Wedding Project

Wedding Project
Persiapan Felix


__ADS_3

Di kamar pengantin pria, tampak seorang pria sedang bersiap. Siapa lagi jika bukan Felix. Dengan setelah jas hitam dia dan tuxedo, dia bersiap untuk acara pernikahannya. Di depan cermin dia melihat tampilannya. Sejujurnya dia amat berdebar-debar menunggu acara pernikahannya. 


Suara ketukan pintu terdengar dan membuat Felix menoleh. Terlihat dua pria dengan anak kecil di dalam gendongan mereka. Mereka adalah Bryan dan Regan dengan menggendong El dan Al.


Dua bayi kecil itu tampak tampan dengan setelan jas dan tuxedo. Terlihat sangat menggemaskan. 


"Lihatlah bagaimana gugupnya dia," goda Bryan. 


Regan tertawa. 


"Aku rasa dia jika dia gugup akan membubarkan acara malam pertamanya." Bryan tertawa keras, hingga membuat anak di dalam gendongannya terkejut. Seketika Bryan menutup mulutnya karena membuat anaknya takut. 


"Aku rasa hanya dirimu saja yang tidak gugup saat malam pertama," sindir Felix.


"Dia tidak merasakan gugup karena tidak sadar jika itu malam pertamanya." Regan menimpali hingga membuat tawanya dan Felix. 


Bryan mendengus kesal. Niatnya untuk meledek justru dia sendiri diledek.


Regan menepuk bahu Felix. "Tenanglah, semua akan berjalan dengan baik."


"Kecuali mantan kekasihmu datang dan mengacau." Bryan masih belum puas jika belum membuat Felix panik. Namun, sesaat kemudian dia menghampiri temannya dan ikut menepuk bahunya. "Aku akan berada di barisan depan menghalau para mantanmu yang datang."

__ADS_1


"Terima kasih."


Suara ketukan pintu terdengar dan seseorang masuk. Theo yang ingin melihat anaknya masuk ke dalam kamar. 


Regan dan Bryan saling menatap, tak menyangka jika Felix mengundang papanya. Padahal jelas Felix tak terlalu suka. 


"Kalian di sini semua?"


"Iya, Paman," jawab Bryan dan Regan serentak.


"Hai jagoan kecil. Tidak menyangka kalian sudah punya anak," ucap Theo melihat El dan Al. "Apalagi kamu Bryan, tidak menyangka kamu sudah menikah lebih dulu menikah." Theo menepuk bahu Bryan. 


Bryan tersenyum. Kalau dia tidak terpaksa menikah dengan Shea, mungkin sampai sekarang dia belum menikah. Namun, dia bersyukur bisa menikah dengan cepat walaupun dengan hal menyakitkan. Paling tidak dia berhenti dengan segala kebiasaanya. 


Sesaat kemudian, Theo keluar saat ponselnya berdering. Dia mengangkat sambungan telepon yang berasal dari istrinya. 


"Apa acaranya sudah dimulai?"


"Belum masih menunggu, mungkin sebentar lagi."


"Aku berharap semua lancar."

__ADS_1


Theo terdiam. Istrinya itu sebenarnya ingin sekali dekat dengan Felix, tetapi anaknya itu tak akan pernah mau. "Terima kasih doanya." 


Setelah mendapati jawaban. Theo mematikan sambungan teleponnya. 


"Maafkan Felix yang tak mengundang istrimu." Suara Liana terdengar membuat  Theo terkejut. 


"Tidak apa-apa. Dia mengerti kenapa Felix tidak mengundangnya." 


Liana mengangguk. Sedikit canggung dengan mantan suaminya. 


"Terima kasih sudah membesarkan Felix, tanpa aku."


"Jangan bilang seperti itu. Kamu sudah memberikan tanggungjawab, walaupun kamu sudah menikah, jadi kita sama-sama membesarkannya." 


Theo menyadari jika selama ini, memberikan nafkah untuk Felix, sampai akhirnya putranya itu tahu dan tak mau. Felix akhirnya memilih bekerja dan tak mau menerima pemberian papanya lagi. 


"Aku tidak menyangka anak kita akan menikah." Ada perasaan sedih di hati Theo melihat anaknya yang sudah cepat sekali tubuh.


"Kita diingatkan, jika kita sudah tua."


"Kamu benar." Theo dan Liana tersenyum. 

__ADS_1


Mereka berdua masuk ke dalam kamar Felix dan mengajak Felix untuk ketempat acara. 


__ADS_2