
Mata yang masih mengantuk, masih enggan untuk terbuka. Namun, perut yang terasa tidak nyaman, membuat tubuh memaksakan untuk bangun. Menyibak selimut dan memindahkan tangan Felix yang berada di tubuhnya, Chika bangkit dari tempat tidur.
Buru-buru, dia menuju ke kamar mandi. Perutnya yang tidak nyaman, membuatnya ingin muntah.
Rasa ingin muntahnya sudah sampai di tenggorokan, membuatnya berlari cepat sebelum sisa makanan semalam keluar dan mengotori lantai.
Hoek … hoek ….
Chika memuntahkan semua isi perutnya. Makanan yang semalam dia makan keluar semua dan membuat tenggorokannya begitu sakit.
Felix yang sayup-sayup mendengar suara Chika dan membuatnya mengerjap. Di sisi ranjang Felix tidak menemukan istrinya. Menajamkan pendengarannya, dia mendengar suara istrinya dari kamar mandi.
"Chika muntah," gumamnya seraya menyibak selimutnya. Buru-buru Felix menuju ke kamar mandi untuk mengecek keadaan istrinya.
Saat membuka pintu, tampak Chika sedang menunduk menghadap wastafel. Suara muntah terdengar bertubi-tubi seolah mengeluarkan semua isi perut yang ada.
"Sayang." Felix menghampiri Chika, kemudian membantu memijat tengkuk Chika untuk meredakan muntah yang sedang dialami istrinya.
Chika berkumur selesai memuntahkan semua isi perutnya, kemudian menegakkan tubuhnya. Felix membantu Chika untuk kembali ke kamar.
"Sebaiknya kamu tidur dulu, aku akan buatkan minuman hangat agar meredakan mualmu."
Chika mengangguk pasrah. Tak kuat untuk menolak atau pun melayangkan protes.
Sesaat kemudian, Felix datang dengan membawa secangkir minuman untuk istrinya. Wajahnya tampak begitu khawatir melihat istrinya sakit.
"Minumlah dulu." Menyodorkan secangkir teh herbal untuk Chika.
Chika menerima dan meminumnya. Rasa hangat seketika menghangatkan perutnya. Seketika dia merasa sedikit lega.
Sambil meminta cangkir teh, Felix berkata, "Sebaiknya kamu tidak perlu masuk kerja. Nanti aku akan meminta izin pada Kak Regan."
"Tapi pekerjaanku banyak."
"Kamu seperti ini, yang ada nanti kamu pingsan."
__ADS_1
Chika mengembuskan napas kasarnya. Keadaannya memang tidak sehat, tetapi pekerjaannya pasti di hari senin begitu banyak.
"Andai kamu tidka makan sebanyak itu kemarin, mungkin kamu tidak akan mual."
"Apa hubungannya?" Chika memutar bola matanya malas.
"Iya, perutmu terisi makanan terlalu banyak jadi akhirnya kepenuhan."
Chika memikirkan apa yang diucapkan suaminya. Membenarkan jika yang dikatakan suaminya jika karena kebanyakan makan dia mual. Karena seingatnya baru semalam dia makan banyak dan baru pertama kali juga muntah.
"Sudah, tidurlah lagi dulu. Aku akan minta asisten rumah tangga membuatkan bubur."
"Aku tidak mau bubur," jawab Chika cepat.
"Lalu kamu mau makan apa?"
"Aku mau makan sup asparagus."
"Baiklah, aku akan meminta untuk membuatkannya." Felix merapatkan selimut ke tubuh Chika dan meninggalkannya. Sambil keluar dia mengambil ponselnya di atas nakas.
Regan tidak masalah jika Chika tidak masuk kerja.
Selesai menghubungi Regan, Felix gantian menghubungi Bryan. Tak tega meninggalkan istrinya, dia memutuskan untuk tidak masuk kerja. Sama dengan Regan, Bryan juga mengizinkan Felix untuk tidak masuk kerja.
Felix membawa sup yang diminta oleh Chika. Menyuapi istrinya yang sedang manja minta dilayani.
"Apa sebaiknya kamu ke dokter?"
"Lalu apa nanti saat ditanya aku akan jelaskan jika aku mual karena makan banyak." Chika malu jika harus menjawab hal itu.
"Iya, memang apa yang akan kamu katakan jika bukan itu?"
Chika memanyunkan mulutnya kemudian membukanya saat Felix menyuapinya.
"Setelah makan, kita akan ke dokter, aku tidak mau kamu kenapa-kenapa."
__ADS_1
"Iya." Chika pasrah mengikuti suaminya yang ingin tahu keadaanya. Lagi pula Chika tidak mau berlama-lama sakit dan menganggu pekerjaannya.
***
Diantar Felix, Chika memeriksakan keadaanya ke dokter. Kepada dokter dia menceriakan apa saja keluhannya. Pagi tadi mual muntah dan kepalanya sedikit pusing.
Dokter memeriksa keadaan Chika. "Kapan terakhir datang bulan?" tanya dokter seraya menempelkan stetoskop di dada Chika.
Sejenak Chika terdiam. Ingatannya kembali pad saat dia mengecek tes kehamilan sebulan yang lalu. Karena waktu itu hasilnya negatif dia tak mengulang lagi. Dan sejak itu dia belum datang bulan lagi.
"Dua bulan yang lalu, Dok."
"Keadaan ibu baik-baik saja. Tidak ada indikasi asam lambung atau masalah lain pada perut. Jadi saya akan melakukan pengecekan sample darah untuk mengetahui apa yang terjadi pada Anda."
Chika mengangguk, tak mengerti untuk apa dirinya harus cek darah. Bangkit dari rajang periksa, Chika melakukan pengambilan sample darah dengan perawat. Kemudian dia menunggu di luar bersama Felix.
"Waktu Shea hamil, Erix juga mengecek dengan mengambil sample darah. Jangan-jangan kamu hami," ucap Felix.
"Bagaimana bisa aku hamil? Kamu tahu bukan waktu itu kita mengecek di rumah, tetapi hasilnya negatif."
"Iya, aku tahu, tetapi itu dua bulan yang lalu."
"Aku masih belum yakin." Sudah beberapa kali dia harus kecewa dengan hasil test kehamilan yang dipakainya dirumah. Jadi kini dia tak mau kecewa.
Felix tahu seberapa kecewanya Chika, tetapi dia masih menyimpan harapan istrinya tidak akan lama hamil. "Apa pun hasilnya, aku tidak masalah. Kita masih bisa mencobanya lagi bukan?" Dia mencoba menguatkan istrinya.
Chika mengangguk dan tersenyum. Tak mau sampai harapannya memiliki anak menjadi kesedihannya.
Felix memeluk tubuh Chika dari samping. Baginya, Chika hamil atau tidak, bukan masalah besar. Baginya hidup berproses, ada yang harus melalui proses panjang ada yang melalui proses pendek.
.
.
.
__ADS_1