Wedding Project

Wedding Project
Melahirkan


__ADS_3

Akhirnya setelah perjalanan yang menurut Felix begitu lama itu, mobil sampai di Rumah sakit. Perawat sudah menyambut mereka dan membawa Chika dengan brankar. Membawa Chika ke dalam ruang UGD.


Karena malam hari dokter kandungan tidak ada, perawat harus menghubungi terlebih dahulu. Sambil menunggu dokter datang, perawat memeriksa Chika dan memasang selang infus. 


Chika merasakan kontraksi yang terjadi semakin intens. Membuatnya meringis kesakitan. 


Felix yang berada di sampingnya terus memegangi tangan Chika, menguatkan istrinya itu. "Cepat keluar ya, Sayang. Kasihan Mama sakit." Dia membelai perut istrinya dan mendaratkan kecupan di perut Chika. 


Setengah jam berlalu, akhirnya dokter kandungan datang. Memeriksa Chika dan berapa lebar pembukaan jalan lahir. Dokter wanita itu adalah dokter yang biasa menangani Chika saat pemeriksaan. 


"Masih pembukaan tiga. Bayi sudah masuk ke rongga panggul, tetapi belum turun secara signifikan. Jadi akan Ibu Chika akan dirawat dahulu sambil menunggu." Dokter menjelaskan pada Felix.


"Menunggu?" Felix membulatkan matanya. Tak menyangka jika dia harus menunggu lagi. Sedari makan malam, dia sudah menunggu. Bagaimana bisa dia menunggu lagi.


"Iya, Pak. Kemungkinan masih ada sekitar tiga sampai lima jam lagi." 


Jantung Felix benar-benar dibuat semakin berdebar-debar menanti anaknya lahir. Melihat istrinya kesakitan lima jam ke depan membuatnya merasa frustrasi. 


Dengan pasrah Felix mengikuti perawat yang membawa Chika ke ruang perawatan. Menunggu peningkatan dari pembukaan jalan lahir. 


Baru beberapa saat Chika dibawa ke ruang perawatan, orang tua Chika sudah datang. Mereka ingin mendampingi putrinya melahirkan. 


Waktu menunjukan pukul dua pagi. Mata begitu berat ingin terpejam. Namun, tak mau melepas momen menemani Chika yang tengah berjuang. 


Liana dan Ella bergantian membelai punggung Chika yang terasa panas. Sesekali Felix membantu Chika berjalan-jalan di dalam ruangan, agar dapat mempercepat persalinan. 


Chika memang tidak mengeluh, tetapi dari raut wajahnya yang menahan sakit, sungguh membuat Felix tak tega. 


"Apa harus selama ini?" Felix tak tahan melihat istrinya begitu kesakitan. 


"Sabar, Sayang. Jangan panik dan membuat Chika ikut panik." Liana mencoba menenangkan anaknya. Sebenarnya, dia pun juga panik, tetapi tak menunjukannya dan membuat menantunya juga ikut panik. 

__ADS_1


"Iya, kamu kenapa panik. Aku saja tidak apa-apa." Sambil meringis kesakitan, Chika menjawab ucapan suaminya. 


Felix hanya bisa menggeleng melihat istrinya tampak santai. Padahal jelas-jelas menahan sakit. Tak mau membuat istrinya panik, akhirnya Felix meredakan rasa paniknya. 


Chika yang sudah lelah berjalan, memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Memiringkan tubuhnya dan membiarkan Felix membelai punggungnya. 


Waktu menunjukan jam lima pagi. Liana, Ella dan Aland bergantian berjaga. Mereka begitu mengantuk menunggu Chika. Hanya Felix yang masih terjaga. Dia tak bisa melepas pandangannya pada istrinya sama sekali. 


Wajah lelah Felix begitu terlihat jelas. Tidak tidur sama sekali membuatnya terlihat sangat kusut, tetapi tetap saja tak mengurangi ketampanannya. 


