
Seminggu ini Chika dan Felix mengemasi pakaian dan barang-barang untuk dibawa ke rumah baru. Memilih hari Sabtu untuk pindahan karena bertepatan dengan hari libur mereka. Sabtu pagi ini mereka berdua membawa barang ke rumah baru. Karena tak banyak barang yang dibawa, mereka tidak terlalu kesulitan membawa barang.
Liana sengaja datang untuk membantu anak dan menantunya untuk pindahan. Dia membawa serta asisten rumah tangga agar Chika tidak kelelahan. Aland dan Ella juga tak kalah antusias saat anak mereka akan pindah, mereka meluangkan waktu untuk membantu.
Di rumah baru suasana begitu riuh, Chika dan Felix sampai geleng kepala saat melihat kedua orang tua mereka saling berdebat untuk meletakkan barang. Kedekatan Ella dan Liana sudah seperti saudara, jadi mereka tidak sungkan untuk saling protes satu sama lain.
"Kata orang, menikah tidak hanya menyatukan dua orang, tetapi dua keluarga." Chika tersenyum menatap Felix.
"Kamu benar. Mama seperti mendapatkan keluarga baru." Felix merasa senang saat mamanya juga senang. Baginya kebahagiaan mamanya sangatlah penting.
"Aku senang saat kebahagiaan bukan hanya milik kita." Chika memeluk Felix yang berdiri di sampingnya.
"Kalian, seperti tidak tahu tempat saja!" Bryan yang baru saja sampai di rumah Felix melihat sepasang pengantin baru itu sedang saling berpelukan. Membuatnya gatal untuk tidak berkomentar.
Suara Bryan terdengar, membuat Felix dan Chika menoleh. Tampak Bryan, Shea dan si kecil El yang berada di dalam gendongan daddy-nya datang ke rumahnya. Maklum tetangga sebelah itu tak tahan untuk segera berkunjung.
"Memangnya kenapa harus malu? Aku memeluk istriku sendiri dan di rumahku sendiri." Felix memutar bola matanya malas.
Shea tersenyum melihat Bryan yang kena batunya saat meledek Felix. "Kamu juga sering memelukku sembarang tempat," bisiknya pada suaminya.
Bryan melirik istrinya, membenarkan dalam hatinya jika memang yang dilakukannya sama dengan Felix.
"Sudah lupakan, ada apa kalian kemari?" Felix tak mau memperpanjang masalah.
__ADS_1
"Aku mau melihat rumah baru ada apa saja?" Bryan melangkah masuk ke dalam rumah melewati Felix dan Chika.
Di dalam Bryan langsung disambut oleh Liana dan Ella. Dua wanita paruh baya itu langsung menggoda El. Ella meraih El, menggendongnya. Mengajak si kecil untuk bermain. Kedua wanita yang menunggu cucu mereka begitu senang saat El datang.
Felix, Chika dan Shea menghampiri Bryan yang berdiri melihat anaknya yang sudah diculik dua wanita.
"Cepatlah punya anak," sindir Bryan.
"Aku juga sedang berusaha," jawab Felix.
"Jangan seperti itu, Sayang." Shea yang merasa tidak enak menegur Bryan. Dia tahu bagaimana Chika berusaha untuk mendapatkan anak. "Lagi pula mereka masih sangat baru, masih menikmati masa-masa indah." Shea kembali membela Felix dan Chika.
"Iya, aku masih dalam masa indah. Bisa kapan saja melakukannya." Felix telak menyindir Bryan. Dia tahu temannya itu dulu tidak merasakan akan hal itu.
Bryan mendengus kesal dan membuat tawa Felix. Shea yang melihat suaminya kesal, memeluknya. Hal itu membuat Bryan tersenyum senang. istrinya selalu punya cara membujuk.
Chika sengaja memesan makanan dan mengajak semua tamu yang datang untuk makan siang bersama, menikmati suasana di rumah baru sambil saling berbagi cerita.
***
Kini tinggal Felix dan Chika setelah satu persatu teman dan keluarga pulang. Menikmati malam di rumah baru begitu membuat mereka sangat senang.
Sebelum tidur, Chika membersikan wajahnya di depan cermin. Beberapa rangkaian skin care, dioleskan di wajahnya untuk menjaga wajahnya tetap sehat.
__ADS_1
Dari pantulan cermin, Chika melihat suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Terlihat tangan Felix sedang mengusap rambutnya yang basah.
"Sepertinya aku akan berhenti bekerja saja."
Felix yang mengusap rambutnya, menghentikan kegiatannya. Mendengar istrinya mengatakan hal itu dia mengerti apa yang menyebabkan hal itu. Tadi saat sedang mengobrol, Mama Ella meminta Chika untuk berhenti bekerja. Agar Chika bisa segera hamil.
"Jangan dipikirkan kata mama." Felix menghampiri Chika dan memeluk istrinya itu dari belakang.
"Yang dibilang mama ada benarnya, lagi pula mungkin bisa saja faktor kelelahan dari aku."
"Apa kamu yakin?" Felix menatap wajah istrinya dari pantulan cermin. Memastikan lagi keputusan istrinya.
"Aku yakin, jika kamu menanggung hidupku." Chika tersenyum.
"Tanpa kamu minta pun, aku akan menanggung seluruh hidupmu." Karena gemas, Felix mendaratkan kecupan di pipi Chika.
Chika berusaha menghindar, tetapi tidak bisa. "Sudah sana pakai bajumu."
"Untuk apa pakai baju." Felix menangkup tubuh Chika membawanya ke atas tempat tidur.
Malam yang indah kali ini, mereka nikmati bersama di rumah baru. Menyalurkan rasa cinta yang tak akan habis untuk diberikan. Sebuah harapan kecil terselip jika akan ada buah hati yang akan hadir kelak di rahim Chika.
.
__ADS_1
.
.