
Felix melajukan mobilnya. Namun, dia tak menuju ke apartemennya. Tempat yang dituju adalah rumah Chika. Hatinya mengatakan dia ingin menemui wanita yang dicintainya itu.
Memarkirkan mobilnya di depan rumah Chika, dia menghubungi tunangannya itu. Sesaat kemudian Chika datang dan mengetuk pintu mobil Felix.
"Kenapa memintaku kemari?" tanya Chika. Dia terkejut karena tiba-tiba Felix menghubunginya. Padahal jelas-jelas sudah terlalu malam untuk datang. Namun, tidak mungkin jika tanpa alasan Felix datang.
Karena nasehat mamanya yang tak boleh bertemu Felix membuatnya diam-dam keluar. Dia hanya berharap taka akan ada apa-apa jika dia melanggar.
Felix tidak menjawab dan justru memeluk Chika. Hal itu membuat Chika semakin bingung.
"Apa kamu merindukan aku?" tanya Chika menggoda.
"Iya, aku terlalu merindukanmu."
Mendengar jawaban Felix, Chika tidak yakin. Karena nada suara Felix tampak berbeda. "Ada apa?" Dia tahu telah terjadi sesuatu.
Felix melepas pelukannya. Menatap Chika dan mulai menceritakan semuanya. Tak ada sedikitpun yang ditutupi dari Chika.
Setelah sekian lama keingintahuannya tetang siapa wanita yang dicintai Felix pertama kali, hari ini terjawab sudah. Jawaban pun dengan cerita dramatis juga. Tak menyangka wanita itu mengorbankan cintanya untuk kedua orang tuanya.
"Aku hanya tak mau kamu mendengar dari orang lain."
Chika tersenyum. Tak menyangka itu yang dipikirkan Felix hingga membuat tunangannya itu datang malam-malam. "Kalaupun aku dengar, aku akan bertanya dulu padamu sebelum marah."
__ADS_1
Manusia terkadang lupa untuk saling mengkonfirmasi berita hingga akhirnya membuat masalah pertengkaran terjadi. Namun, terkadang amarah menguasai hingga tak perlu konfirmasi untuk marah.
Dalam hal ini, kelak Chika akan mengkonfirmasi semuanya dahulu sebelum akhirnya terjadi masalah.
"Terima kasih."
Mereka saling tersenyum senang. Merasa lega karena kesalahpahaman sudah terjawab.
"Aku bersyukur Aluna memutuskan meninggalkan aku. Jika tidak, mungkin mama akan jadi orang yang paling tersakiti." Felix membayangkan mamanya akan terluka saat mengetahui dirinya menjalin hubungan dengan anak angkat wanita yang sudah merusak rumah tangganya.
"Mungkin ini sudah jalannya. Karena tahu seberapa sayang kamu dengan mama." Chika meyakinkan Felix.
"Kamu benar, terkadang cerita ditulis bukan serta merta bukan tanpa alasan. Kalaupun tak ada alasan untuk hari ini, esok kita akan menemukan alasan sebenarnya."
"Mungkin agar hidup kita kelak tak ada masalah dengan mantan. Jadi diselesaikan sebelum kita menikah."
"Berarti sekarang sudah tidak akan ada mantan yang tiba-tiba datang di pernikahan kita bukan?" tanya Chika menggoda.
Felix tersenyum. "Sepertinya tidak."
"Jangan sepertinya. Jawaban itu seolah tidak meyakinkan."
"Aku akan berikan penjaga dan foto mantanku, lalu mereka akan mencegahnya masuk jika sampai mereka datang."
__ADS_1
"Bagus, aku baru yakin."
Saat mereka tertawa bersama. Seorang wanita paruh baya menghampiri mobil Felix. Chika menelan salivanya saat tahu siapa wanita itu. Siapa lagi jika bukan mamanya.
Chika langsung keluar saat melihat mamanya, diikuti Felix yang keluar.
"Anak nakal, sudah mama bilang jangan bertemu. Sekarang justru bertemu diam-diam?" Ella menarik telinga Chika dan membuat gadis itu mengaduh.
"Ma, maafkan Chika, ini salah Felix." Felix yang tak tega membela.
Ella melepas tangannya yang berada di telinga Chika. Beralih menatap Felix. "Kamu juga sama saja ya." Dia menarik telinga Felix.
"Benar, Ma dia memang yang mengajak bertemu. Tarik saja yang kencang," seru Chika.
"Sayang, tadi aku membelamu, kenapa sekarang kamu tidak melakukan hal yang sama?" Felix tampak kesal saat tunangannya mendukung mamanya.
Chika hanya tertawa geli melihat Felix jadi korban kekesalan mamanya. Sungguh pemandangan tak boleh dilewatkan.
Ella yang puas menarik telinga Felix, melepaskannya. Kemudian meminta calon menantunya itu pulang.
Chika yang ditarik mamanya, menoleh ke belakang seraya mengerakkan mulutnya mencium Felix, membuat Felix tertawa geli melihat aksi calon istrinya.
Aku sudah tidak sabar menjalani hidup denganmu.
__ADS_1
Felix masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya. Ingin segera tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya. Berharap esok saat dia membuka mata, hari pernikahan itu telah tiba. Hari di mana Chika tidak akan jauh darinya lagi.