
Ternyata Chika justru mulai mengerakkan bibirnya dengan lembut. Membuat Felix ikut mengerakkan juga, tak mau kalah mengambil kesempatan. Mereka saling membalas, menyesap dan merasakan aroma mint yang membuat semakin bergelora.
Namun, kini justru Felix yang tiba-tiba menghentikan adegan tersebut. "Apa ini bukan pengalaman pertamamu?" Sedari tadi dia merasakan gerakan Chika, dia bisa merasakan jika Chika sangat lihai mengerakkan bibirnya.
Satu pukulan mendarat di bahu Felix dan membuatnya meringis. Adegan romantis berpindah scene dengan cepatnya menjadi adegan action.
"Kamu pikir aku melakukan dengan siapa, jika berpacaran saja aku tidak pernah?" Chika begitu kesal dengan pertanyaan Felix.
Felix mencerna. Dia memang pernah dengar Chika tidak memiliki kekasih, tetapi dari cara Chika mencium sudah seperti sangat ahli, dan membuat Felix sangsi untuk percaya.
"Lalu kenapa kamu ahli sekali?"
"Ahli?" tanya Chika bingung.
"Iya, kamu mengerakkan bibir dengan sangat lihai, dari mana kalau bukan karena pernah melakukannya?"
"Apakah aku seahli itu sampai kamu tidak merasakan jika ini ciuman pertamaku?" Mata Chika berbinar. Merasa senang dengan apa yang dikatakan Felix.
Felix semakin dibuat pusing dengan senyum senang tunangannya itu. Entah harus mengartikan apa, dia begitu bingung. "Iya, aku merasa kamu sangat pandai."
"Berarti tidak sia-sia bukan, aku menonton adegan film, jika aku mempraktekan dengan benar." Chika begitu senang, ilmu yang dipelajari secara otodidak dipraktekkan dengan benar.
Akhirnya Felix mengerti dari mana Chika bisa lihai mencium. Tak menyangka jika tunangannya belajar dari film.
__ADS_1
Harusnya aku senang bukan jika dia pintar, jadi tidak perlu susah-susah mengajari. Lagi pula juga dia kan menjadi belajar dari film, bukan dari orang lain.
"Ya sudah, ayo kita lanjutkan." Felix kembali menarik tubuh Chika.
"Aku sudah tidak mood. Aku tidak mau!"
Tubuh Felix lemas mendengar kenyataan kegiatannya dihentikan. Dia merutuki kesalahannya menghentikan kegiatan sebelum puas untuk menikmati. Padahal bisa saja dia menikmati dulu dan baru bertanya kemudian, tetapi bodohnya dia justru menghentikan kegiatan dan bertanya.
"Jangan seperti itu, aku sudah menurutimu untuk gosok gigi sebanyak enam kali. Lalu dua kali kamu mengehentikan karena permintaanmu. Lalu kenapa saat aku bertanya satu kali kamu mengakhirinya." Felix frustrasi karena Chika tampak serius dengan ucapannya.
Mengingat apa yang dilakukannya tadi memang tidak sebanding dengan apa yang sudah Felix lakukan. Tunangannya itu sudah menuruti semua keinginannya. "Aku kesal karena kamu menuduhku melakukan dengan yang lain."
"Bukan begitu, aku hanya terkejut karena kamu sangat pandai, tetapi ternyata kamu belajar dari film." Felix mencoba membela diri, berharap Chika mau menerima alasannya.
"Baiklah, karena aku sedang berbaik hati, kita lanjutkan lagi."
Felix merasa lega karena Chika mau dengan senang hati mengulangnya kembali.
Mereka kembali mendekat. Mempertemukan dua bibir. Kali ini tidak ada yang lampu merah yang menghentikan. Mereka seolah sedang melaju di jalan tol tanpa hambatan. Menikmati setiap sesapan dan menciptakan sedikit suara kecapan. Saling membalas satu sama lain.
Perlahan mereka melepas ciuman saat napas mulai terengah. Pipi Chika merona, sesaat melakukan ciuman. Tidak pernah dia bayangkan akan mendapatkan dari orang yang awalnya dia tidak suka.
"Apa kamu sudah mencintai aku?" Felix mengusap bibir basah Chika dengan jarinya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu."
"Kenapa tidak tahu?"
"Apa saat aku berdebar-debar saat bersamamu itu cinta?"
Felix tersenyum. Baru tahu jika itu yang dirasakan Chika. "Itu yang aku rasakan juga saat bersamamu."
"Tetapi aku masih takut."
"Apa yang kamu takutkan?" Tangan Felix menyelipkan rambut Chika di balik telinga.
"Takut kamu akan menyakitiku."
"Apa aku melakukan itu pada mantan kekasihku?" tanya Felix dan Chika menggeleng. "Dan aku juga akan melakukan hal itu padamu. Aku tidak akan menyakitimu, walaupun kamu menyakitiku."
Chika tak bisa berkata apa-apa. Kali ini dia benar-benar terhipnotis dengan pesona Felix. Kebaikan yang Felix berikan mampu membuatnya luluh. Melupakan niatnya untuk membatalkan pernikahannya.
"Kita akan belajar memahami dan belajar mencari kenyamanan untuk hubungan kita." Tangan Felix membelai wajah Chika. Satu kecupan mendarat di dahi Chika. "Apa kamu mau bersamaku menjalani hubungan ini?"
Anggukan Chika menjawab pertanyaan Chika. Tak ada salahnya memulai hubungan, toh sudah tak ada yang dia ragukan dari Felix. Semua yang diceritakan Felix sudah menjelaskan jika dia pria baik. Seperti yang selalu dibilang papanya dan Shea.
"Terima kasih sudah memberiku kesempatan. Mulai hari ini kita menjalani pertunangan ini dengan cinta." Felix menarik tubuh Chika ke dalam pelukannya. Tidak menyangka wanita yang dicintainya menerimanya. Kelak mereka akan menikah dengan rasa cinta satu sama lain dan bukan hanya dia sendiri saja yang mencintai.
__ADS_1