Wedding Project

Wedding Project
Tidak Baik-Baik


__ADS_3

Tadi Chika yang haus berniat ingin pergi ke dapur. Saat baru membuka pintu, dia mendengar pembicaraan Felix, Bryan dan Regan. Chika mendengar dengan jelas bagaimana Felix mengatakan jika dia akan menjaganya.


Mengingat akan hal itu, terbesit rasa bersalah di hati Chika. Dia merasa jika Felix benar-benar berusaha untuk berubah.


Terlalu egois jika aku terus menggodanya jika dia sedang sangat berusaha. Padahal mungkin butuh kekuatan lebih untuk berusaha menahan godaan. Akan tetapi, aku tidak menyukainya. Aku tidak bisa memaksakan perasaanku.


Perasaannya yang sudah terpatri nama Erix membuatnya tidak bisa menggantinya dengan nama Felix.


Jika aku harus mengakhiri hubungan pertunangan, berarti paling tidak aku harus membuatnya menemukan wanita yang tepat.


Kini Chika mengubah cara untuk membatalkan rencana pernikahannya. Dia tidak mau jika pergi dengan meninggalkan luka.


Aku akan rencanakan lagi semua.


Karena merasa haus, akhirnya dia memilih untuk keluar kembali dari kamar. Niatnya untuk minum memang tertunda tadi karena merasa tidak enak dengan Regan dan Bryan.


Melewati ruang tamu, dia melihat Felix yang tertidur di sofa. Melihat wajah polos Felix yang tertidur pulas, membuat Chika mendekat. Entah magnet apa yang membuatnya mendekat, tetapi langkahnya menghantarkannya berdiri tepat di samping Felix.


Apa perasaanku saja, kenapa dia terlihat polos sekali saat tidur.


Melihat Felix, dia melihat sosok lain. Tak tampak pria yang suka bermain dengan wanita, hanya terlihat pria biasa yang tampak tampan dan mempesona.


Chika mengerap-ngerjapkan matanya. Menyadarkan dirinya yang telah memuji Felix dalam pikirannya. Berbalik dia buru-buru ke dapur untuk mengambil minum. Kepalanya yang masih berdenyut, membuatnya menjatuhkan gelas yang dia ambilnya.


Mendengar suara benda jatuh, Felix terperanjat. Dia langsung bangun dari tidurnya dan mencari sumber suara. Suara yang terdengar dari dapur, membuatnya bergegas menuju ke sana.


"Auch … " teriak Chika saat tangannya terkena pecahan kaca yang dia punguti.


Melihat jari Chika yang berdarah membuat Felix langsung panik. berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan Chika, Felix menarik tangan Chika dan menyesap jari jemarinya. Berharap jika aliran darah yang keluar akan terhenti.


Mendapati Felix menyesap jarinya, membuat Chika tertegun. Dia menatap Felix lekat. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Felix menyentuhnya, tetapi entah perasaan aneh tiba-tiba menghampirinya.


Dia hanya membantuku seperti saat dia menggendongku saat pingsan dan saat memapah aku menuju UGD.


Chika menampik perasaan aneh itu dan meyakini jika itu hanya sebuah rasa empati saja, seperti yang dilakukannya tadi saat dirinya pingsan.


"Apa sudah lebih baik?" Wajah Felix begitu terlihat panik.

__ADS_1


"Tidak baik." Tanpa sadar kalimat itu yang keluar dari mulut Chika. Sekuat apa dia mencoba menampik perasaan aneh itu, dia tahu jika perasaanya sedang tidak baik-baik saja.


Mata Felix yang sedang fokus melihat jari jemari Chika, beralih menatap wajah Chika. Dahinya berkerut diiringi matanya yang menyipit, merasakan bingung dengan jawaban Chika.


Akan tetapi melihat tatapan Chika yang kosong membuatnya semakin merasa aneh. Seolah wanita yang berada di hadapannya itu sedang tidak fokus dan jawaban yang diberikan padanya bukan jawaban atas pertanyaannya.


"Chika." Felix mencoba memanggil Chika.


Panggilan Felix itu mampu mengembalikan kesadaran Chika. "Hah … apa?" tanyanya bingung.


"Apa jarimu sudah jauh lebih baik?" Felix mengulang kembali pertanyaannya yang tadi diberikan pada Chika.


