Wedding Project

Wedding Project
Ruang Kosong


__ADS_3

Tiga jam perjalanan akhirnya sampai juga. Felix yang memiliki apartemen di tempat yang dibangun Bryan, memilih untuk tinggal di sana. Mengajak Chika untuk tinggal di sana. Karena memang apartemen memiliki dua  kamar.


"Jangan macam-macam tinggal satu apartemen!" seru Shea yang menatap tajam pada Felix. Memberi peringatan pada teman suaminya. 


"Mereka sudah dewasa, kenapa kamu susah-susah memberi peringatan. Jika mereka melakukannya tidak masalah bukan," ucap Bryan berbisik. 


Shea menatap tajam pada Bryan. Merasa kesal dengan suaminya itu. Nyali Bryan langsung ciut saat melihat tatapan tajam seperti pisau itu. 


"Tenanglah. Aku tidak akan macam-macam." Dengan tegas Felix menjelaskan. 


Chika yang mendengar hanya diam saja. Walaupun di hatinya takut, tetapi dia tidak mau menunjukan pada Felix. Merasa tidak enak karena secara tidak langsung curiga pada Felix. Namun, di dalam hatinya meyakini jika Felix tidak akan melakukan apa-apa padanya.


Felix dan Chika masuk ke dalam apartemen. Chika melihat desain khas Eropa dari apartemen terlihat jelas tetapi tidak meninggalkan kesan modern.


"Berarti apartemen ini milikmu?" tanya Chika.


"Milik kita," ucap Felix. Dia mengambil minuman yang sengaja disiapkan oleh manager. 


Pipi Chika terdiam. Felix begitu mencintainya. Tetapi dia belum sepenuhnya. Walaupun sebenarnya dia sudah merasa nyaman pada Felix.

__ADS_1


"Suatu saat kita akan ke sini mengajak anak-anak kita." Felix yang melihat Bryan dengan El dan Regan dengan Al, merasa sangat iri. Ingin segera memiliki anak seperti teman-temannya itu.


Rasanya ada terbesit rasa bersalah di hati Chika saat mengetahui impian Felix begitu besar. "Kamu tahu sejak awal aku tidak mencintaimu. Em ... maksudku belum mencintaimu. Kenapa kamu mau menjalaninya?" tanya Chika. 


"Aku tahu jika sejak awal kamu tidak pernah mencintaiku, tetapi bagiku cintaku akan membawamu padaku." Felix mendekat pada Chika. "Mungkin aku tidak sempurna seperti pria yang kamu inginkan, tetapi aku yakin bisa membuatmu bahagia saat bersamaku."


Tatapan Felix pada Chika. Membuat gadis itu terpaku. Entah sihir apa yang membuat Chika tak berdaya. Namun, dia melihat ketulusan dari Felix.


"Jika aku mencintai orang lain apa kamu akan tetap berusaha membawaku padamu?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Chika.


"Tidak. Jika kamu mencintai orang lain, berarti tidak ada ruang untukku. Aku hanya akan masuk jika ada ruang kosong di hatimu. Jadi jika sudah terisi, aku akan mengalah."


"Apa di hatimu sudah ada yang mengisi?" tanya Felix tersenyum.


Chika tidak bisa menjawab. 


"Jika dia ada di hatimu. Keluarkan segera, agar aku bisa masuk," ucap Felix tersenyum. "Sudah istirahatlah. Besok tugas kita banyak." 


Chika mengangguk dan masuk ke dalam kamar. Kamar tampak begitu nyaman. Dia langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Pikirannya kembali pada ucapan Felix. Tentang ada tidaknya seseorang di hatinya. 

__ADS_1


Apa masih ada nama Erix? tanyanya di dalam hatinya sendiri. Terkadang dia lupa dengan perasaannya dengan Erix. Entah karena terlalu seringnya bersama Felix atau karena dia sudah jarang berkomunikasi dengan Erix. 


Chika benar-benar bingung dengan hatinya sendiri. Rasa nyamannya dengan Felix begitu dirasakannya. Belum lagi bagaimana Felix berlaku baik padanya. 


Aku harus menentukan secepatnya. Jangan sampai aku terjebak dengan perasanku sendiri.


**


Di kamar lain, Felix mengembuskan napasnya kasar. Dia melihat jelas wajah Chika yang terpaku tadi. Tanpa Chika mengatakan apa-apa. Dia sudah tahu jika di hati Chika ada seseorang. Namun, dia yakin bisa menggeser siapapun di dalam hati Chika. 


Aku yakin Chika akan jatuh cinta padaku. Akan aku buat dia mencintaiku sebelum menikah. Hanya itu yang bisa Felix lakukan. Menyemangati dirinya sendiri. 


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2