
Chika yang sibuk beberapa hari ini belum menyiapkan baju-bajunya. Padahal besok adalah hari di mana dia akan ikut pergi bersama dengan atasannya. Ini juga akan menjadi pengalaman pertamanya ke luar negeri.
Suara telepon terdengar saat Chika sibuk merapikan bajunya di koper. Meraih ponselnya, dia melihat nama yang tertera. "Kenapa menghubungi aku?" tanya Chika yang heran melihat Felix menghubunginya.
"Ayo makan."
Chika menepuk dahinya saat mengingat jika dia belum makan malam. Buru-buru dia ke apartemen Felix setelah dia mengiyakan ajakan Felix.
Masuk ke dalam apartemen, Chika menuju ke meja makan. Di meja makan sudah tersedia banyak makanan. Mungkin Felix membelinya saat tadi Chika di apartemennya.
"Sedang apa kamu sampai lupa jam makan malam?"
"Aku sedang menyiapkan baju untuk pergi besok." Chika menarik kursi dan mendudukkan tubuhnya,
"Aku juga belum menyiapkan. Beberapa hari ini kita pulang malam hingga tak punya waktu," tambah Chika.
"Masih ada besok. Tadi Kak Regan mengatakan jika dia hanya meminta kita mengecek kesiapan pesawat saja."
Chika mengangguk. Membenarkan jika dia masih punya waktu besok. Akan tetapi, tidak ada salahnya dia mencicil menyiapkan.
Felix dan Chika melanjutkan makannya. Menikmati makan malam yang sengaja dia pesan di restoran langganan. Kali ini Felix sengaja memilih menu nasi dan ayam bakar. Melupakan sejenak kalori yang dia selalu hindari.
"Ada angin apa kamu makan berat?" tanya Chika dengan nada menyindir. Dia sudah hapal seperti apa Felix.
"Besok kita akan pergi. Aku tidak mau kamu sakit karena tidak makan nasi." Felix menjawab sambil menyindir Chika. Beberapa kali Chika merengek untuk makan nasi saat malam karena dia tidak bisa jika tidak makan berat. Gadis cantik itu beralasan akan sakit jika tidak makan.
__ADS_1
Chika mencebikan bibirnya mendapati sindiran Felix. "Orang asia itu tidak bisa jika tidak makan nasi," celetuk Chika. Tangannya mengarahkan makanan ke dalam mulutnya dan mengabaikan Felix.
Felix tersenyum. Apa yang dilakukan Chika membuatnya begitu gemas. Dia ikut melanjutkan makannya. Namun, tiba-tiba dia teringat sesuatu. "Tadi Shea menitipkan sesuatu untukmu, tetapi masih di mobil."
Dahi Chika berkerut dalam. Tidak mengerti apa yang dikirim temannya itu. "Apa yang diberikan Shea?" tanyanya ingin tahu.
"Mana aku tahu," jawab Felix seraya mengedikkan bahunya. "Kita lihat saja nanti, setelah ini kita ambil di mobil."
**
Setelah menyelesaikan makannya. Akhirnya Felix dan Chika mengambil paper bag yang berada di dalam mobil Felix.
Chika yang mengintip sedikit isi paper bag mendapati kain tebal. Namun, dia seperti mengenali kain dengan waran cream tersebut.
Karena sangat penasaran dia membuka mengambil isinya untuk mengecek apa yang ada di pikirannya sama. Di parkiran mobil, Chika dengan cuek mengambil isi paper bag.
"Ini benar dari Shea?" tanya Chika memastikan. Rasanya Chika tidak percaya jika Shea yang membelikannya.
"Kemarin Shea dan Kak Selly pergi untuk membeli beberapa barang, mungkin dia sengaja membelikan ini untukmu."
Chika menerawang ke dalam bola mata Felix. Mencari kebenaran dari ucapan tunangannya itu.
Mungkin bisa saja Shea membelikan, tetapi tidak mungkin jika dia membeli coat yang sangat ingin aku beli kemarin.
"Iya, tetapi ini coat yang sama dengan yang aku ingin beli kemarin?" Shea menatap penuh curiga pada Felix.
__ADS_1
"Besok kamu bisa menanyakannya. Kenapa Shea bisa membeli coat yang sama dengan pilihanmu."
Walaupun masih tidak percaya, akhirnya Chika memilih untuk menanyakan pada Shea besok. Lagipula dia juga harus protes pada Shea jika benar dia membelikannya, karena harga coat yang mahal pasti sangat memberatkan Shea.
"Sudah ayo! Apa kita akan diparkiran terus." Felix melangkah meninggalkan Chika dan menuju ke lift apartemen.
Chika yang tak mau di parkiran sendiri langsung menyusul Felix. Sepanjang jalan menuju apartemen, Chika masih terus mempertanyakan kenapa Shea membelinya.
"Apa kamu lupa dia istri CEO? Harga segitu murah untuknya." Felix yang kesal mendengar ucapan Chika akhirnya ikut bicara.
Sadar akan apa yang dikatakan Felix, tak membuat Chika berhenti berpikir. Dengan sifat Shea yang hemat seperti dirinya, pasti dia akan dua kali membeli coat tersebut.
"Aku akan tanyakan saja besok," gumam Chika tetapi masih terdengar oleh Felix.
"Dari tadi juga sudah aku bilang tanyakan saja," ucap Felix menyindir.
Sampai di depan apartemen, mereka masuk ke dalam apartemen masing-masing. Menikmati waktu istirahat untuk memulai hari esok.
.
.
.
...Sudah tahu belum kalau My Perfect Daddy sudah up. Ayo dibaca, ada bonus chapter bersamaan dengan Wedding Project....
__ADS_1
...Jangan lupa like dan komentar ya. ...
...Berikan juga hadiah untuk Chika dan Felix ...