Wedding Project

Wedding Project
Sabar


__ADS_3

Tamu silih berganti memberikan ucapan selamat. Chika sudah tampak kelelahan, tetapi senyumnya tetap tak surut dari wajahnya. Dari deretan tamu, terlihat Erix yang datang dengan Lyra. Dua dokter itu memberikan selamat pada Chika dan Felix.


Terkadang Felix merasa lucu, adanya Erix memang pemanis hubungannya saja, karena sejatinya, semua berporos pada dia dan Chika. 


"Selamat ya."  Erix mengulurkan tangan pada Chika dan beralih pada Felix. "Aku tidak menyangka kalian langsung tancap gas menikah." Erix meledek Felix dan Chika. 


"Tak mau kalah denganmu," jawab Felix tersenyum. 


"Kalian boleh lebih dulu, tetapi kami yang akan mempunya anak lebih dulu." Erix tetap tak mau kalah. 


"Baiklah, kita lihat saja!" Felix menerima tantangan Erix dan membuat tawa keduanya. 


Lyra yang berada di belakang Erix hanya tersenyum, kemudian memberikan ucapan selamat pada Felix dan Chika. 


Setelah kepergian Erix, pipi Chika merona, ada sedikit ketakutan membayangkan malam pertamanya nanti bersama Felix. Walaupun sering menonton film romantis, dia hanya sebatas melihat adegan ciuman saja. 


"Kenapa?" tanya Felix tersenyum menyeringai. 


"Tidak apa-apa." 


"Aku tahu kamu membayangkan malam pertama kita?" bisik Felix.


Chika menelan salivanya saat Felix menebaknya. "Tidak," elaknya. Dia menjadi salah tingkah mendengar pertanyaan Felix. 


Felix tersenyum, tak mau istrinya semakin merona. Karena hal itu sangat menggemaskan sekali baginya. Tak mau dibaginya pada orang lain. 


Acara berlanjut pada pelemparan bunga. Sebagai tradisi yang menandakan jika siapa yang akan mendapatkannya, akan segera menikah. Chika dan Felix melemparkannya. Saat menoleh mereka mendapati Erix yang mendapatkannya. Entah keberuntungan apa yang berpihak padanya hingga dapat membuatnya mendapatkan bunga. Padahal sedari tadi banyak orang yang mengantre.


Erix yang mendapatkan bunga, berlutut di depan Lyra, melamarnya dan mengajaknya menikah. Di tengah kebahagiaan Felix dan Chika, dua insan itu saling mengikat janji membawa hubungan mereka ke jenjang lebih serius. 


"Harusnya bunga itu jatuh pada orang yang membutuhkan," gerutu Felix. Dia sudah tahu jika Erix akan menikah, jadi bunga sebenarnya tidak  dia butuhkan. 

__ADS_1


"Dia yang mendapat rejeki bunga itu, kenapa kamu yang kesal?" goda Chika. 


"Ya anggap saja itu rejekinya." Felix memutar bola matanya malas dan membuat Chika melingkarkan tangannya di lengan Felix dan tersenyum. Felix pun tak kembali membalas senyumannya.


Acara usai, para tamu undangan kembali pulang. Felix dan Chika pun turun dari pelaminan untuk kembali ke kamar mereka, mengistirahatkan tubuh yang begitu lelah.


Namun, mereka menyempatkan dulu untuk menyapa Bryan, Shea, Regan dan Selly. Dua keluarga kecil itu berpamitan karena anak-anak sudah mengantuk karena sudah jam malam. 


"Aku harap kamu masih punya tenaga untuk memulai peperangan di atas ranjang." Bryan masih menyelipkan godaannya sebelum benar-benar pergi. 


Felix menatap malas pada Bryan. Namun, sejenak dia melihat wajah kelelahan dari Chika. Dia sangsi malam pertamanya ini akan berjalan malam ini. 


Setelah keluarga Adion dan Maxton pergi, Felix dan Chika berpamitan pada kedua orang tua mereka. Keluarga mereka memilih pulang dari pada menginap di hotel, mereka memilih membiarkan pengantin baru menikmati malam indah mereka tanpa ketakutan akan diketuk pintunya.


Felix dan Chika menuju ke kamar mereka. Saat kamar dibuka aroma bunga menguar. Aroma yang begitu menyejukkan. Chika menarik ke atas gaunnya dan masuk ke dalam kamar. 


Ruangan yang gelap, ternyata diterangi lilin-lilin yang berjajar di kamar. Membuat suasana begitu romantis. Chika menoleh pada Felix, sudah pasti suaminya yang menyiapkan semua itu. 


Lampu sengaja tidak dihidupkan agar mereka bisa melihat wajah yang terkena sinar dari lilin. 


"Bolehkah aku minta dihidupkan lampunya?" Chika dengan polos meminta itu. 


"Kenapa?"


"Aku seperti akan melakukan adegan film horor." Chika tertawa kecil. 


Felix terkesiap mendengar ucapan Chika. Usahanya untuk bersikap romantis buyar semua. Namun, dia tak mau merusak suasana dan memilih mengalah, menyalahkan lampu. 


Chika bernapas lega. Sejujurnya bukan itu alasannya. Dia masih begitu takut dalam situasi romantis dengan Felix. 


Lampu kembali menyala, wajah mereka terlihat jelas. 

__ADS_1


Felix menghampiri Chika kembali dan menatapnya. Trik jitu yang biasa dilakukannya adalah dengan tatapan. Biasanya dengan saling menatap, tubuh dengan sendirinya bergerak untuk saling mencari kenikmatan. 


Mereka saling menatap. Perlahan, wajah mereka saling mendekat. Saat jarak hanya beberapa centi saja, tiba-tiba Chika menjauhkan wajahnya. 


"'Kenapa?"


"Aku ingin membersihkan diri dulu." 


Felix mengembuskan napasnya kasar, kemarin Chika sudah mau menciumnya walaupun mereka baru saja makan, tetapi kini dia mengulang kembali protokolnya. 


"Baiklah." Felix pasrah. 


Chika melangkah menuju ke kamar mandi. Namun, langkahnya terhenti saat Felix memanggilnya. 


"Apa kamu akan membuka gaunmu di kamar mandi?" 


"Iya, memangnya kenapa?"


Felix melangkah menghampiri Chika. Tangannya menarik resleting belakang gaun yang dipakai oleh Chika. "Akan sulit membukanya."


Perlahan resleting terbuka dan membuat punggung mulus terlihat mengintip dari balik gaun, begitu terlihat menggoda. 


Chika merasa gemetar saat Felix membuka gaunnya. Perasaannya tak karuan. "Apa sudah?" tanyanya mengakhiri perasaanya yang cemas.


"Iya, sudah." Felix menahan gejolak yang menghampirinya. Bersabar mengikuti Chika yang ingin membersihkan diri terlebih dahulu. 


Chika masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dan keluar dengan memakai bathrobe, kemudian meminta Felix untuk mandi terlebih dahulu. 


Sabar Felix, bukankah lebih baik melakukan dalam keadaan bersih.


Felix menyemangati dirinya menahan gejolaknya. Berharap setelah ini nanti dia akan mendapat kenikmatan yang sebanding. 

__ADS_1


__ADS_2