
Sesuai dengan apa yang dibicarakan semalam. Felix dan Chika akhirnya menemui Theo saat jam makan siang. Theo yang dihubungi anaknya begitu senang. Sekian lama dia tidak berbicara dengan anaknya, kini dia berbicara dengan anaknya kembali.
Di restoran Theo menunggu Felix. Dia datang lebih awal karena sangat bersemangat untuk bertemu anaknya. Sesaat kemudian, Felix dan Chika datang dan ikut duduk bersamaan.
Chika tersenyum pada Theo. Tangannya menggenggam tangan Felix yang berada di bawah meja. Menguatkan tunangannya yang sedang bertemu dengan papanya.
"Apa kabar, Nak?" Suara bass yang terdengar bergetar, seolah menahan tangisnya.
"Baik." Tanpa imbuhan panggilan Felix menjawab. Suaranya datar, seolah dia sedang berbicara dengan temannya.
Theo menyadari jika anaknya begitu sangat membencinya, jadi dia memaklumi sikap dingin Felix. Baginya anaknya mau menemui saja sudah lebih dari cukup. Tidak perlu muluk-muluk untuk berharap pelukan atau ungkapan rasa rindu.
"Ada apa kamu ingin menemui aku?" Senyum tersirat di wajah yang sudah sedikit terdapat guratan itu.
"Aku ingin Papa menjadi wali di pernikahanku."
Theo terkejut. Mendengar ucapan anaknya, seperti mendapatkan sebuah hadiah istimewa. Orang tua mana yang tidak mau datang di pernikahan anaknya. Apalagi menjadi saksi pernikahan.
__ADS_1
"Tentu saja aku akan datang." Theo melihat ke arah Chika yang tersenyum. Dia tahu jika calon menantunya ambil andil membuat anaknya mengundangnya.
"Tapi aku tidak mau Papa membawa serta istri Papa." Mengundang papanya adalah keputusan berat. Namun, dia belum siap jika harus mengundang istri baru papanya.
Tanpa harus bertanya alasannya, Theo mengerti. "Baiklah. Aku akan datang sendiri."
Felix lega, papanya mau menerima persyaratannya. "Aku ingin papa berdampingan dengan mama nanti di pernikahanku."
Theo mengangguk. Tak masalah jika harus berdampingan dengan mantan istrinya. Toh juga hubungannya dengan mantan istrinya baik. Selama ini, dia masih berkomunikasi karena Theo masih sering menanyakan keadaan anaknya.
"Kalau begitu aku permisi." Felix tidak mau berlama-lama dengan papanya. Melihat wajah sang papa, rasanya dia tidak tega. Walaupun di dalam hatinya ada kebencian, tetapi ada rasa sayang yang tersimpan dalam sudut hatinya.
"Baiklah. Papa doakan acara pernikahan kalian akan berjalan dengan lancar. "
"Terima kasih." Felix berdiri dan menarik tangan Chika.
Chika menganggukkan kepalanya, memberikan salam untuk berpamitan. Tak bisa menolak Felix yang sudah menarik tangannya. Mengajaknya untuk ke mobil.
__ADS_1
"Kenapa buru-buru pergi?" Saat di mobil Chika memberanikan diri untuk bertanya.
"Aku tidak bisa melihatnya lama-lama." Suara Felix terdengar bergetar. Ada terselip kerinduannya di dalam hatinya.
Chika menarik tubuh Felix dan memeluknya. "Jika kamu rindu, harusnya kamu memeluknya dan mengungkapkan kerinduan kamu."
"Aku terlalu kecewa." Antara rindu dan kecewa yang berada di hati Felix memanglah berdampingan bersemayam di hati Felix.
"Tak apa kecewa, jika memang itu ungkapan perasaan dalam hati, tetapi jangan sampai di tinggal terlalu di hati karena itu akan menjadikan kebencian yang menyiksa hati." Tangan Chika membelai lembut tubuh Felix. "Berusahalah mencoba ikhlas, karena itu akan membuat hatimu lebih tenang. Apa yang terjadi sudah garis takdir."
Felix terdiam. Memang semua sudah terjadi. Tak bisa dirubah atau disesali. Lagi pula mamanya sudah menerima dengan ikhlas. "Aku akan berusaha."
Chika merasa senang mendengarnya.
Masih dalam pelukan Chika Felix tak beranjak hingga suara perut Chika yang berbunyi membuatnya melepas dan tertawa.
Chika yang mendengar suara perutnya ikut tertawa. "Aku lapar." Dia tersenyum memamerkan deretan giginya.
__ADS_1
Felix tertawa dan mengusap kepala Chika. Merasa bersalah juga karena membuat tunangannya lapar. "Ayo kita mencari makan." Dia beralih memakai seatbelt dan melajukan mobilnya. Mencari restoran untuk makan siang sebelum kembali ke kantor.