Wedding Project

Wedding Project
Kebaikan Kita


__ADS_3

"Dari mamaku." 


"Mama?" Dahi Felix berkerut. Sebenarnya Felix tidak terlalu tahu keluarga Aluna. Selama kuliah, mereka memang tidak pernah ke rumah masing-masing. "Apa mamamu mengenal keluargaku, hingga dia tahu berita itu?" tanyanya menyindir. Tak percaya informasi yang didapat oleh Aluna. 


"Kamu tidak mengenalmu, tetapi beliau mengenalmu." 


Felix semakin bingung. "Aku tidak mengerti maksudmu?" 


"Aku anak angkat istri papamu." Aluna menjelaskan dengan tersenyum. Senyum getir saat mengatakan apa yang harusnya dia katakan sejak dulu. 


Felix terkejut mendengar ucapan Aluna. Benar-benar tak mengerti. 


"Aku diangkat anak sebelum mamaku menikah dengan papamu dan setelah mereka menikah aku tahu jika yang dinikahi mamaku adalah papamu."


Aluna mengingat kenyataan pahit yang terjadi beberapa tahu silam itu. Saat menjalin hubungan dengan Felix, dia mengetahui jika mamanya menikah dengan Theo Julian, dari nama yang tersemat dia menduga jika itu adalah papa Felix. Sakit mungkin yang dirasakan Luna-panggilan akrab Aluna. Memilih melanjutkan dengan Felix, jelas tidak mungkin. Namun, meminta mamanya membatalkan pernikahan, dia tak punya hak sejauh itu. Apalagi mamanya begitu mencintai papa Felix. 


"Apa kamu meninggalkan aku karena itu?" 


"Iya."

__ADS_1


Akhirnya Felix mendapat jawaban atas pertanyaannya bertahun-tahun kenapa wanita itu meninggalkannya. Namun, hatinya tidaklah sakit, karena baginya semua sudah berlalu. "Lalu apa yang kamu inginkan dengan bertemu denganku?"


"Aku mencoba kuat untuk tidak bertemu denganmu. Namun, saat mendengar kamu sudah akan menikah, sudah waktunya aku menjelaskan. Karena aku yakin, sudah tidak ada aku di hatimu." Sekian lama Aluna menahan diri, tetapi kini semua ingin dia luruskan. 


Felix tersenyum. "Terima kasih sudah memberitahuku di waktu yang tepat." Dia menyadari jika Luna memberitahu saat dia masih begitu mencintai, pastinya akan menjadi masalah untuk keluarganya. Mamanya adalah orang yang akan terluka jika memutuskan menikahi Luna. 


"Maafkan, aku tidak memberitahukan sejak awal." Air mata Aluna mengalir. 


Felix menyodorkan tisu untuk menghapus air mata Aluna. "Sudahlah, semua sudah berlalu." 


"Mama …." Seorang anak kecil yang berusia sekitar enam tahun berlari menghampiri Aluna dan Felix. Seorang pria mengekor di belakanganya. 


"Mama kenapa menangis? Apa Paman ini jahat?" Seorang gadis kecil bertanya seraya menggapai wajah mamanya. 


"Tidak, Paman hanya tidak mau membelikan es krim." Aluna memberikan alasan pada si kecil.


"Kalau begitu biarkan aku saja yang membelikan." 


"Baiklah." Aluna menggendong anaknya untuk memesan es krim. Meninggalkan suaminya dan Felix. 

__ADS_1


"Hai, aku Adrian." Suami Aluna mengulurkan tangannya. 


"Aku Felix." Felix menerima uluran tangannya. "Terima kasih sudah memberikan kesempatan Luna menjelaskan." Dari bagaimana tanggapan suami Aluna, dia tahu jika perannya sangat penting dalam pertemuan ini. 


"Sama-sama. Aku hanya ingin membuatnya terbebas dari beban masa lalunya dan rasa bersalah karena meninggalkanmu." 


Felix mengangguk. Memang terkadang masa lalu selalu membebani masa depan. Terkadang ada yang beberapa menghalangi jalannya masa depan. Namun, apa yang dilakukan Aluna, sangat membantunya karena kini  Felix lega. Tak ada lagi pertanyaan kenapa Aluna pergi. 


"Aku bersyukur Luna mendapatkan suami sebaik dirimu."  Felix berdiri. "Terima kasih, titip Luna padamu." 


Adrian mengangguk dan tersenyum. 


Felix berpamitan dan meninggalkan restoran. Menitipkan salam untuk Aluna dan si kecil. 


"Apa dia sudah pergi?" tanya Aluna saat menghampiri suaminya. 


"Sudah."


"Terima kasih sudah mengizinkan aku menjelaskan semua."

__ADS_1


"Tentu jika itu untuk kebaikan rumah tangga kita." Adrian mendaratkan kecupan di dahi istrinya. Selama ini istrinya dibebani rasa bersalah. Kini semua terlepas dan terselesaikan dengan baik.  Tinggal menyongsong masa depan keluarganya tanpa beban masa lalu.


__ADS_2