
"Apa gaunnya sudah kamu pesan?" Felix yang tidur di pangkuan Chika bertanya.
Chika yang sedang asik membaca buku menurunkannya dan melihat ke arah Felix. "Aku meminta mengubah sedikit ukurannya, agar pas di tubuh aku."
"Baiklah." Felix merasa lega, karena beberapa persiapan pernikahannya sudah selesai.
Chika melihat Felix tampak lelah, menebak pasti hari ini banyak yang sudah dilakukan tunangannya itu. Meletakkan bukunya, dia beralih memijat dahi Felix. "Apa kamu lelah?"
Merasakan pijatan di kepalanya, begitu membuat Felix nyaman. Matanya terpejam merasakan kenikmatan. "Aku lelah, tetapi senang karena semua rencana pernikahan kita sudah hampir selesai." Di samping mengerjakan pekerjaannya, Felix disibukkan menyiapkan semua untuk acara pernikahannya.
"Apa perlu bantuan?" Tangan lembut Chika terus memijat. Berharap itu bisa meredakan kelelahan Felix. Dia tahu bukan hanya fisik yang lelah, tetapi pikirannya juga begitu lelah.
"Tidak, lagi pula sudah hampir selesai." Felix membuka mata dan tersenyum.
"Baiklah." Chika menganggukkan kepalanya. Saat bersama Felix, dia teringat dengan papa Felix yang ditemuinya tadi sore. Sesuai niatnya, dia akan menanyakan pada Felix. "Em … apa kamu tidak akan mengundang papamu?" Sebenarnya Chika takut menanyakan akan hal itu, tetapi dia berusaha untuk menanyakannya.
Felix bangkit dan menegakkan tubuhnya. Sedikit terkejut dengan pertanyaan Chika. "Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan akan hal itu?"
__ADS_1
"Aku tadi bertemu dengan papamu. Saat aku bertanya apakah dia datang tidak, dia hanya menjawab "ada atau tidak kehadiranku, aku akan selalu mendoakan kalian" dan aku melihat guratan kesedihan dari wajahnya."
Felix menghembuskan kasar napasnya. Semalam, mamanya sudah membahas akan hal itu. Memintanya untuk mengundang papanya.
"Aku tahu kamu pasti sedih karena apa yang dilakukan papamu." Tangan Chika meraih wajah Felix. Membelai lembut rahang tegas yang mulus karena belum lama Felix mencukur bulu halus yang tumbuh di wajahnya.
"Aku akan mengundangnya."
Chika terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Felix. Tidak menyangka jika Felix akan mengundang papanya. "Benarkah aku senang sekali mendengarnya." Dia memeluk Felix. Merasa senang atas keputusan tunangannya. Chika tahu pasti tidak mudah mengambil keputusan itu.
"Kalau kamu terus memelukku, aku yakin malam pertama kita tidak akan terjadi setelah pernikahan, tetapi terjadi sekarang." Felix tertawa menggoda Chika.
Dengan cepat Chika melepasnya. Tak mau sampai hal itu terjadi. Wajahnya pucat membayangkan Felix akan melakukannya malam ini.
Melihat wajah Chika, Felix semakin tergelak. Wajah ketakutan Chika begitu sangat mengemaskan. "Aku hanya bercanda, tetapi tampaknya kamu serius sekali."
Chika yang mengetahui Felix hanya menggodanya, langsung mencubit perut Felix. Membuat Felix tertawa, karena cubitan tidak terasa sakit melainkan tetapi terasa geli. Keduanya saling tertawa. Felix yang gemas pun ikut membalas.
__ADS_1
Chika yang merasa geli memundurkan tubuhnya hingga membuat tubuhnya jatuh di sofa. Membuat Felix yang terus menggelitik berada di atas tubuhnya.
Felix menghentikan aksinya, saat melihat napas Chika yang sudah terengah. Tubuhnya yang berada di atas tubuh Chika membuatnya melihat wajah cantik, wanita yang dicintainya. Dia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik itu, agar dapat melihat dengan jelas kecantikan Chika.
"Sampai detik ini aku tidak pernah menyangka jika perjuanganku sudah sampai di titik ini." Felix ingat bagaimana nekadnya dia melamar Chika, padahal gadis itu tidak menyukainya sama sekali.
"Aku juga tidak menyangka jika aku akan terjebak pada perangkap yang aku siapkan sendiri." Chika tersenyum, mengingat bagaimana gigihnya dia menyiapkan semua jebakan untuk membuat Felix membatalkan pernikahan, tetapi dia justru terjebak dengan pesona Felix.
"Begitulah takdir, menyimpan misteri yang terkadang tak pernah kita bayangkan." Felix menatap Chika lekat. Sejenak pandangan mereka saling mengunci. Perlahan Felix mendekatkan wajahnya dan membuat Chika memejamkan matanya. Satu kecupan mendarat di dahi Chika. Kecupan dengan penuh perasaan bahagia.
Felix melepas ciumannya dan membuat Chika membuka mata. Tadi dia pikir Felix akan mencium bibirnya seperti tempo hari, tetapi tebakannya salah.
"Aku tidak akan mencium di bibir. Karena aku ingin menyimpannya sampai malam pertama kita."
Apa yang diucapkan Felix membuta Chika merona.
Begitulah yang kini dirasakan Felix. Saat mencintai dengan tulus, dia akan menjaga setiap incinya. Sebaliknya saat semua hanya nafsu belaka, dia akan merusaknya dengan dalil cinta. Terdengar aneh, tetapi itulah kenyataanya. Dulu yang dirasakannya hanya nafsu yang berselimut cinta. Namun, kini dia merasakan cinta sesungguhnya.
__ADS_1