
Hari ini sesuai janji minggu lalu, Chika dan Felix pergi ke salah satu mal untuk ice skating. Shea yang sudah menghubunginya, sedang menuju ke mal tempat di mana mereka bertemu minggu kemari.
Sampai di mal ternyata sudah ada Bryan dan Shea di sana. Sepasang suami istri itu tidak tampak membawa sang buah hati. Chika dan Shea saling menyapa dan saling menautkan pipi.
"Kemana El?" tanya Chika.
"Aku menitipkan pada Kak Selly agar aku bisa main ice skating bersama kalian. Lagi pula kita hanya main selama dua jam, jadi tidak akan lama." Shea menjelaskan dengan penuh semangat. Sudah tidak sabar menjajal permainan yang diceritakan oleh Chika.
Dua pria yang membawa alat-alat skating itu hanya bisa menggeleng. Mereka berdua sengaja membeli alat sendiri agar tidak menyewa. Akan tetapi mereka sudah bak pelayan, karena tidak ada satu wanita pun ikut membantu membawa.
"Ayo cepat kita mulai." Bryan yang menunggu dua wanita sedang asik bercerita, akhirnya membuka suaranya.
"Iya-iya." Shea tersenyum pada Bryan dan menarik Chika untuk menuju ke area ice skating.
Bryan dan Felix hanya bisa pasrah dan mengikuti keduanya. "Kamu tahu, nanti saat kamu menikah, jabatan setinggi apapun tidak akan ada artinya," ucap Bryan pada Felix dengan suara rendah.
"Untungnya jabatanku tidak tinggi jadi tidak berpengaruh." Felix juga mengecilkan suaranya saat berbicara. "Celakalah dirimu, sampai klienmu melihatmu membawa alat-alat seperti itu," goda Felix seraya melihat ke arah barang-barang yang dibawa Bryan.
Bryan melihat ke arah kanan dan kiri, memantau tidak akan ada klien seperti yang dikatakan oleh Felix. Kemudian dia memilih berjalan mendahului Shea dan Chika. Felix tertawa melihat Bryan yang panik. Dia senang sekali melihat wajah frustrasi atasan sekaligus temannya itu.
Shea dan Chika saling pandang melihat Bryan mendahuluinya. Kemudian mereka melihat Felix yang tertawa di belakang. Sudah dipastikan dua pria itu sedang bercanda.
Sampai di area ice skating, Bryan dan Felix memberikan alat pada Shea dan Chika. Mereka duduk di kursi yang tersedia, untuk memakai sepatu dan alat lainnya. Shea memakai sarung tangan, sedangkan Bryan bersimpuh di depan Shea untuk memakaikan sepatu pada istrinya itu.
Pemandangan itu tak luput dari pandangan Felix dan Chika. Felix sudah biasa melihat keromantisan pasangan suami istri itu, tetapi Chika jarang sekali. Hingga pemandangan itu menjadi sangat indah di matanya.
"Apa kamu juga mau aku pakaikan?" tanya Felix yang melihat Chika sedang memerhatikan Bryan dan Shea.
__ADS_1
Chika menoleh ke arah Felix yang sedang duduk tepat di sebelahnya. "Tidak perlu." Tangan Chika meraih sepatu miliknya. Membungkukkan tubuhnya, dia memakai sepatunya.
Felix tersenyum tipis dan kembali memakai sepatunya. Sesekali dia melirik Chika yang malu saat dia menggodanya. Selesai lebih dulu memakai sepatu, Felix berdiri dan mengulurkan tangan pada Chika.
Chika menengadah dan membuat tatapannya bertemu dengan tatapan Felix . Tatapan Felix benar-benar menghipnotisnya hingga untuk sepersekian detik dia terdiam. Sampai saat suara Felix terdengar kembali mengajaknya, dia tersadar.
Chika menerima uluran tangan Felix, karena memang dia tidak bisa berjalan dengan sepatu skating. Tubuhnya masih belum bisa seimbang jika tidak ada pegangan.
Shea pun melakukan hal yang sama. Berpegangan pada Bryan untuk mencapai area skating. "Kalau aku jatuh bagaimana?" tanya Shea pada Bryan.
"Tenang saja aku akan menangkapmu dalam dekapanku."
