
Setelah kemarin meminta nomor telepon Natasya dan sorenya menghubunginya, hari ini Chika bertemu dengan mantan kekasih Felix itu. Tadi Chika meminta izin Felix untuk pulang sendiri karena ada beberapa pekerjaan yang harus dia kerjakan, dan tunangannya itu mengizinkan. Chika pun akhirnya menemui Natasya di restoran setelah kemarin menentukan di restoran mana.
"Kemarin kita belum sempat berkenalan," ucap Chika pada Natasya seraya mengulurkan tangan.
"Natasya." Menerima uluran tangan Chika.
Mereka duduk dan memesan minum. Untuk menemani mereka bercerita.
"Benar kamu mantan kekasih Felix." Chika memulai pembicaraannya.
"Iya, apa Felix menceritakan?" Natasya tersenyum mendengar pertanyaan Chika.
"Iya, dia mengatakan padaku. Berpacaran denganmu selama dua bulan."
"Wah … aku tidak menyangka jika Felix akan menceritakan secara detail siapa mantan kekasihnya dan berapa lama hubungannya." Natasya tersenyum licik.
Melihat wajah Natasya, Chika merasakan gelagat yang aneh. "Tidak semua sebenarnya, hanya dirimu yang diceritakan," ucapnya. Dia memilih berbohong untuk memancing Natasya.
"Berarti kamu tidak tahu siapa wanita yang bersama Felix setelah aku?"
"Tidak."
"Ada dua wanita yang bersamanya dan sekarang kamu yang selanjutnya," ucap Natasya, "aku cukup terkejut saat tahu jika ternyata Felix sudah bertunangan, apa itu caranya mendapatkan tubuhmu." Dia tertawa, seolah meledek Felix yang triknya bisa dibaca.
Ucapan Natasya membuat Chika langsung tersedak. Buru-buru tangannya meraih minuman yang berada di meja. Meredakan tenggorokannya. "Apa maksudmu?" tanyanya pura-pura.
"Apa dia sudah menyentuhmu?" tanya Natasya dan Chika menggeleng. "Mungkin karena kalian masih baru, tetapi biasanya dia akan menyentuhmu seperti yang dilakukan pada mantan kekasihnya."
"Apa dia melakukan itu dengan kekasihnya?" Chika berpura-pura bodoh. Entah apa motif Natasya mengatakan itu padanya.
"Iya."
"Apa denganmu juga?" tanya Chika. Kemarin Felix menceritakan jika tidak menyentuh Natasya, tetapi Chika ingin tahu langsung dari Natasya.
"Aku adalah wanita pintar, jadi aku tidak termakan bujuk rayunya." Dengan bangga Natasya menceritakan.
"Lalu kenapa kamu putus?"
"Em … itu …." Natasya bingung menjawab apa. "Aku memutuskan karena …."
__ADS_1
"Karena Felix hanya seorang karyawan biasa?"
Natasya terkejut tahu Chika mengetahui alasannya putus dengan Felix. "Iya itu salah satunya."
"Salah satu? Berarti ada yang lain?"
"Iya, aku memutuskan karena Felix memang pria tidak baik. Buktinya aku dengar setelah dia putus denganku, dia memiliki kekasih dan membuat kekasihnya itu hamil." Natasya memprovokasi Chika. Sekian lama dia berusaha mendekati Felix, tetapi pria itu tidak mau kembali dengannya. Kini saat tunangannya di depan matanya, paling tidak dia bisa menghancurkan hubungannya.
Dahi Chika berkerut dalam. Dia menduga jika Felix tidak akan menceritakan hal itu pada orang lain, lalu dari mana wanita di depannya itu tahu, Chika benar-benar heran. "Dari mana kamu tahu?"
Natasya salah tingkah mendapati pertanyaan itu. Sebenarnya dia juga tidak tahu pasti kabar itu, karena informasi yang di dapatnya tidak valid. Yang dia dapat hanya wanita itu hamil. "Iya aku mencari informasi, jadi aku tahu." Dengan penuh keyakinan dia mengatakan akan hal itu.
Chika tertawa dalam hatinya. Merasa tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Natasya. "Apa yang terjadi dengan wanita itu?"
"Aku rasa mungkin Felix memintanya mengugurkan."
Mata Chika membulat sempurna mendengar ucapan Natasya. Dia tidak menyangka jika kalimat tuduhan itu keluar dari mulut cantik Natasya. Padahal kemarin, Chika sudah mendengar jika wanita yang hamil itu sudah menikah dengan pria yang menghamilinya. "Aku harap kamu tidak menuduh Felix tanpa bukti." Chika menatap tajam pada Natasya. Hatinya mengatakan jika dia lebih percaya pada Felix.
