Wedding Project

Wedding Project
Kontraksi


__ADS_3

Waktu bergulir dengan begitu cepat. Usia kandungan Chika sudah mencapai sembilan bulan. Liana memilih untuk tinggal di rumah anaknya, agar bisa menjaga menantunya. Ella dan Aland juga tak ketinggalan. Mereka selalu datang setiap hari untuk memantau anak mereka. 


Semua orang begitu perhatian pada Chika. Tak ketinggalan dua temannya sekaligus tetangganya, selalu datang untuk menemani hari-hari Chika yang membosankan. 


Semakin mendekati melahirkan, Chika begitu berdebar-debar. Apalagi dua temannya mengalami persalinan yang menegangkan. Selly yang sempat koma dan baby El yang sempat tidak menangis, membuatnya begitu takut. Namun, cerita dari mama dan mertuanya membuatnya lega, karena ada cerita yang tak menakutkan seperti Shea dan Selly. 


Setiap hari Chika selalu berolah raga sesuai dengan saran dokter agar persalinannya lancar. Felix sengaja mengundang pelatih yoga sendiri agar istrinya tak perlu ke mana-mana. 


Kamar bayi juga sudah disiapkan oleh Felix. Namun, karena mereka belum tahu jenis kelaminnya, mereka masih memilih warna-warna netral.


Sebagai calon ibu baru tetap saja Chika gemas melihat baju bayi perempuan yang begitu lucu. Akhirnya membuat dia membeli beberapa. Dia beralasan jika sampai anaknya laki-laki, dia bisa memberikannya pada Shea, itu juga kalau anak Shea perempuan.


Semakin mendekati melahirkan, Chika semakin susah makan. Felix sampai dibuat pusing karena harus membujuk istrinya makan. Sekalinya istrinya mau makan, Felix harus jadi tumbal. 


Pria dengan tubuh atletis itu kini harus merelakan tubuhnya penuh lemak, karena harus makan banyak untuk membuat istrinya tertarik untuk makan. 


Seperti malam ini, istrinya meminta makan pizza dan Felix harus makan terlebih dahulu, lalu menceritakan bagaimana enaknya pizza itu. 


"Kamu tahu tidak keju lelehan mozarella begitu enak. Ayo cepat makan." Felix makan, mengigit keju mozarella yang memanjang saat ditarik. 


Dengan semangat Chika memakan pizza yang begitu mengiurkan setelah melihat suaminya makan. 


Felix merasa senang karena istrinya akhirnya mau makan. Tak masalah jika harus rela membuat tumpukan lemak menempel di tubuhnya, karena semua sebanding jika istrinya mau makan. Lagi pula dia masih bisa berolah raga untuk membakar kalori dalam tubuhnya nanti.


"Jangan lupa makan salad-nya. Salad dari restoran pizza ini juga enak." 


"Iya, aku akan memakannya." Chika menjawab dengan tersenyum. 


Mereka berdua makan dengan lahap. Liana yang ada di meja makan hanya bisa menahan tawanya. Dia sudah tahu bagaimana anaknya yang berusaha menjaga tubuhnya dan harus rela makan makanan berlemak.

__ADS_1


"Tadi siang kamu makan apa?" Felix mengisi keheningan saat makan.


"Tadi Shea dan Kak Selly ke sini membawa ayam bakar, jadi aku makan itu." 


Felix merasa bersyukur saat siang ada dua istri CEO yang suka rela datang menemani istrinya makan. Dua wanita itu sudah seperti saudaranya yang begitu menyayangi istrinya.


Perut yang sudah kenyang membuat Chika menghentikan makannya dan meminta Felix menghabiskan. Pasrah, Felix memakan semuanya demi istrinya. 


Makan malam selesai, Liana, Felix dan Chika masuk ke dalam kamar. Mengistirahatkan tubuh mereka yang begitu lelah. 


Chika duduk di atas tempat, bersandar pada headboar tempat tidur. Menunggu Felix yang sedang mengambil krim untuk kulitnya. Berbekal informasi yang diberikan Shea, dia memakai krim itu untuk mengurangi stretch mark.


Felix yang membawa krim, menyusul ke tempat tidur. Mulai mengoleskan krim di perut buncit Chika. 


"Tuhan begitu hebat, menciptakan anak di dalam perut seperti ini." Sebagai manusia biasa, kekagumannya pada ciptaan Tuhan tak ada habisnya. Melihat perut istrinya begitu mengagumkan. Perut kecil itu bisa elastis dan membesar.


"Kenapa?" tanya Felix panik.


"Perutku sakit." Chika memegangi perutnya. 


"Apa kamu akan melahirkan?"  Felix merasa panik. 


"Belum tahu, ini sakit akibat kekenyangan atau akan melahirkan."


"Kalau begitu ayo kita ke dokter." 


"Kamu ingat bukan, dokter bilang jika harus menunggu kontraksinya terjadi dalam jarak yang sering, baru ke Rumah sakit."


Felix mengembuskan napas kasar. Baru mendengar perut sakit saja dia sudah mulai panik. Apalagi menunggu sampai kontraksinya sering. "Lalu kita harus apa?"

__ADS_1


"Kita tunggu saja. Sambil menghitung kontraksinya." 


Menunggu adalah hal menyebalkan, tetapi untuk dapat bertemu dengan anaknya yang akan lahir, dia harus siap.


"Sudah, kita tidur saja untuk menunggu." Chika memilih untuk tidur. Tak mau tergesa-gesa ke dokter. 


Dalam keadaan seperti ini, Felix tentu saja tidak bisa tidur. Pikirannya melayang memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini. Tak mau terlihat panik di depan istrinya dia memilih mengiyakan saja dan ikut tidur dengan istrinya. 


Chika masih meringis kesakitan, tetapi karena frekuensinya belum sering, dia memilih untuk bertahan dulu. 


Felix membelai punggung Chika agar meredakan sakit yang diderita istrinya. Walaupun memejamkan mata, tetap saja Chika tak bisa pulas. 


Malam semakin larut, Chika semakin merasakan kontraksinya semakin sering terjadi. "Sepertinya kita ke dokter saja," ucap Chika. 


Felix mengangguk. Kemudian dia membangunkan mamanya. Waktu menunjukan jam satu malam, saat mereka bersiap ke Rumah sakit.


Liana langsung menghampiri menantunya, menenangkan menantunya yang merasakan sakit akibat kontraksi perutnya.


Dengan cepat Felix menyiapkan mobilnya dan membawa istrinya ke Rumah sakit. Beberapa barang keperluan juga sudah serta dibawa. Tadi dia sempat meminta asisten rumah tangga menyiapkan.


Mobil melaju dengan cepat ke Rumah sakit. Felix begitu gemetar melihat istrinya yang meringis kesakitan. Walaupun tidak mengeluh, dia bisa merasakan jika istrinya begitu kesakitan. 


Entah kenapa, Felix merasakan perjalanan begitu lama. Padahal dia berusaha secepat mungkin untuk bisa melajukan mobilnya. Mungkin karena efek panik, membuat perjalanan terasa begitu lama.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2