Manik mata Chika beralih pada jari jemarinya. Melihat darah yang tadi keluar seketika berhenti. "Aku baik-baik saja." Dia menarik tangannya perlahan. Sedikit merasa tidak enak dengan apa yang baru saja dilakukan Felix.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Felix yang ingin tahu. Matanya melihat gelas yang pecah dan ada sedikit percikan darah.


"Aku tadi haus dan berniat minum, tetapi aku sedikit pusing, akhirnya menjatuhkan gelas yang aku bawa." Chika menjelaskan dengan wajah penuh penyesalan karena telah memecahkan gelas.


"Kenapa tidak memanggil aku?" Dengan tatapan teduh dan suara yang lembut, Felix bertanya pada Chika.


Apa aku yang merasa dia lembut sekali? Apa aku saja yang tidak tahu?


Felix langsung berdiri dan memegangi lengan Chika lembut. "Biar aku saja."


Mata Chika beralih menatap tangan Felix yang memegangnya. Mendapati tatapan Chika, Felix langsung melepaskan cengkeramannya di lengan Chika. "Maaf."


"Tidak apa-apa." Chika membuang wajahnya untuk menjauhkan wajahnya yang merona, dia tidak mau Felix melihat dia yang sedikit salah tingkah.


Tatapan Chika yang menatap arah lain, membuat Felix sadar jika Chika berusaha menghindarinya. Dia menguatkan hati melihat Chika yang belum bisa menerimanya.


"Duduklah, aku akan mengambilkan minum untukmu dan akan aku bersihkan pecahan gelas ini." Felix menunjuk meja makan.


Chika mengangguk dan berlalu ke meja makan untuk menunggu Felix. Sesaat kemudian, Felix datang dengan segelas air. "Terima kasih," ucapnya.


"Iya," jawab Felix dengan menyelipkan senyuman di wajahnya. Kemudian, dia berbalik untuk membersihkan pecahan gelas.


Sambil minum, Chika memerhatikan Felix yang sedang membersihkan pecahan gelas. Pria yang sekarang menjadi tunangannya itu dengan telaten membersihkan pecahan gelas hingga mencari serpihan-serpihan kecil di sekitar dapur.

__ADS_1


"Apa yang ada kamu butuhkan lagi?" tanya Felix sesaat kembali menghampiri Chika.


"Tidak," jawab Chika disertai gelengan.


"Apa kamu masih pusing?"


"Masih sedikit." Chika memang masih merasakan kepalanya yang masih berdenyut.


"Besok-besok jangan memaksakan diri untuk begadang malam, jika sebenarnya kamu tidak kuat." Felix menatap Chika dengan tersenyum, mengingat bagaimana Chika tidak mau pulang saat dia mengajaknya pulang.


"Aku hanya ingin tahu dunia malammu." Alasan itu yang dipakai Chika.


"Ingin tahu dunia malamku atau mantan kekasihku?" Felix tahu jika Chika ingin sekali melihat salah satu dari kekasihnya datang ke klub.


Chika menelan salivanya saat Felix tahu alasannya semalam. Memang benar jika dia menunggu kekasih Felix datang.


"Apa yang ingin kamu tahu, aku akan mengatakannya." Felix menatap lekat wajah Chika.


"Benarkah?" Mata Chika berbinar senang dengan apa yang dikatakan Felix. Seolah dia menemukan jalan keluar dari permasalahannya.


"Iya, tetapi nanti setelah kamu sembuh. Aku akan ceritakan semuanya." Hanya itu yang bisa Felix lakukan. Melepas belenggu masa lalu untuk menggapai masa depan.


Chika mengangguk senang. Pikirannya sudah melayang menyiapkan amunisi untuk bisa lepas dari rencana pernikahan dengan Felix.


"Sekarang istirahatlah," ucap Felix.


"Tapi aku lapar," jawab Chika polos.


Felix tersenyum kembali mendengar jawaban polos Chika. Melihat Chika begitu membuat Felix gemas. Ingin rasanya Felix mendaratkan kecupan bertubi-tubi di wajah mengemaskan itu, tetapi sayangnya itu hanya khayalannya saja.


"Baiklah, aku akan pesan melalui aplikasi." Felix berdiri dan mengambil ponselnya di ruang tamu untuk memesan makanan.


.


.


.

__ADS_1


...Berikan Hadiah, vote, komentar dan like...


__ADS_2