Wedding Project

Wedding Project
Bekal


__ADS_3

Pagi ini Chika menyiapkan sarapan. Sambil menunggu Felix, dia mengecek ponselnya. Entah kebetulan atau tidak, nada pesan masuk terdengar. Melihat pesan, Chika melihat dan mendapati pesan berasal dari mamanya. Beliau meminta Chika untuk pulang. 


"Selamat pagi?" sapa Felix saat melangkah menghampiri Chika. 


"Pagi." Chika yang sedang melihat ponselnya beralih. Kemudian meletakkan ponselnya ke atas meja makan dan melanjutkan menyiapkan sandwich untuk mereka sarapan. 


Felix dengan tenang menunggu Chika sambil melihat pesan di ponselnya. Mengecek beberapa email yang masuk. 


Chika membawa dua sandwich dan meletakkan di atas meja. Memulai sarapan pagi bersama tunangannya yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. 


"Oh ya … tadi mama mengatakan jika aku harus pulang." Sebelum mengigit sandwich miliknya dia melihat mengatakan apa makna pesan dari mamanya yang tadi dia terima tadi.


Felix menghentikan kunyahannya  dan melihat ke arah Chika. "Kapan?"


"Sore nanti aku akan pulang." 


"Kenapa tiba-tiba? Pernikahan kita masih dua minggu." Felix sedikit tidak terima. Berpikir pasti sangat berat tidak bertemu dengan Chika. 

__ADS_1


"Kata mama pengantin tidak boleh bertemu menjelang pernikahan." 


Felix pernah mendengar jika pengganti tidak boleh bertemu menjelang pernikahan. Namun, baginya terlalu lama jika dia tidak bertemu dengan Chika selama dua minggu. 


"Aku tahu, tetapi dua minggu itu sangat lama." Tampaknya Felix sudah sangat tergantung dengan Chika yang selalu berada di sisinya. 


"Tidak masalah bukan? Biarkan kita saling merindukan." Chika tersenyum menggoda. 


"Kamu pergi bekerja saja aku sudah rindu!" jawab Felix kesal. "Apalagi dua minggu."


Chika tersenyum. Merasa lucu pagi-pagi calon suaminya kesal. "Aku rasa akan jadi sangat menggemaskan saat kita bertemu di pelaminan." Dia masih terus berusaha meyakinkan Felix. 


Chika yang sudah selesai makan berdiri. Dia melangkah menuju ke dapur merapikan sisa makanan. 


Kembali ke apartemennya untuk mengambil tas, dia melewati Felix yang masih duduk menikmati kopinya. Langkahnya terhenti di samping Felix. Membungkukkan tubuhnya sedikit dan berbisik,  "Akan lebih seru bukan saat malam pertama dengan segudang rindu." Menggoda tunangannya begitu mengasikkan. Melanjutkan niatnya, dia melangkah kembali. 


Namun, baru saja satu langkah kakinya dia ayunkan. Tangan Felix menariknya dan membuatnya terjatuh di atas pangkuan Felix. "Sejak kapan kamu berani menggodaku?" Setahu Felix, Chika termasuk pendiam. Namun, belakangan ini memang tunangannya sedikit berbeda. Dia lebih berani dan menggodanya terang-terangan. 

__ADS_1


Chika tertawa. "Aku tidak menggoda," elaknya. 


"Apa kamu tidak takut aku tiba-tiba membawamu ke kamar." 


"Ke kamar untuk tidur?" tanyanya, "sayangnya ini sudah pagi jika kamu mengajakku kembali tidur." 


"Kamu!" Felix yang gemas langsung mendaratkan ciumannya. Melupakan janjinya yang mengatakan tidak akan mencium bibir Chika. 


Chika yang sudah mulai terbiasa membalas ciuman Felix. Beberapa kali melakukannya, cukup membuatnya tahu bagaimana cara mencari kenikmatan itu. 


Tangan Felix yang diam saja, mulai bergerak merengkuh tubuh Chika, tetapi belum sampai ke pinggang, tangannya berhenti di perut. Perlahan, tangannya mulai naik, mencari kegiatan yang harusnya menjadi pegangannya. 


Chika yang tahu ke mana arah tangan Felix, mencengkram lembut. Membawanya untuk merengkuh pinggangnya. Hal itu membuat Felix tersenyum tipis, mengerti jika tunangannya tak mau berlebihan. 


"Itu untuk bekal dua minggu," ucap Chika tersenyum setelah melepas pertemuan bibir itu. 


Felix tersenyum. Entah rindu seperti apa yang akan melandaku, jika semakin hari kamu semakin menggemaskan. "Baiklah, aku akan sabar menunggumu bertemu dua minggu. Semoga bekalnya cukup." Dia melepaskan pelukannya dan membiarkan Chika untuk mengambil tasnya. 

__ADS_1


Melihat Chika pergi Felix senyum Felix belum surut dari wajahnya. Dia tak sabar memiliki Chika seutuhnya. Aku akan sabar menunggumu. 


__ADS_2