
Semua rencana Felix dan Chika berantakan. Rencananya sabtu ke rumah Mama Felix batal karena sang Mama pergi ke luar kota, untuk mengecek toko kue miliknya. Rencana untuk bertemu dengan Nadia juga batal karena Chika tiba-tiba diminta pulang ke rumah oleh papa dan mamanya, akhirnya pertemuan dengan Nadia diundur sampai besok minggu.
Diantar oleh Felix, Chika pulang ke rumahnya. Saat sampai, dia sudah disambut oleh kedua orang tuanya yang.
"Apa kamu sudah lupa rumah?" tanya Aland saat bertemu dengan putrinya.
"Pa … " rengek Chika seraya memeluk. Dua minggu tinggal di apartemen dan selama itu dua kali liburannya digunakan untuk pergi bermain ice skating.
"Sudah mau menikah masih saja kamu manja," goda Aland.
Chika hanya memasang wajah malasnya mendengar godaan papanya. Dia kemudian beralih pada mamanya dan memeluknya.
Felix yang masih dibelakang Chika, menyalami calon mertuanya.
"Apa kabar?" tanya Aland.
"Baik, Pa." Sejak diminta memanggil papa, Felix akhirnya menurut.
Chika yang melihat kedekatan papanya dan Felix hanya bisa menggeleng pelan. Kedekatan mereka membuat Chika harus merelakan semua keinginannya melepaskan rencana-rencana membatalkan pernikahan.
Semua masuk ke dalam rumah. Mengajak Felix dan Chika ke meja makan. Ella sudah menyiapkan makan siang untuk menyambut kedatangan anak dan calon menantunya.
"Jika aku disambut bak putri seperti ini aku senang sekali pulang sebulan sekali," ucap Chika seraya melihat makanan yang disediakan mamanya. Dia menarik kursi karena sudah tidak sabar makan semua makanan yang disediakan khusus untuknya.
Aland dan Ella tersenyum mendengar ucapan anaknya. Anak bungsunya itu masih seperti anak kecil dan belum banyak berubuah.
"Kamu harus bersabar menghadapi anak kecil," ucap Aland pada Felix.
Bibir Chika mencebik karena mendengar godaan papanya.
Hal itu membuat Felix tersenyum. "Aku akan akan bersabar, Pa." Dia menatap Chika penuh arti. Selama ini memang Felix cukup bersabar dengan apa yang dilakukan oleh Chika. Contohnya, bagaimana Chika menemui Natasya, sebenarnya dia cukup kesal saat tahu apa yang dilakukan Chika, tetapi saat mendengar kalimat yang diucapkan Chika membuatnya senang. Secara tidak langsung kalimat itu mengatakan jika dia akan menerimanya.
Chika semakin kesal saat Felix. Namun, dia menyadari Felix memang sangat bersabar dengannya. Beberapa kali dia berulah, tetapi Felix dengan tenang menerima.
Mereka semua memulai makan siang sambil berbincang-bincang. Membahas rencana pernikahan Felix dan Chika. Papa Felix meminta untuk menyiapkan gedung untuk acara pernikahan dan semua keperluan dari sekarang, agar semua aman di hari pernikahan tiba.
__ADS_1
Chika yang mendengar apa yang diucapkan papanya hanya bisa mengangguk. Sebenarnya sudah tidak ada alasan untuknya lari lagi dari pernikahan. Felix sudah sangat baik. Banyak hal yang sudah dilihatnya, tetapi entah kenapa masih ada keraguan dalam hati Chika atau mungkin dirinya saja yang sampai detik ini belum menyadari seberapa besar rasa cintanya.
Selesai makan Felix mengobrol dengan Aland di ruang keluarga, sedangkan Chika ke kamarnya untuk mengambil beberapa barang miliknya.
Melihat anaknya pergi ke kamar, Ella menyusulnya. Dia ingin berbicara dengan anak bungsunya itu. Saat masuk ke dalam kamar, tampak Chika sedang mengambil beberapa barang dan memasukan ke dalam tas yang diletakan di atas tempat tidur.
"Apa dia menyentuhmu?" tanya Ella seraya duduk di atas tempat tidur.
Tangan Chika yang sedang memasukan barang melihat ke arah mamanya. Terlihat wajah cemas di wajah sang mama. "Dia tidak melakukan apa-apa padaku, Ma."