Saat tidur, Chika merasakan air mengalir di sela-sela pahanya. "Sayang, sepertinya air ketubannya pecah." 


Felix bergegas memanggil dokter. Wajah Felix benar-benar panik. Tubuhnya gemetar melihat istrinya sedang berjuang untuk melahirkan.


Dokter datang dan mengecek keadaan Chika. Setelah mengecek dokter meminta perawat menyiapkan persalinan.  


Chika dibawa ke ruang persalinan. Perawat memasang alat untuk mengecek keadaan jantung bayi yang di dalam perut. Kemudian menunggu dokter memulai proses persalinan. 


"Dorong terus, Bu."


"Uuchh ...." Chika berusaha mengejan, mendorong bayi keluar. Keringat membanjiri tubuhnya. Rasanya tulang-tulangnya terasa ingin patah. Menahan rasa sakitnya. tanpa sengaja Chika mencengkram lengan Felix. Kuku lentiknya menancap sempurna di lengan suaminya.


Karena Felix begitu sangat panik, dia tak merasakan sakit akibat cengkraman Chika. "Ayo, Sayang, dorong lagi." Dia memberikan semangat pada istrinya. 


Napas Chika sudah mulai terengah, tetapi dia berusaha untuk kuat. Dia berusaha mengejan untuk dapat mendorong anaknya keluar. 


"Ayo, sedikit lagi." Dokter yang sudah melihat kepala bayi, meminta Chika untuk lebih kuat mendorong bayi keluar. 


Oeeek ....


Suara bayi terdengar saat berhasil dikeluarkan. Memecah ketegangan di ruang persalinan. Seorang bayi perempuan terlihat begitu mungil dan masih berlumpur darah. 

__ADS_1


"Anak kita sudah lahir, Sayang."  Air mata Felix menetes melihat anaknya yang sudah lahir. Chika hanya mengangguk, lemas. Merasa senang anaknya bisa lahir. 


"Jangan memejamkan mata yang, Bu." Dokter memotong pusar dan memberikan bayi pada perawat untuk dibersihkan. Meminta Chika tetap tersadar.


Dokter melanjutkan kembali proses pembersihan pada Chika. Karena tak ada robekan terlalu lebar, jadi tak banyak terlalu lama.


Bayi yang sudah dibersihkan ditaruh di atas dada Chika. Bayi dengan jenis kelamin perempuan itu begitu kecil dengan berat badan 2,9 kilogram dengan panjang 52 centimeter. 


Kulit keriput bayi begitu terlihat sangat rapuh, tetapi tak menghentikan Chika untuk memeluk anaknya. 


"Anak kita." Chika meneteskan air mata melihat anaknya. 


"Iya. Ini anak kita." Felix begitu terharu dengan melihat anaknya. 


Bayi kecil itu bergerak mencari di mana dia bisa mendapatkan susu. Saat mendapatkan puncak  dada Chika, bayi kecil itu berusaha untuk menyesap, menyusu untuk pertama kalinya. 


"Anak Papa haus?" Felix melihat anaknya berusaha menyusu. Begitu senang melihat putri cantiknya. "Apa nama pilihanmu itu mau dipakai?"


"Tentu." Felix dan Chika sudah menyiapkan nama untuk anak mereka. Bayi cantik yang begitu mengemaskan.


"Hai, Freya Callandra. Wanita yang akan memberikan kegembiraan. Kelak kamu akan membuat orang-orang di sekitarmu bahagia." Felix mendaratkan kecupan di kepala anaknya.


Chika tersenyum saat mendengar nama yang dipilihnya yang dipakai Felix. Ada dua nama yang dia berikan pada Felix, Freya Callandra dan Felicia Amaya. Namun, Felix lebih memilih untuk nama Freya. Kelak jika dia akan memiliki anak perempuan lagi, mungkin nama Felicia yang akan disematkan.


Akan tetapi, bukan dalam waktu dekat ini. Mengingat begitu menyakitkan proses melahirkan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2