Pipi Shea merona mendengar ucapan Bryan, sedangkan Felix dan Chika saling pandang. Chika membayangkan jika dia yang jatuh, apakah akan seperti Shea dan Bryan saling mendekap.
Mata yang saling pandang membuat Chika buru-buru mengalihkan pandangan. Kemudian melangkah masuk ke dalam area ice skating. Kedua tangannya berpegangan dengan kedua tangan Felix. Posisi Felix yang berada di depannya dan menarik pelan tubuh Chika.
Chika memicingkan matanya mendengar ucapan Felix. Mengingat minggu kemarin, Felix memang tidak memakai sarung tangan dan memegangnya.
"Apa ini semacam usaha untuk mengindari perjanjian?"
"Anggap saja begitu." Felix tersenyum. Dia memang sengaja menyiapkan ini semua menghindari hal-hal yang akan membuat melanggar janjinya. Kembali menarik tangan Chika, Felix membuat tunangannya itu berjalan di atas es.
Chika berusaha keras untuk menyeimbangkan tubuhnya. Berusaha tidak jatuh karena tidak mau berada dalam pelukan Felix. Fokus Chika beralih ke sebelah di mana Shea dan Bryan yang asik berdebat. Sepasang suami istri itu saling sama-sama ketakutan akan terjatuh.
"Kamu pegang yang benar, nanti aku jatuh." Shea mengeratkan genggaman tangannya.
"Iya, ini juga aku pegang." Bryan yang sudah lama tidak main ice skating membuatnya juga takut. Tubuhnya juga terasa sulit untuk seimbang. Karena tubuhnya tidak seimbang, akhirnya membuatnya terjatuh. Tangannya yang menggenggam tangan Shea membuatnya menarik tubuh Shea, hingga istrinya itu terjatuh tepat di atas tubuhnya.
__ADS_1
Felix dan Chika terkejut melihat sepasang suami istri itu jatuh. Tubuh mereka yang saling bertumpuk seolah seperti drama film dengan adegan jatuh.
"Apa main tumpuk-tumpukan di rumah masih kurang hingga membuat kalian tumpuk-tumpukan di sini?" tanya Felix dengan nada menyindir.
Shea dan Bryan menoleh pada Felix dan melayangkan tatapan tajam. "Untuk apa aku melakukan di sini," elak Bryan kesal. Kemudian dia beralih melihat istrinya. "Sayang, ayo bangun tubuhmu berat," keluhnya.
"Apa berat?" Wajah Shea yang berjarak beberapa centimeter saja membuatnya dapat menatap mata Bryan.
Bryan menelan salivanya saat tatapan menghujam dilayangkan Shea. "Maksudku bukan begitu, Sayang." Bryan kalang kabut melihat istrinya kesal. Mengatai Shea berat secara otomatis akan membuat istrinya tidak akan berada di atasnya lagi saat melakukan pertarungan di atas ranjang.
"Tapi kamu mengatakannya!" Shea berusaha untuk bangun. Akan tetapi lantai es yang licin membuatnya terjatuh kembali dan menimpa kasar tubuh Bryan.
Sebenarnya tidak sakit tetapi gerakan tubuh Shea yang tiba-tiba jatuh membuatnya tubuhnya terhantam. Bryan hanya bisa pasrah tubuhnya tertimpa tubuh istrinya.
Felix dan Chika yang melihat kejadian itu justru tertawa. Pemandangan jatuh yang terjadi pada Bryan dan Shea memang benar-benar menggelikan.
Tanpa mereka sadari, tawa mereka membuat genggaman tangan terlepas dan membuat tubuh Chika tidak seimbang. Tubuh Chika terhuyung ke tubuh Felix. Tubuh Felix yang tidak siap menerima, akhirnya itu terjatuh juga.
Hal yang sama terjadi pada Felix dan Chika. Chika berada di atas Felix hingga membuatnya menempel sempurna di tubuh Felix. Saat jarak begitu sangat dekat, membuat pandangan mereka menjadi dekat. Deru napas keduanya terasa berhembus kencang seolah saling beradu.
"Lihatlah mereka iri dengan kita," ucap Bryan lirih.
'Hust …." Shea mengisyaratkan Bryan untuk diam. Dia sedang melihat temannya yang memandangi tunangannya. Tersirat ada getaran cinta di dalamnya.
.
.
__ADS_1
.