Wedding Project

Wedding Project
Pinjamkan El


__ADS_3

Mata Felix dan Chika saling mengunci. Hingga akhirnya Chika menyadari apa yang sedang dilakukannya. "Maaf," ucapnya.


"Tidak apa-apa." Felix bak dapat durian runtuh. Tubuh Chika yang jatuh tepat di atasnya membuat dua gundukan milik Chika menempel sempurna di dadanya. Jika dulu waktu naik motor dia merasakan di punggungnya, kini dia merasakan di dadanya.


Chika berusaha untuk bangkit. Namun, seperti yang terjadi pada Shea yang terpleset karena lantai es licin, membuat tubuhnya jatuh kembali di atas tubuh Felix.


Felix kembali merasakan dua gundukan itu menghantam dadanya. Membuatnya merasakan benda kenyal itu menempel sempurna. Kecelakaan jatuh ini benar-benar menguntungkan dirinya. Namun, semua itu sirna saat Chika berusaha untuk bangkit kembali.


Chika benar-benar malu dengan apa yang dilakukannya. Namun, mau dikata apa jika memang hal itu sudah terjadi. Dia merasakan jelas dadanya yang menempel di dada Felix, dan pasti Felix merasakannya.


Chika yang sudah bangun akhirnya membuat Felix ikut bangun juga. Berdiri dan kembali bermain ice skating.


Bryan dan Shea juga melakukan hal yang sama. Mereka melanjutkan bermain ice skating. Kali ini Bryan lebih berhati-hati karena tidak mau membuat istrinya jatuh dan kesal.


Chika dalam kecanggungan setelah terjatuh. Namun, dia berusaha untuk tetap seperti biasa. Melanjutkan kembali bermain ice skating.


Sejam berlalu Chika dan Shea sudah mulai bisa menyeimbangkan tubuhnya. Mereka sudah mulai bisa pelan-pelan meluncur sendiri. Dua wanita itu begitu sangat senang saat bisa bersama-sama bermain ice skating sambil bergandengan tangan.


Felix dan Bryan sedikit bernapas lega karena sudah tidak repot mengajari. Mereka memilih menepi dan menunggu dua wanita bermain.


"Bagaimana rasanya?" Suara Bryan terdengar menggoda Felix. Dia mengingat bagaimana tadi dia tubuh Chika jatuh di atas tubuh Felix, seperti Shea yang terjatuh.


Felix mengerti kemana arah pembicaraan Bryan. Apalagi jika buka tentang dua gunung yang menabraknya tadi. "Masih segel, belum disentuh jadi wajar saja lebih kenyal."


Bryan memutar ingatannya mengingat bagaimana pertama kali menyentuh istrinya. "Merasakan tapi tidak bisa menyentuh sungguh menyiksa," ucap Bryan kembali menggoda Felix.


Mendengar temannya terus menggodanya Felix mendengus kesal. Andai waktu pernikahan dia bisa percepat, mungkin saja dia dapat segera menyentuh Chika. Namun, sayangnya Chika meminta waktu enam bulan.


"Apa tongkat ajaib milikmu itu nanti akan berfungsi jika terlalu lama tidak dipakai." Bryan benar-benar puas sekali meledek Felix. Jika dulu dia yang jadi bahan ledekan, kali ini dia bisa membalasnya.


"Kamu kasihan pada tongkat ajaibku?" tanya Felix pada Bryan. Senyuman manis tertarik di sudut bibirnya. Menyiratkan senyuman penuh arti.


Melihat temanya yang tersenyum, Bryan menaruh curiga. Dia menebak pasti ada yang akan dimintanya. "Apa yang bisa aku bantu?" Sebagai teman, sudah sangat hapal apa yang dibutuhkan.


Felix semakin melebarkan senyumnya. Dia senang Bryan mengerti apa maskudnya. "Pinjamkan El besok."


Mata Bryan membulat sempurna. Ternyata temannya itu ingin mengunakan anaknya untuk kepentingannya.


"Aku akan menjaganya dengan seluruh hidupku. Aku akan kembalikan putramu dengan utuh tanpa kekurangan sedikit apapun." Felix menatap Bryan penuh harap. Dengan membawa El, dia ingin Chika melihat bagaimana dia bisa menjadi seorang ayah yang baik.

__ADS_1


"Tidak!" Bryan menolak dengan tegas. Dia tidak mau mengorbankan anaknya untuk temannya itu.


"Kalau begitu aku akan meminta pada Shea saja."


Bryan terkesiap. Meminta dengan Shea, sudah bisa Bryan pastikan jika istrinya itu akan mengizinkannya, mengingat tempo hari istrinya mengizinkan.


