Wedding Project

Wedding Project
Calon Mertua


__ADS_3

Sesuai dengan rencana, Felix dan Chika ke rumah mamanya di akhir pekan. Rencananya mereka akan menginap, karena mama Felix meminta. 


Sepanjang perjalanan Chika begitu berdebar-debar. Perasaannya tak karuan merasa takut, mama Felix akan kecewa dengannya. 


"Tenanglah. Kamu seperti baru melamar kerja saja." 


"Apa kamu tahu, aku berdebar melebihi saat aku melamar kerja."


"Kenapa bisa begitu?" Felix tertawa mendengar ucapan Chika yang terlihat jelas gugup.


"Karena sekarang aku sedang melamar jadi calon menantu, jadi ketakutanku lebih besar. Kalau hanya tidak diterima kerja, aku bisa cari pekerjaan lain, tetapi jika mamamu tidak menerimaku, apa aku harus cari yang lain." 


"Tidak." Felix meraih tangan Chika. "Aku tidak akan membiarkan kamu mencari yang lain."


"Ini hanya perumpamaan."


"Walaupun hanya perumpamaan, aku tidak akan rela." Felix menekuk wajahnya kesal. 


Chika tersenyum. Merasakan cinta Felix yang begitu besar membuatnya bahagia.

__ADS_1


Tidak ada manusia yang sempurna, jika pun bertemu dengan mereka yang memiliki masa lalu yang baik, belum tentu di masa depan dia akan selalu baik. Begitu juga saat bertemu dengan mereka yang buruk, belum tentu di masa depan mereka akan selalu buruk. 


"Iya. Maaf." 


Felix terus menggenggam tangan Chika. Tak mau melepaskan barang sebentar. Padahal sepanjang perjalanan Chika meminta tunangannya itu melepas agar bisa fokus pada jalanan, tetapi Felix mengabaikannya. 


Perjalanan mereka sampai di sebuah rumah yang cukup besar. Chika memandangi rumah merasa heran karena Felix justru tinggal di apartemen. Padahal rumah besar itu masih bisa menampung Felix. Namun, ingatannya kembali pada sebuah kata kebebasan. Mungkin karena itu Felix memilih untuk tinggal di apartemen. 


Mereka turun dan menekan bel. Sesaat kemudian, pintu terbuka. Terlihat wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usia setengah abad.


"Kalian sudah datang." Liana menautkan pipi pada anak dan calon menantunya. Dia menarik Chika masuk dan mengabaikan anaknya. "Apa kamu tahu, mama senang sekali kamu mau datang ke rumah," ucap Liana pada Chika. 


Sambutan yang hangat dari Lidia membuat ketakutan Chika seketika menghilang. Wajah dengan senyuman dari Lidia begitu menenangkan hati. 


"Dia memang suka cheesecake Ma," Suara Felix terdengar saat dua wanita asyik.


"Wah kebetulan sekali." 


"Terima kasih, Tante." 

__ADS_1


"Kok panggil tante, panggil mama." 


Chika terkejut. Tidak menyangka jika akan mendapatkan kejutan yang berlimpah. Pertama, karena disambut hangat, kedua dilayani bak tuan putri dan ketiga dianggap seperti anak.


"Baik, Ma." Chika menjawab seraya menerima cheesecake yang diberikan. Memulai memakan kue yang memang spesial diberikan. Namun, saat satu suapan dimasukan di dalam mulut, Chika merasakan jika itu adalah cheesecake di toko kue langganannya. Chika adalah pencinta cheesecake jadi lidahnya sudah sangat hapal dengan rasa kue itu. Apalagi di beberapa toko kue di ibu kota sudah sebagian besar dia coba. 


"Ini kue di—"


"Di toko biasa kamu beli." Felix memotong ucapan Chika. 


"Jadi toko kue itu …." Chika mencerna ucapan Felix dan menggabungkan dengan penjelasan yang diberikan oleh mama Felix jika itu berasal dari toko kue miliknya. 


"Iya, itu toko kue punya mama."


"Wah jadi kamu suka beli kue di sana. Kamu beli di daerah mana." 


Chika menyebut salah satu toko kue di dekat mal di daerah selatan. Toko kue itu berada di depan mal persis, dan ternyata memang di sana pusatnya. Namun, Chika heran belum pernah bertemu dengan mama Felix di sana. 


Liana tertawa. Dia menjelaskan mungkin kebetulan saja Chika tidak bertemu dengannya. Padahal Liana sering sekali menyambut tamu.

__ADS_1


Dua wanita itu justru asyik bercerita tentang kue. Liana janji akan mengajari Chika untuk membuat cheesecake seperti di tokonya. Chika begitu bersemangat. Apalagi kue yang dibuat adalah kesukaannya. 


Felix yang melihat kedua wanita yang dicintainya begitu akrab membuatnya begitu senang. Tak banyak yang diharapkan selain bisa melihat dia wanita yang dicintainya tersenyum. 


__ADS_2