hidup bahagia." Chika memaksakan senyumnya di sela-sela matanya yang masih berkaca-kaca. Menahan air mata menyapu riasan yang sudah susah payah penata rias berikan padanya. 


Chika kembali bersiap, kini tinggal dia memakai gaun yang sudah dia siapkan kemarin. Terlihat begitu cantik saat Chika memakainya. Hingga mama dan kakaknya benar-benar terpukau. 


"Wah … pengantinnya cantik sekali." Shea yang menghampiri Chika. Melihat temannya yang tampak cantik, membuat Chika begitu senang. 


"Terima kasih, tetapi aku tidak punya banyak uang untuk membayar pujian dari istri CEO." Chika tersenyum. 


Shea memeluk Chika. "Tak usah dibayar dengan uang. Dibayar dengan kebahagiaanmu sudah cukup untukku."


"Terima kasih sudah membantu Felix." Chika merasa tanpa Shea yang memaksa untuk melamar mungkin hari ini tak akan pernah terjadi. 

__ADS_1


"Mungkin Felix bukan pria sempurna yang ada. Namun, aku yakin dia akan menyempurnakan hidupnya untukmu." 


Chika mengangguk. 


"Sudah-sudah, apa aku tidak akan di kasih ruang untuk memeluk." Selly yang melihat dua sahabat saling memeluk tak mau kalah ikut memeluk. 


"Kemari, kita bisa berpelukan bersama-sama." Shea menarik tubuh Selly dan mengajaknya saling berpelukan. 


Selly merasa senang. Semenjak mengenal Shea dan Chika mereka merasa sangat senang. Dua wanita itu sudah menjadi adik yang selalu menemani hari-harinya. 


"Ke mana Al dan El?" Chika yang melihat dua ibu muda melenggang tanpa anak mereka, bertanya.


"Mereka dengan daddy-nya." 


"Pantas, kalian santai-santai."


Shea dan Selly saling pandang dan tertawa. Suasana di kamar Chika semakin riuh dengan suara Shea dan Selly. Mereka menenangkan Chika yang tampak gugup menjelang pernikahan. 

__ADS_1


__ADS_2