Ella menghembuskan napasnya. Lega mendengar akan hal itu, tetapi tak membuatnya langsung percaya. "Benar dia tidak menyentuhmu?" Pertanyaan yang sama masih terlontar dari mulutnya.
Chika duduk tepat di samping Ella. Menggenggam tangan mamanya. Menatap lekat wanita yang sudah melahirkannya 24 tahun silam itu.
"Dia pria yang baik yang tersesat seperti apa yang dikatakan papa," ucap Chika tersenyum. Istilah yang diberikan papanya memang ada benarnya. Karena terkadang manusia sedikit tersesat saat mencari jalan dalam hidupnya. "Dia tak pernah menyentuhku sama sekali, Ma." Chika menekankan kalimatnya agar mamanya mengerti jika benar adanya Felix tidak menyentuhnya.
Kelegaan Ella semakin terasa, mendengar penjelasan putrinya. Paling tidak putrinya aman. Kadang dia masih suka berdebat dengan suaminya karena memilih Felix, tetapi keyakinan suaminya begitu besar.
"Apa kamu mencintainya?" Ella tahu jika suaminya memaksakan kehendaknya. Sebagai orang tua yang tahu bagaimana anak muda, dia mengerti jika pastinya anaknya ingin menikah dengan pilihan hatinya.
Mencintai? Kata itu menggema di pikiran Chika. Dulu dengan lantangnya mengatakan jika dia mencintai Erik, tetapi belakangan ini, saat berbicara dengan Erik, semua terasa hambar.
Ella tertawa kecil mendengar pertanyaan putrinya. "Hatimu akan selalu senang saat bersamanya."
Aku merasakan akan hal itu saat bersama Erik dan Felix.
"Ada perasaan berdebar saat bersamanya."
Bersama Erik tak ada perasaan itu. Apa karena aku terlalu sering bersamanya? tanya Chika dalam hatinya.
Bersama Felix aku selalu berdebar-debar, apa jangan-jangan ….
Chika menggelengkan kepalanya, mencoba mengelak semuanya.
"Kamu sudah mencintai Felix?" tanya Ella tersenyum melihat putrinya menggeleng.
__ADS_1
"Tidak, Ma," elak Chika.
"Pahami lebih dalam perasaanmu." Ella membelai lembut pipi Chika. Dia tahu ada perasaan cinta di dalam hati anaknya.
Chika terdiam. Memikirkan apa yang dikatakan oleh mamanya, memahami hatinya yang sekarang entah nama siapa yang ada.
Ella meminta Chika untuk melanjutkan mengambil barang-barang dan memintanya segera bergabung di ruang keluarga.
***
Puas berbincang dengan mama dan papanya, akhirnya Chika memilih untuk kembali ke apartemen. Namun, sepanjang perjalanan dia memikirkan apa yang dikatakan oleh mamanya. Memahami perasaanya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Felix yang melihat Chika diam saja sepanjang perjalanan pulang.
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Tanyalah." Felix tersenyum
"Apa yang menjadi alasanmu melakukan hubungan suami istri sebelum menikah?" Ingin rasanya Chika tahu alasan sebenarnya.
"Pernah dengan cinta dan nafsu itu berbeda tipis?" tanya Felix dan mendapatkan anggukan dari Chika. "Mungkin aku berada di persimpangan itu, tak bisa membedakan mana cinta dan mana nafsu."
"Kalau sekali itu tidak bisa membedakan, tapi kamu berberkali-kali," cibir Chika.
"Aku tahu," ucap Felix tersenyum seraya menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.
"Terkadang aku terbawa suasana."
Chika mendengus kesal dengan jawaban Felix. Namun, tidak bisa disalahkan juga karena memang bersama dengan perkembangan jaman, anak muda menganggap hal seperti itu, hal biasa. Tinggal bagaimana kita menguatkan iman masing-masing.
"Aku tahu aku salah. Karena itu aku ingin berubah. Akan tetapi, jika yang bersamaku juga sama seperti aku. Aku yakin tidak akan ada kata berubah, karena aku pasti akan tergoda." Felix tersenyum polos pada Chika.
Sejenak Chika teringat dengan aksinya menggoda. Beruntunglah tak terjadi apa-apa karena ulahnya itu. Kalau sampai iya, dirinya sendiri yang rugi.
"Jadi jangan menggodaku lagi," ucap Felix tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Wajah Chika merona. Malu sekali ketahuan jika semua yang dilakukannya memang sengaja. Namun, semuanya tak ada yang berhasil.
Sepertinya dia berusaha keras untuk berubah.