
Liburan tiga hari benar-benar dimanfaatkan Felix untuk memberikan pelajaran untuk Chika. Pelajaran yang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya. Pelajaran yang tak habis untuk dieksplor. Pelajaran yanng memberikan kenikmatan yang hanya dirasakan oleh mereka berdua.
Tak lupa mereka selalu menikmati pantai yang menyuguhkan keindahan yang tak habis untuk dikagumi. Jalan-jalan di pinggir pantai sampai berbelanja oleh-oleh mereka kerjakan selama berlibur. Momen yang akan menjadi kenangan untuk mereka kelak.
Puas berlibur, mereka kembali pulang. Tempat yang menjadi tujuan mereka untuk tinggal adalah apartemen. Untuk sementara ini, Felix dan Chika akan tinggal di apartemen, mengingat kepraktisan dan lokasi yang cukup dekat dengan kantor.
Karena sudah mulai bekerja, pagi-pagi sekali Chika sudah bangun, menyiapkan sarapan untuk suaminya. Walaupun sering dia masak untuk Felix, tetapi kini dia menyandang status sebagai istri. Jadi sensasinya sangat berbeda.
Di dalam kamar Felix menikmati tidurnya. Namun, saat merasakan kedinginan, dia menyadari jika pelukannya terlepas. Tangannya pun meraih tubuh istrinya, tetapi sayangnya istrinya tidak ada.
Memaksakan membuka mata, Felix melihat sisi ranjang yang kosong. Terlihat jika istrinya sudah tidak ada. Akhirnya, dia memilih untuk bangun mencari ke mana istrinya berada.
Tepat pintu dibuka, aroma masakan tercium. Felix sudah menebak jika istrinya sudah berperang dengan masakan. Dia menyusul Chika ke dapur. Istrinya yang fokus, tidak menyadari jika Felix datang.
Felix memeluk istrinya dari belakang dan mendaratkan kecupan di pipi. "Selamat pagi."
Chika yang terkejut, tetapi langsung tersenyum saat menoleh. "Kamu membuatku kaget saja."
"Kenapa sapaanku tidak dijawab."
"Iya, selamat pagi suamiku sayang."
"Kenapa kamu meninggalkan aku di kamar sendiri."
Mendapati pertanyaan Chika justru tertawa. "Kita sudah mulai bekerja, jadi aku harus menyiapkan sarapan."
"Tapi aku tidak suka ditinggal." Felix mengeratkan pelukannya.
"Sudah jangan merajuk. Cepat mandi dan bersiap."
"Berikan aku kecupan dulu."
Chika mendaratkan kecupan di pipi suaminya dan membuat suaminya itu berlalu untuk bersiap. Hari pertama bekerja dengan menyandang status suami istri membuat mereka berdua menjadi senang sekali.
***
__ADS_1
Felix mengantarkan Chika ke kantor terlebih dahulu, sebelum akhirnya dia ke kantor. Rutinitas yang memang sudah biasa dia lakukan selama Chika tinggal di apartemen.
"Nanti sore aku akan pindahkan barang-barangku ke apartemen, jadi nanti kamu bisa kembalikan kunci pada Bryan." Chika yang teringat dengan barang-barangnya di apartemen yang tinggalinya, menjelaskan pada Felix.
"Apa misinya sudah selesai?" Felix yang sedang menyetir, menoleh dan tersenyum.
Pipi Chika merona, malu karena memang tinggal di apartemen adalah bagian dari misinya untuk menggagalkan pernikahan. Namun, ternyata justru pernikahan terjadi dan dia jatuh cinta.
Felix tertawa melihat wajah malu istrinya. "Aku senang kamu memiliki misi konyol itu, kamu seolah membuka jalan untuk aku."
"Jadi kamu yang diuntungkan atas misi itu?" tanya Chika sedikit kesal.
"Apa selama ini kamu tidak menyadari jika apa yang kamu lakukan menguntungkan aku." Felix semakin tergelak. Jika memutar ingatannya dulu, mungkin Felixlah yang benar-benar banyak diuntungkan.
"Oh ... ya?" Sampai detik ini Chika tak menyadari akan hal itu.
"Aku sangat berterima kasih pada misi konyolmu itu. Jadi aku tidak sulit untuk membuatmu mencintai aku." Tangan kiri Felix meraih tangan Chika. Menariknya dan mendaratkan kecupan di punggung tangan.
Chika tersenyum. Walaupun misinya gagal, tetapi semua berbuah manis. Kini dia mendapatkan Felix yang begitu mencintainya.
Sampai di kantor Chika berpamitan dan Felix melanjutkan kembali mobilnya menuju ke kantor.
"Kamu sudah masuk?"
Suara Bryan terdengar, membuat Felix menoleh ke arah di mana Bryan berada. "Iya, memangnya kamu mau aku cuti berapa lama?"
"Ya aku pikir kamu keasyikan dan akhirnya memperpanjang liburanmu."
"Apa kamu pikir aku, kamu?" tanya Felix penuh dengan nada sindiran.
Bryan hanya menaikan bahunya. Menyadari jika dia bisa sesukanya menambah jadwal berlibur. "Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu. Karena semuanya sudah menantimu." Dia tertawa dan berlalu masuk ke ruang kerjanya.
Felix hanya pasrah saat tumpukan berkas memang menantinya untuk dicek. Membuka satu persatu berkas dia mulai mengecek.
***
__ADS_1
Seperti rencana Chika dan Felix. Sore ini mereka akan memindahkan barang-barang Chika.
"Apa tadi oleh-olehnya sudah kamu berikan pada Bryan?" tanya Chika seraya memasukkan baju ke dalam koper. Tadi pagi dia menitipkan pada Felix beberapa oleh-oleh yang dibelinya untuk Shea, sedangkan untuk Selly, dia titipkan sendiri pada Regan.
"Sudah." Felix juga bergerak memasukkan beberapa barang yang berjajar di meja rias.
"Oke ... terima kasih." Dengan suara manja, dia mengucapkan terima kasih.
Felix yang gemas memeluk istrinya. "Kamu benar-benar membuat aku gila." Baru mendengar suara manja istrinya saja, Felix dibuat pusing.
Chika tersenyum. "Ayo cepat kerjakan pekerjaan kita, agar cepat selesai."
"Jawab dulu pertanyaanku. Kamu mau berapa anak?"
"Em ...." Chika tampak berpikir. "Dua mungkin."
"Kurang, aku mau empat."
"Astaga, kenapa banyak sekali!"
"Aku ingin rumah kita ramai. Mereka akan berkelahi, berebut mainan dan kita akan memisahkannya."
"Jika Tuhan memberikan banyak untuk kita, aku tak masalah." Chika tahu Felix anak tunggal. Tak punya saudara dan mungkin itulah yang membuatnya ingin anak banyak.
"Baiklah, kalau begitu nanti kita lanjutkan pelajaran." Felix melepas Chika dengan penuh semangat. "Tetapi, ini pelajaran ke berapa?"
Chika menggedikkan bahunya, tidak menghitung sudah berapa pelajaran yang diberikan Felix.
"Sudah lupakan itu yang ke berapa, yang penting kita belajar." Felix mengedipkan mata dan membuat Chika tersenyum.
Bagi Chika, sisi humoris Felix membuat hidupnya penuh warna, sedangkan sisi romantis Felix membuatnya selalu jatuh cinta. Usaha Felix yang tak henti mendapatkannya membuatnya yakin jika ternyata Felix memang tulus mencintai.
.
__ADS_1
.
.