"Lagipula, kamu bisa menghabiskan waktu berdua dan membuat adik lagi untuk El." Felix mencoba memprovokasi Bryan. Kelemahan Bryan sudah bisa dibacanya.


Bryan menimbang-nimbang ucapan Felix. Dia menatap Felix memastikan jika anaknya akan aman dengan temannya. "Baiklah." Akhirnya Bryan menerima tawaran Felix.


"Sepakat." Felix mengulurkan tangan pada Bryan.


"Sepakat." Bryan menerima uluran tangan Felix.


Semoga nanti kalau kamu besar tidak marah dengan Daddy El. Menjadikan kamu alat untuk mendekatkan Paman Felix.


"Ternyata seru juga main ice skating." Suara Shea terdengar saat menghampiri Bryan dan Felix.


"Sudah puas?" tanya Bryan dan mendapati jawaban anggukan dari Shea.


Akhirnya mereka berempat mengakhiri pemainan ice skating. Felix pulang dengan mengendarai motornya, sedangkan Bryan dan Shea pulang dengan mengendari mobilnya.


Felix menekan bel apartemen Chika karena sejak pulang dan masuk ke dalam apartemen, Chika tidak ke apartemennya. Niatnya menemui juga untuk menanyakan menu makan malam.


Chika membuka pintu dan mempersilakan Felix ke dalam apartemen. Saat masuk, Felix melihat minyak pijat di atas meja.


"Kamu kenapa?" Felix melihat tubuh Chika dari atas ke bawah memastikan apa yang sakit. Saat melihat kaki Chika yang biru, Felix menyadari jika tunangannya keseleo.


Berjongkok, Felix menjangkau kaki Chika. Tangannya mengecek seberapa besar warna biru yang menghiasi kulit putih Chika. Satu pekikan Chika membuat Felix menghentikan aksinya.


"Sakit?" tanya Felix menengadah melihat Chika yang berdiri di depannya.


"Iya." Chika menjawab dengan disertai anggukan. Dia menahan rasa sakitnya saat Felix memegangnya.


"Ayo, aku akan pijat." Felix berdiri dan menarik tangan Chika menuju ke sofa. Duduk bersebelahan, Felix menarik kaki Chika dan membawanya ke atas pahanya.


Chika hanya pasrah saja dengan apa yang dilakukan Felix. Dia melihat jelas wajah panik Felix saat melihat kakinya terluka. Sejenak dia melupakan persyaratan yang dia berikan pada Felix dan mengizinkan Felix untuk memijitnya.


Dengan lembut Felix memijat kaki Chika. Pekikan Chika terdengar saat kaki terasa sangat sakit, hingga membuat Felix menghentikan gerakan tangannya.

__ADS_1


"Apa ini jatuh tadi?" tanya Felix memastikan.


"Aku tidak tahu jatuh yang mana, karena sewaktu dengan Shea, aku juga jatuh."


Dengan sepatu skating memang harus benar-benar seimbang, jika tidak memang bisa membuat cedera. "Kalau tahu sakit kenapa masih memaksakan main." Tangan Felix memulai memijat lembut pergelangan kaki Chika.


"Tadi tidak terasa sakit. Baru terasa saat di rumah."


Felix tidak bisa menyalahkan. Memang biasa seperti itu, tidak terasa saat itu juga dan akan terasa saat beberapa jam. Dengan lembut Felix terus memijat. Berharap jika kaki Chika akan segera sembuh setelah ini.


"Dari mana kamu belajar pijat?" Mata Chika fokus melihat tangan Felix yang dengan lihai memijit.


"Mama yang mengajari aku."


Mendengar Felix membahas mamanya, Chika teringat wanita paruh baya yang datang bersama Felix melamarnya.


"Aku belum mengenal mamamu." Sewaktu lamaran, Chika hanya berkenalan sekilas saja dan belum sempat berkenalan lebih dalam.


"Kamu mau mengenalnya?"


"Jika kamu mengizinkan."


Felix tersenyum. Melihat Chika yang mau berkenalan dengan mamanya, seolah membuka jalan lebih lebar untuk hubungannya.


"Kita akan ke sana minggu depan."


Dahi Chika berkerut dalam, merasa bingung kenapa harus minggu depan saat besok pun sebenarnya bisa. "Kenapa minggu depan?"


"Karena besok Bryan dan Shea menitipkan El pada kita."


Chika heran karena Shea tidak mengatakan apa-apa padanya tadi. Namun, dia tidak mempermasalahkan akan hal itu. Mengingat Felix sudah sangat dekat dengan El.


.


.


.


...Like, koment, vote dan berikan hadiah ya...

__ADS_1


__ADS_2