
Suara bel apartemen membuat Chika buru-buru untuk membuka pintu. Tepat pintu dibuka, dua wanita cantik dengan menggendong balita, berdiri di depan pintu.
"Halo." Suara Selly yang riang menyapa Chika. Dia langsung menautkan pipi pada Chika.
"Senang sekali kalian mau datang," ucap Chika seraya menerima tautan pipi Selly. Kemudian beralih pada Shea yang berdiri di samping Selly.
"Iya, kami sengaja datang untuk menemanimu." Shea tersenyum menggoda temannya.
"Astaga, bagaimana aku harus berterima kasih jika istri CEO yang datang," ucap Chika menyelipkan tawa. Tangannya melebarkan pintu, memberi ruang Shea dan Selly untuk masuk ke dalam apartemen.
"Cepatlah sembuh, agar kita bisa bersama-sama bersenang-senang." Selly menjawab sambil melangkah masuk ke dalam apartemen.
Di belakang Shea dan Selly ada supir yang mendorong stroller dan membawa beberapa kantung makanan. Selly meminta untuk meletakan kantung berisi makanan di atas meja.
"Kalau tamunya seperti kalian, aku akan berhemat banyak." Chika tersenyum melihat apa yang dibawa Shea dan Selly. Dua wanita itu membawa buah dan beberapa makanan.
Shea dan Selly tersenyum. Mereka berdua menidurkan Al dan El di dalam stroller. Dua bayi itu tadi tertidur saat mommy-nya berjalan menuju ke apartemen Chika.
"Sakit apa kamu?" Selesai menidurkan anaknya, Shea duduk di sofa berseberangan dengan Chika.
"Aku hanya kelelahan karena kurang tidur."
Mata Shea memicing mendengar jawaban Chika. Pikirannya melayang kemana-kemana, mengingat jika Chika tinggal dekat dengan Felix. "Felix tidak melakukan apa-apa padamu 'kan?" tanyanya.
"Tidak-tidak, dia tidak melakukan apa-apa padaku." Chika menjawab seraya menggelengkan kepalanya.
"Lalu kamu kurang tidur kenapa?" Selly yang ikut bergabung duduk di samping Shea, ikut juga menimpali pembicaraan Shea dan Chika.
"Aku ke klub dengan Felix dan akhirnya membuat aku kurang tidur."
"Apa?" pekik Shea dan Selly. Sesaat kemudian mereka menutup mulut mereka karena takut suara mereka menganggu dua bayi yang sedang tertidur pulas.
"Felix mengajakmu ke klub?" Shea merendahkan intonasi suara agar tidak menganggu anaknya. Dia memajukan tubuhnya menatap dengan penuh rasa penasaran. Tangannya juga mengepal mengetahui Felix mengajak Chika ke klub.
"Bukan Felix yang mengajak aku, tetapi aku yang sengaja ingin ke sana." Chika mencoba menjelaskan pada Shea dan Selly.
__ADS_1
"Kamu?" Shea dan Selly saling memandang. Mereka merasa heran kenapa bisa Chika yang mengajak.
"Iya, aku ingin mengenal Felix."
Shea menerawang ke dalam bola mata Chika. Mencari kebenaran atas apa yang diucapkan oleh Chika. "Apa mengenal Felix harus ke klub?" Pertanyaan menohok dari mulut Shea terdengar. Sejauh apa yang dilakukanya dulu untuk mengenal Bryan, tidak sekalipun dia menginjakan kaki ke dalam dunia hitam yang pernah Bryan lakukan.
"Aku—" Chika bingung menjelaskan apa. Dia tidak mungkin mengatakan jika dia ingin berusaha membatalkan rencana pernikahannya.
"Kamu belum membuka hati sungguh-sungguh." Satu kalimat lagi yang Shea ucapkan dan mampu membungkam Chika.
Selly memilih diam saja. Untuk urusan dengan masa lalu yang kelam bukan keahliannya. Baginya Shea lebih berpengalaman.
"Se … coba mengerti posisiku. Aku tidak mencintainya." Chika akhirnya mengungkapkan isi hatinya.
Akhirnya Shea mendapati jawaban itu. Jawaban sebenarnya yang membuat Chika mengajak ke klub. "Akhiri saja jika kamu tidak bisa mencintainya."
"Kamu tahu bukan jika papaku yang menyetujuinya dan dia seyakin itu dengan Felix." Itulah alasan kuat yang membuat Chika tidak berkutik.
