
Suara bel apartemen terdengar. Felix langsung bergegas membukanya. Tepat dugaannya itu adalah kurir makanan. Menerima makanan yang dipesannya, dia kembali masuk ke dalam apartemen.
Di meja makan, Chika sudah menunggu. Sebenarnya dia sangat mengantuk, tetapi perutnya yang lapar membuatnya lebih memilih makan dahulu.
Felix memesan bubur seafood dari salah satu restoran langganannya. Saat dibuka, aroma gurih tercium dan membuat perut semakin tergoda untuk segera memakannya.
"Ini," ucap Felix seraya memberikan satu mangkuk bubur pada Chika.
Chika menerima dan langsung menyantapnya. Rasa gurih perpaduan dari bubur dengan santan serta udang, benar-benar memanjakan lidah. Dengan lahap Chika memakannya. Tak ada suara di meja makan, yang ada hanya keheningan.
Melihat Chika yang makan dengan lahap membuat senyuman tipis di sudut bibir Felix. Wanita di hadapannya tak malu sama sekali saat makan dengan lahap, berbeda dengan kekasihnya dulu yang tampak anggun dan menjaga sikap saat makan.
"Pelan-pelan, tidak ada yang meminta." Suara Felix akhirnya terdengar. Mendapati Chika yang makan terburu-buru membuatnya menegurnya.
"Aku mengantuk, jadi aku ingin segera makan dan tidur kembali." Tanpa mempedulikan teguran Felix, Chika terus saja dengan lahap memakan makanannya.
"Tapi tidak dengan terburu-buru," ucap Felix. Tangannya meraih tisu di hadapannya dan langsung mengusap bibir Chika yang terkena makanan. "Lihatlah, mulutmu sampai belepotan seperti ini."
Chika terkesiap saat tangan kekar Felix mengusap wajahnya. Degup jantungnya begitu terasa hingga membuatnya sedikit salah tingkah. Akan tetapi dia berusaha menetralkan perasaan berdebarnya itu.
"Sudah berapa kali kamu menyentuhku?" tanya Chika seraya meraih tisu yang sedang digunakan Felix mengusap bibirnya.
"Em … entah." Felix melepas tisu yang diraih Chika. "Saat kamu pingsan tadi aku menggendongmu, saat di mobil aku meletakan kepalamu di pahaku, dan saat di Rumah sakit aku memapahmu." Dengan polos Felix menjelaskan bagaimana dia menyentuh Chika.
Chika memutar bola matanya malas. Dia tidak menyangka jika seharian Felix menyentuhnya, dan jika sudah dihitung harusnya itu bisa menjadikan alasan pembatalan rencana pernikahannya.
"Tapi itu tidak bisa dihitung melanggar persyaratanmu." Tak ingin disalahkan dan mengakibatkan rencana pernikahannya gagal, Felix langsung berbicara kembali.
Menghembuskan napasnya kasar, Chika benar-benar mengatur kesabarannya. Dia menyadari apa yang dilakukan Felix memang seharusnya.
Kalau dia tidak menyentuhku, bagaimana dia menolongku?
"Kecuali kalau memang kamu mau digendong Kak Regan atau Bryan," ucap Felix lagi seraya memasukan makanan ke dalam mulutnya.
Bisa semalu apa jika sampai Pak Regan atau Bryan yang menggendong aku?
Pertanyaan itu menggema di pikiran Chika, dia merasa pasti dia akan sangat malu sekali jika sampai atasannya menggendongnya. Apalagi jika suami dari temannya itu yang akan menggendongnya.
__ADS_1
"Lalu mengusap bibirku tadi?" tanya Chika tak mau kalah.
"Itu tidak masuk hitungan. Aku menyentuhmu dengan tisu, jadi tidak bisa dikatakan menyentuh." Felix tersenyum puas saat mendapati jika dirinya tidak bersalah.
Chika memanyunkan bibirnya. Yang dikatakan Felix memang benar jika dia tidak menyentuhnya secara langsung. "Kali ini aku akan memaafkanmu, tetapi jika kamu menyentuhku karena …." Chika menghentikan peringatan yang akan dia berikan pada Felix.
"Karena nafsu?" tanya Felix memastikan kalimat apa yang dihentikan Chika.
Pipi Chika merona saat mendengar jawaban Felix. Sebenarnya memang itu yang ingin dia katakan.
"Tenang saja, aku tidak akan menyentuhmu sampai saat di mana kamu mengizinkan," ucap Felix mengedipkan matanya.
Mimpi saja!
