
Chika yang selesai mengobrol dengan mama Felix, berkeliling rumah, melihat suasana rumah yang asri sambil menunjukan kamar yang akan ditempati Chika nanti malam.
"Kenapa kamu tidak bilang waktu itu jika mamamu pemilik toko kue tempat aku biasa beli?" Chika mengingat waktu menjaga El, Felix memesan kue.
"Untuk apa? Tidak terlalu penting 'kan?"
"Iya juga."
Langkah mereka berhenti di depan sebuah kamar. Felix memberitahu jika itu adalah kamar Chika dan kamarnya berada tepat di samping kamarnya. Karena Felix menjelaskan kamarnya di sebelah kamar Felix, Chika justru tertarik melihat kamar Felix.
Chika masuk ke dalam kamar, melihat kamar yang tampak rapi walaupun tidak di huni. Beberapa foto berjajar rapi.
Mata Chika tertarik dengan satu foto yang tampak lucu. "Umur berapa kamu ini?" Tangannya meraih foto yang terpajang di meja.
"Mungkin sekitar lima tahun."
Chika tersenyum, membayangkan anak-anaknya akan sama gemasnya dengan Felix.
"Kenapa tersenyum." Felix yang berada di belakang Chika, memeluk. Ikut melihat apa yang dilihat Chika.
"Aku hanya membayangkan anak kita akan lucu."
__ADS_1
Mendengar Chika membahas anak, pikiran Felix jauh memikirkan cara membuat anak. Dia lebih tertarik caranya dibanding hasilnya. "Apa kamu sudah siap untuk membuat anak?" Felix membalikan tubuh Chika dan bertanya.
Chika terkejut dengan apa yang dikatakan Felix. Kemudian memukul dadanya. "Kenapa tanya prosesnya?" Pipi Chika merona mendengar akan hal itu.
"Untuk membuat hasil yang baik, prosesnya juga harus dipikirkan." Felix senang sekali menggoda Chika. Merasa sangat senang melihat pipi merona.
"Kita akan membahas nanti setelah menikah, bukan sekarang."
"Sayang sekali." Felix menatap Chika dengan lekat. Hingga membuat mereka saling memandang. Perlahan, mereka saling mendekat. Ingin merasakan manisnya bibir keduanya. Sepertinya mereka punya kegiatan baru yang begitu mengasyikan.
Namun, belum sempat bibir mereka bertemu, pintu terbuka. Liana yang melihat anaknya akan berciuman, terkejut.
Felix yang memeluk Chika seketika langsung melepaskan pelukannya. Menjauhkan tubuhnya dari Chika.
"Ma, tadi bukan seperti itu." Chika mencoba membela diri.
"Ya sudah, Mama tinggal urus saja, percepat pernikahannya," ucap Felix.
Chika membulatkan matanya mendengar Felix yang setuju untuk mempercepat pernikahan.
"Ya sudah nanti kita ke rumah Chika untuk membicarakan." Liana keluar dari kamar, tetapi dia berbalik kembali. "Ayo makan, jangan terlalu lama di kamar," ajak Liana tersenyum. Dia juga pernah muda. Jadi mengerti sekali perasaan menggebu mereka yang sedang berpacaran. Liana keluar dan kembali meninggalkan Felix dan Chika.
__ADS_1
"Kenapa bilang mau mempercepat," ucap Chika seraya memukul Felix.
"Iya, mama bertanya, aku hanya menjawab."
"Tapi—"
"Apa kamu tidak mau mempercepat pernikahan kita?" Felix mencekal tangan Chika yang sedari tadi memukuli dadanya. Memandang Chika yang tampak kesal.
"Bukan begitu, aku …." Chika bingung harus menjelaskan seperti apa. Acara yang mendadak sepertinya dia belum siap.
"Aku tidak akan memaksa jika memang kamu tidak mau." Felix yang merasa Chika belum siap tidak mau memaksakan. "Kita akan rencanakan sesuai dengan rencana awal." Tangan Felix membelai lembut Chika.
"Berikan waktu aku. Jika memang aku sudah siap, tidak masalah jika
dipercepat." Chika meyakinkan Felix yang sebenarnya tampak kecewa.
"Seluruh waktuku akan aku berikan jika memang kamu membutuhkannya."
Chika selalu saja tak bisa berkata apa-apa jika Felix sudah mengeluarkan kata-kata yang membuat hatinya meleleh.
"Ayo makan, nanti mama lihat kita masih di kamar, dia akan menikahkan kita hari ini juga." Felix tertawa dan menarik tangan Chika lembut. Membawanya ke meja makan.
__ADS_1
Di meja makan sudah tampak Liana menunggu. Senyumnya sudah mengembang menyambut anak dan calon menantunya. Liana ingat betul bagaimana wajah Chika waktu Felix melamarnya. Jelas sekali tidak suka. Namun, gadis itu sekarang sudah sangat dekat dengan Felix, dan itu menandakan jika memang dia menyukai Felix.
Mama senang, kamu menikah dengan orang yang kamu cintai.