
Pagi-pagi, Shea dan Bryan yang mendengar jika Chika sudah melahirkan langsung ke Rumah sakit. Mereka menitipkan El pada kakaknya.
Setelah mendapatkan kabar jika Chika sudah dibawa ke ruang rawat, Shea dan Bryan menuju ke ruang perawatan.
"Shea … Bryan …." Chika dan Felix terkejut saat teman sekaligus tetangganya itu datang.
"Bagaimana keadaanmu." Shea menghampiri Chika.
"Aku baik-baik saja. Persalinan lancar." Walaupun tubuhnya masih lemas, Chika tersenyum.
"Syukurlah, aku benar-benar khawatir."
"Kenapa tidak menghubungi aku semalam?" Bryan menepuk bahu Felix. Wajah temannya itu juga tak kalah lelah, mengingat semalaman dia tidak tidur.
"Aku panik, tidak terpikir sama sekali."
"Tidak apa-apa, Bry. Yang penting anaknya sehat." Chika ikut menimpali.
Saat mendengar anak, Shea dan Bryan mencari anak yang baru saja dilahirkan Chika. Mereka mendapati jika anak masih di ruang bayi untuk melakukan pengecekan lanjutan.
"Bagaimana prosesnya?"
"Ini." Felix menunjukan lengannya yang lecet karena kuku istrinya.
Bryan dan Shea bergidik ngeri membayangkan luka yang didapat Felix. Sudah dipastikan pasti Chika melampiaskan semua pada tangan suaminya.
"Dia memang tak banyak mengeluh, tetapi memendam dan dilampiaskan padaku," ucap Felix tersenyum. Kemudian mendaratkan kecupan di puncak rambut Chika. "Tapi rasa sakitnya pasti tak akan sebanding dengan bagaimana kamu melahirkan."
Chika tersenyum tipis. Suaminya pasti bisa merasakan, bagaimana tadi berjuang.
Bryan dan Shea yang melihat romantisme sepasang suami istri itu ikut senang. Mereka pernah ada diposisi itu. Posisi sangat bahagia seperti Felix dan Chika saat mendapatkan El.
"Anak kalian laki-laki atau perempuan?" Bryan jadi teringat untuk bertanya jenis kelamin anak temannya.
"Perempuan."
"Wah … senang sekali dapat anak perempuan. Pasti sangat cantik."
"Iya secantik mamanya."
"Aku juga mau, Sayang." Shea menatap Bryan.
__ADS_1
"Nanti kita buat setelah dari sini."
Shea memanyunkan bibirnya saat suaminya hanya menggodanya.
"Kami akan melihat anak kalian kalau begitu." Shea sudah tak sabar. Dia mengajak serta Bryan untuk menengok anak Felix.
Di ruang bayi, beberapa bayi berada di dalam box bertuliskan nama orang tuanya. Dari balik kaca Shea mencari nama Felix dan Chika yang tertera di dalam box.
Saat mendapat nama Felix dan Chika, mereka mendapati seorang bayi perempuan dengan kulit putih. Terlihat begitu cantik dan mengemaskan.
"Lihat cantik sekali, bukan?" tanya Shea pada Bryan. Matanya beralih pada nama yang tertera di box. "Freya Callandra Julian." Dia membaca nama yang tertera. "Wah baby Freya, nama yang cantik." Senyum tertarik di sudut bibirnya.
"Iya, nama yang cantik." Bryan juga ikut tersenyum. Melihat anak perempuan Felix, rasanya dia juga ingin anak perempuan juga.
Tangan Shea membelai kaca seolah sedang membelai bayi mungil itu. Ingin rasanya menggendongnya, tetapi bayi itu masih dalam pengawasan dokter untuk mengetahui kondisinya.
Mata seolah tak mau berpindah melihat keajaiban Tuhan yang begitu luar biasa. Seorang anak keluar dari rahim ibunya dengan begitu sempurna.
"Kalian di sini?"
Suara bass terdengar saat Bryan dan Shea sedang asyik melihat anak Felix. Mereka berdua menoleh dan mendapati Alex ada di dekat ruangan bayi juga.
"Kami sedang menengok bayi Felix," jawab Bryan.
"Aku ingin melihat anakku."
Bryan dan Shea terkejut mendengar anak yang disebut oleh Alex. Mereka ingat betul belum pernah datang ke acara pernikahan Alex.
"Kak Alex sudah menikah?" tanya Shea penasaran.
"Sudah, Se."
"Kenapa tidak mengundang?" Bryan tak kalah antusias mendapat beritaha.
"Helena tidak mau ada yang tahu."
"Kak Alex menikah dengan Helena?" Shea membulatkan matanya tak percaya mendengar kabar itu.
"Iya."
Bryan dan Shea mengangguk. Mereka ingin tahu alasan kenapa tidak diadakannya pesta, tetapi tak mau mencampuri urusan orang lain terlalu dalam. Mungkin ada alasan khusus seperti mereka dulu.
__ADS_1
"Anak Kak Alex yang mana?" Shea melihat ke ruangan bayi untuk melihat anak Alex dan Helena.
"Itu, dari pojok kanan nomor tiga." Alex menunjuk satu box bayi.
Bryan dan Shea melihat ke arah bayi yang ditunjuk oleh Alex.
"Aletha Mercela Davis." Shea membaca nama yang tertera di box. "Kenapa kalian semua melahirkan anak perempuan?" keluh Shea. Setelah Felix dan Chika, kini gantian Alex dan Helena yang melahirkan anak perempuan.
"Nanti kamu juga akan datang anak perempuan." Bryan menenangkan istrinya yang begitu ingin anak perempuan.
"Oh ya, Sayang, kita jenguk Helena saja sekalian." Shea menatap Bryan dan mendapati anggukan dari Bryan.
Bersama Alex mereka menuju ruang rawat Helena. Melihat wanita yang baru saja melahirkan itu.
***
Di kamar perawatan, Felix menyuapi Chika. Dia ingin istrinya itu bisa cepat pulih dan bisa cepat kembali pulang.
Ketukan pintu terdengar saat Felix sedang menyuapi. Tampak Bryan dan Shea masuk ke dalam kamar rawat.
"Apa kalian menunggui anakku tidur," sindir Felix.
"Tidak, kami tadi menengok Helena," jawab Bryan.
"Kenapa Helena?"
"Dia juga baru saja melahirkan."
"Oh ya, hamil anak siapa? Bukannya dia belum menikah?"
"Anak Alex dan ternyata mereka sudah menikah." Bryan memulai bergosip tentang wanita yang pernah disukainya itu.
Felix terkejut, tetapi tak terlalu lama karena menyadari memang bukan urusannya Helena dan Alex menikah atau belum.
"Aku akan menengoknya nanti."
Bryan mengangguk. Kemudian berpamitan pulang. Rencananya Selly dan Regan akan bergantian ke Rumah sakit, jadi Shea akan bergantian untuk menjaga anak-anak.
.
.
__ADS_1
.
.