Chika masih tidak bisa membayangkan jika harus disentuh Felix, Tangan pria itu pasti sudah banyak menyentuh para wanita.
Karena tidak mau melanjutkan perdebatan, Chika memilih untuk menghindar. Dia pamit ke kamar untuk istirahat karena masih mengantuk.
Felix melihat Chika yang hilang dari pandangannya. Senyum tipis tertarik di sudut bibirnya.
Aku tahu kamu akan sulit menerimaku, tetapi aku akan berusaha menaklukkan kamu.
Chika melenguh saat merasakan tidurnya begitu nikmat. Membuka matanya perlahan, dia mengedarkan pandangannya. "Jam delapan," ucap Chika. Matanya beralih melihat jendela yang tampak terang.
Buru-buru Chika mengambil ponselnya untuk memastikan kembali jika yang dilihatnya adalah jam delapan pagi. Namun, saat ingin meraih ponselnya, dia melihat secarik kertas di atasnya.
Aku sudah meminta izin pada Kak Regan hari ini, jadi kamu bisa istirahat di apartemen seharian. Aku juga sudah siapkan makanan untukmu, jadi kamu tidak perlu repot-repot keluar-keluar. Semoga cepat sembuh. Chika membaca tulisan yang berada di kertas itu.
Matanya memicing saat melihat nama yang tertera di bawah pesan itu. "Tunanganmu," ucapnya melafalkan sebutan yang Felix sematkan di secarik kertas yang diberikannya.
Chika kembali meletakan secarik kertas yang dia berikan. Melanjutkan mengambil ponselnya. Melihat jam yang tertera di layar ponselnya, dia menggeleng. Dia merutuki dirinya sendiri yang tidur begitu lama.
Memutar kembali memorinya, mengingat jika dia kemarin tidur jam empat sore hingga pagi. "Aku tidur atau pingsan?" gumamnya.
Perutnya yang kembali lapar akhirnya membuatnya bangkit dari tempat tidur. Namun, dia memilih untuk mandi terlebih dahulu agar tubuhnya lebih segar.
Tubuhnya yang segar seusai mandi membuatnya lebih bersemangat. Keluar dari kamar, dia menuju ke meja makan. Benar saja yang di katakan Felix jika dia sudah menyiapkan makanan.
__ADS_1
Menarik kursi, dia mendudukkan tubuhnya. Secarik kertas kembali dia temukan di atas meja.
Selamat makan, jangan lupa minum obat jika kepalamu masih pusing. Tunanganmu.
Chika mendengus kesal saat Felix seolah memberi penegasan jika dia adalah tunangannya. Karena tidak mau membuat mood paginya berantakan, Chika memakan makanan yang disiapkan Felix.
Saat makan senyum tertarik di sudut bibir Chika. Dia memikirkan Felix yang begitu baik padanya.
Kamu harus dapat wanita lain yang bisa mencintaimu.
Chika berpikir akan membuat Felix menemukan wanita yang tepat untuknya, sebelum dirinya pergi.
Melanjutkan makannya, dia menikmati makan yang disediakan Felix. Tubuhnya yang sudah lebih sehat membuatnya lahap makan. Saat menikmati makan, suara ponselnya berdering. Chika beralih melihat siapa yang menghubunginya.
Wajahnya berbinar melihat Shea yang menghubunginya. Buru-buru dia meletakan sendok dan beralih meraih ponselnya. Kemudian dia menyapa Shea di seberang sana.
"Kamu sakit apa?" tanya Shea yang penasaran. Shea yang diceritakan Bryan jika Chika pingsan sangat khawatir. Sebenarnya dia ingin langsung menjenguk kemarin saat Bryan memberitahu, tetapi dia suaminya melarang karena tidak mau Shea pergi ke mana-mana.
"Aku hanya kelelahan." Sedikit lucu saat harus mengakui jika dia pusing karena kurang tidur.
"Rencananya aku dan Kak Selly akan menjemput anak-anak di rumah mama, nanti kami akan ke apartemenmu menjenguk." Shea menjelaskan rencananya kali ini.
"Benarkah, aku akan menunggu kedatangan kalian." Chika begitu senang mendengar jika Shea, Selly dan dua bayi akan datang. Paling tidak seharian dia tidak akan bosan.
"Iya, sampai berjumpa nanti."
Chika mengiyakan ucapan Shea dan mematikan sambungan telepon. Kemudian dia melanjutkan makannya.
.
.
.
.
...Up rutin jam 12 WIB...
__ADS_1
...Berikan Like, Komentar, Vote dan Hadiah...