"Papamu saja seyakin itu, bagiamana bisa kamu tidak yakin?" Shea melontarkan pertanyaannya dengan nada sindiran.
"Cobalah mengenalnya lebih dalam, jika memang dia tidak layak untukmu, paling tidak kamu punya alasan tepat untuk meninggalkan."
Chika terdiam. Dia mencerna semua yang diucapkan oleh Shea. Sejauh ini dia terus berusaha menggagalkan rencana pernikahannya, tanpa mengenal benar-benar Felix seperti apa.
"Sudah-sudah. Kita bahas lain kali lagi. Sekarang ayo kita makan." Selly memecah ketegangan yang tercipta.
"Ayo kita makan." Shea tersenyum. Tangannya ikut membuka kantung makanan yang dibawanya.
Mereka makan bersama-sama. Mengobrol menceritakan Al dan El dengan perkembangannya. Dua bayi yang sudah berusia hampir enam bulan itu akan segera makan. Shea dan Selly sudah menyiapkan menu apa saja yang akan mereka berikan pada MPASI nanti.
Chika yang mendengar cerita dua ibu itu merasa ikut senang. Dia membayangkan bagaimana nanti dirinya akan memiliki anak. Namun, dengan siapa kelak, itu masih dalam bayangan gelap yang tak terlihat.
Suara tangis mereka membuat Shea, Selly dan Chika menoleh. Shea dan Selly langsung bergegas mengendong anak mereka.
"Sepertinya mereka mau berguling-guling," ucap Shea melihat anaknya yang bergerak seolah ingin turun.
__ADS_1
"Sebaiknya di kamar saja." Chika menawarkan kamarnya untuk dua bayi.
Dua bayi itu sangat senang diletakan di atas tempat tidur. Mereka bisa berguling-guling di tempat tidur, sambil bergumam. Shea dan Selly menggampit dua bayi, sedangkan Chika duduk tepat di depan Dua bayi.
"Kalian tidak mau punya anak lagi?" tanya Chika seraya memainkan tangan El.
Shea dan Selly tahu jika pertanyaan itu adalah untuknya. "Aku sepertinya tidak," jawab Selly. Dia masih sangat trauma karena sewaktu melahirkan harus koma beberapa bulan.
Shea dan Chika memahami alasan Selly. "Apa tidak apa-apa jika Al tidak punya saudara?" tanya Chika.
"Ada El dan calon adiknya, kenapa aku harus takut jika Al tidak punya saudara?" jawab Selly santai.
"Kamu sudah hamil lagi, Se?" Chika langsung menoleh pada Shea.
"Belum, aku belum hamil," elak Shea.
"Kapan kamu hamil?" Chika menggoda Shea dengan tersenyum penuh arti.
"Em …." Shea tampak berpikir. "Bagaimana jika nanti bersamaan denganmu saja." Shea balas menggoda Chika. "Aku hamil El bersamaan dengan Kak Selly, jadi nanti hamil kedua bersamaan dengan dirimu."
Chika memanyunkan bibirnya. Nasib hubungannya saja belum jelas. "Aku masih lama," elak Chika seraya menggoda El.
"Ya ... semakin lama kamu membuka hati, akan semakin lama juga kamu akan menikah." Shea dengan polosnya menyindir Chika.
Chika melirik tajam pada Shea. Temannya itu memang asal saja jika bicara. Hubungan pertemanan mereka itu memang sudah seperti saudara. Mereka akan mengingatkan jika diantara mereka melakukan kesalahan. Walaupun menyakitkan, tetapi akan membuat salah satu dari mereka tersadar. Yang terpenting disampaikan langsung dan bukan dibelakang.
Begitulah hubungan pertemanan Shea dan Chika. Tak selalu manis. Perdebatan, rasa kesal selalu saja mewarnai, dan kali ini Chika yang sedang jadi sasaran Shea. Namun, itu tidak akan mengubah apa-apa. Mereka akan kembali berbaikan jika memang salah satu menyadari kesalahan.
Tiga wanita itu asik bermain di kamar, mendengar gumaman anak-anak yang begitu membuat suasana menjadi riang.
Sekitar jam dua siang, Shea dan Selly berpamitan. Mereka berharap jika Chika akan segera sembuh dan bisa pergi jalan-jalan bersama."
.
.
__ADS_1
.
.