"Aku tidak mengatakan kebohongan," elak Natasya, "kamu saja yang terlalu naif percaya dengan Felix, padahal Felix itu hanya lelaki kurang ajar, jadi kamu jangan terperdaya olehnya."
"Kalau Felix lelaki kurang ajar, kamu apa?" tanya Chika mulai kesal. "Menuduh orang sembarangan tanpa bukti apa itu juga kurang ajar?"
"Aku tidak akan pernah menyesal menikahi Felix," ucap Chika begitu saja karena kesal. Entah kenapa dia merasa tidak terima orang menjelekan Felix.
"Siapa dia yang mengatakan akan hal itu, dia pikir sudah mengenal Felix begitu," gumam Chika kesal. Dia merutuki kesalahannya yang bertemu dengan Natasya.
Sedari awal memang dia sudah tahu jika Felix memutuskan wanita itu karena matre. Itu sudah membuktikan jika wanita itu tidak baik. Akan tetapi kenapa kemarin sewaktu bertemu di kantor Maxton, Chika masih meminta teleponnya. "Kenapa juga aku mau menemuinya," kesal Chika.
"Apa benar kamu tidak akan menyesal menikah denganku?" Suara pria terdengar dan membuat Chika menengadah. Alangkah terkejutnya yang dilihatnya adalah Felix. Pria yang menjadi objek pembicaraannya.
"Kamu di sini?" tanyanya dengan masih terkejut.
"Iya." Felix menarik kursi dan duduk tepat di hadapan Chika. "Mana mungkin aku biarkan kamu pulang sendiri," ucapnya tersenyum.
"Kamu—"
"Iya, aku mengikuti kamu dari kantor ke sini," potong Felix. Tangannya meraih minuman milik Chika dan meminumnya.
Chika menelan salivanya saat ketahuan berbohong. Namun, sesaat kemudian dia mengingat pembicaraannya dengan Natasya. "Apa kamu juga mendengar semuanya tadi?"
__ADS_1
"Iya," jawab Felix disertai dengan anggukan. Dengan santai dia meminum minuman Chika.
Chika malu sekali Felix mendengar semuanya. Padahal Felix sudah menceritakan semua, tetapi dia justru mencari tahu sendiri.
"Aku tadi—"
"Aku sudah mengatakan semua tanpa ada yang aku tutup-tutupi. Apa itu masih membuatmu tidak percaya?" Felix kembali memotong ucapan Chika.
"Bukan begitu," elak Chika, "kemarin aku melihatnya dan entah kenapa aku ingin berbicara dengannya."
"Lalu apa yang kamu dapat setelah berbicara dengannya?"
Chika menundukkan kepalanya merasa bersalah karena ternyata yang didapat hanya rasa kesal.
"Aku sudah menceritakan semuanya, tanpa ada yang ditutupi. Apa itu menurutmu kurang?"
Chika masih menunduk. Malu sekali melihat Felix, padahal dari Felix sudah didengarnya semua cerita. Felix yang gemas memegang dagu Chika dan membuat tunangannya itu melihat ke arahnya. Apa yang dilakukan Felix membuat Chika terkejut.
"Aku akan mengajakmu bertemu dengan Nadia agar kamu percaya." Felix memandang Chika dan meyakinkan tunangannya itu.
Tatapan mata Felix bener-benar menghipnotisnya. Perasaannya tidak keruan saat tangan Felix berada di dagunya. Namun, entah kenapa dia mengangguk dan menjawab, "Iya."
Felix tersenyum dan melepaskan tangannya. Kemudian dia mengajak Chika untuk pulang. Di dalam perjalanan pulang, Chika dia, dia malu sekali dengan Felix.
"Tadi kamu belum menjawab pertanyaanku?" tanya Felix memecah keheningan.
"Pertanyaan apa?" Chika menoleh pada Felix.
"Apa benar kamu tidak akan menyesal menikah denganku?"
Chika bingung menjawab apa. Tadi kalimat itu memang keluar begitu saja. "Aku … aku …."
"Aku apa?" Felix menoleh. Di dalam gelapnya mobil senyumannya masih terlihat karena sinar dari jalanan.
"Aku tadi cuma mengatakan yang harus aku katakan pada wanita seperti Natasya saja." Chika tidak tahu harus menjawab apa. Kemudian dia melihat ke arah jalanan untuk menghindari tatapan Felix.
Felix tersenyum dan mengangguk. Bagaimana gugupnya Chika sebenarnya sudah menjawab. "Terkadang saat mulut tanpa sadar mengatakan sesuatu, sebenarnya itulah yang ada di dalam hati," ucap Felix. Dia tidak menoleh sama sekali pada Chika dan terus memandangi jalanan.
Chika menoleh dan menatap Felix. Mencerna ucapan Felix. Yang ada di dalam hati? tanyanya dalam hatinya.
__ADS_1