Wedding Project

Wedding Project
Aku Akan Menikah


__ADS_3

Hari ini Chika pulang sendiri karena Felix menemani Bryan untuk menemui klien. Dia memilih untuk naik taxi mencapai apartemennya. Namun, saat menunggu taxi, dia melihat mobil yang tidak asing. 


"Hai Nona cantik," sapa Erix yang membuka kaca mobil. 


"Erix." Chika terkejut dengan kedatangan Erix. Padahal kemarin dia berniat untuk menghubungi pria itu, tetapi ternyata justru pria itu ada di hadapannya. 


"Apa kamu terkejut."  Erix membuka pintu mobil dan mempersilakan Chika untuk masuk. 


"Tentu saja aku terkejut." Chika masuk ke dalam mobil. Memakai seatbelt dan kembali bertanya pada Erix, "Kapan kamu pulang? Bukannya harusnya enam bulan baru kamu boleh pulang?" 


"Aku akan jelaskan nanti sambil kita minum secangkir kopi." Erix tersenyum manis pada Chika. Melajukan kembali mobilnya menuju ke salah satu restoran di dekat kantor Maxton.


Sampai di sebuah restoran mereka memesan kopi dan mulai berbincang. Menceritakan kisah masing-masing. Erix menceritakan apa yang membuatnya kembali dan mengambil cuti, sedangkan Chika menceritakan semua yang terjadi padanya selama ini. 


Setelah asyik berbincang Erix mengantarkan Chika untuk ke apartemennya. "Ketemu besok lagi." 


"Tentu." Chika turun dari mobil dan melambaikan tangan pada Erix yang melajukan mobilnya meninggalkan apartemen. 


Chika menuju ke apartemennya untuk membersihkan diri. Kemudian dia ke apartemen Felix untuk menyiapkan makan malam. Namun, saat sampai di apartemen, Felix sudah ada di apartemen. 


"Kamu sudah pulang?" Chika tersenyum manis. 


"Sudah." Felix sedang memainkan ponselnya duduk di sofa ruang tamu. Tanpa menoleh sama sekali pada Chika yang baru datang. 


Chika menghampiri Felix dan ikut duduk di sampingnya. Tangannya melingkar di tangan Felix ikut melihat ke arah ponsel Felix. Tenyata tunangannya itu sedang bermain game. 


"Aku mau bilang sesuatu." Ragu-ragu Chika mengatakan niatnya. 

__ADS_1


"Apa?" Felix masih terus saja memainkan game di ponselnya. 


"Aku mau mempercepat pernikahan kita." Sedari tadi pulang dari bertemu Erix, Chika sudah merencanakan akan hal itu. 


"Untuk apa mempercepat pernikahan?"


Dahi Chika berkerut dalam. Bingung kenapa Felix justru bertanya. Dia ingat sekali kemarin Felix begitu antusias untuk mempercepat pernikahannya. 


"Apa karena ini?" Felix mengambil sesuatu yang disimpannya di belakang tubuhnya dan melemparnya ke atas meja. Suaranya sedikit naik satu oktaf dari biasanya. 


Chika menatap apa yang dilempar Felix dan dia mengenali apa itu. Itu adalah undangan pernikahan Erix yang juga dia dapat tadi saat bertemu dengan Erix. "Apa maksud kamu dengan mengatakan aku mempercepat pernikahan kita dengan undangan dari Erix?" Dia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Felix. 


"Setelah Erix mencampakanmu dan menolak cintamu kamu ingin mempercepat pernikahan kita begitu bukan?" Felix menatap tajam pada Chika. Ingatannya kembali pada apa yang dilihat dan didengarnya tadi di restoran.


Felix yang melajukan mobilnya menuju ke kantor Chika, menjemput tunangannya itu, karena rencana bertemu klien dibatalkan. Namun, saat tiba di kantor, dia mendapati Chika masuk ke dalam mobil yang dia hapal mobil siapa itu. Itu adalah mobil Erix, orang yang menjadi rivalnya untuk mendapatkan Chika. 


Namun, tetap saja tak membuat perasaanya lega, karena kenyataanya  tunangannya pergi dengan Erix. Tak mau berlama-lama, Felix mengikuti mobil Erix. 


Sampai di sebuah restoran, Felix memakai masker, kacamata dan melepas jasnya, menyisakan kemeja putih yang dipakainya. Entah kenapa, dia ingin mendengar apa yang dibicarakan tunangannya. 


Duduk di kursi yang tak jauh dari Chika dan Felix, dia mendengarkan pembicaraan mereka.


"Aku akan menikah bulan depan." Erix tersenyum dan menyerahkan undangan pada Chika. 


Wajah Chika tampak terkejut saat dari kejauhan Felix melihatnya.


"Kamu akan menikah? Kenapa tidak memberitahu aku?"

__ADS_1


"Maaf, selama ini aku jarang sekali menghubungimu, jadi aku belum sempat memberitahu." 


Chika tampak mengembuskan napas yang dari jauh Felix lihat dan tidak bisa dia artikan apa. 


"Aku dengar kamu sudah bertunangan dengan Felix? Kenapa kamu tidak menceritakan padaku?" 


"Aku …." Chika tampak bingung menjelaskan. "Sebenarnya aku tidak menceritakan karena aku berencana menggagalkan rencana pernikahan."


Seketika Felix merasakan sesak yang teramat dalam saat mendengar ucapan Chika. Tidak menyangka jika tunangannya merencanakan itu semua. 


"Kenapa kamu merencanakan akan hal itu?" tanya Erix. 


"Karena aku mencintaimu."


Hati Felix semakin hancur mendengar hal itu. Tidak menyangka Chika sebenarnya tidak menyukainya. Ternyata kamu mengizinkanku mencium agar bisa membatalkan pernikahan?


Karena tidak mau mendengarkan lebih banyak ungkapan cinta Chika, Felix memilih pergi. 


"Apa maksudmu?" Pertanyaan Chika membuyarkan pikiran Felix yang mengingat kejadian tadi dilihatnya di restoran. 


"Aku mendengar semua pembicaraanmu dengan Erix di restoran. Bagaimana kamu terkejutnya mendengar Erix akan menikah dan Bagaimana kamu mengatakan cinta pada Erix."


Chika semakin dibuat bingung dengan ucapan Felix. Ungkapan cinta yang mana yang didengarnya. Mengingat kembali ucapannya pada Erix, dia menemukan jika dia mengatakan jika dia mencintai Erix. "Apa saja yang kamu dengar?"


Mendapati pertanyaan Chika, Felix malas sekali. "Bagaimana kamu berusaha membatalkan rencana pernikahan dan bagaimana kamu mengatakan cinta." 


Chika mengangguk-anggukan kepalanya. " Memang benar, aku merencanakan untuk membatalkan pernikahan kita." Dia tidak menyangkal sama sekali dengan tuduhan Felix. "Aku juga mengatakan kalimat "aku mencintaimu" pada Erix." 

__ADS_1


Mendengar pengakuan dosa Chika rasanya Felix kesal sekali. Berkaca pada papanya, Felix takut Chika akan kembali pada Erix setelah mereka menikah. "Kita batalkan saja pernikahan kita seperti yang kamu inginkan." Tak ingin bernasib sama Felix memutuskan hal itu.


__ADS_2