Wedding Project

Wedding Project
Memberitahu Orang Tua


__ADS_3

Setelah memutuskan untuk mempercepat pernikahan akhirnya Felix mengurus semua. Hal pertama yang dia lakukan adalah datang ke rumah orang tua Chika. Menjelaskan jika mereka akan mempercepat pernikahan. Mereka memilih waktu pulang kerja untuk ke rumah Chika. 


"Kami ingin mempercepat pernikahan, Pa."  Felix menjelaskan niatannya.


Orang tua Chika terkejut, tetapi tidak mempermasalahkan akan hal itu. Mereka justru senang karena ternyata dua insan yang dijodohkan itu sudah saling mencinta.


"Baiklah jika itu yang kalian inginkan." Orang tua Chika menyerahkan semua pada Felix. Apapun keputusan Felix dan Chika mereka mendukung. Lebih baik pernikahan dipercepat dari pada terjadi apa-apa pada hubungan mereka. 


Felix dan Chika lega sekali karena kedua orang tua Chika setuju. Mereka tinggal menyiapkan semuanya untuk persiapan pernikahan. Mereka membahas apa saja yang akan dilakukan untuk menyiapkan pernikahan. Felix menjelaskan jika semua akan dia atur, sehingga keluarga Chika tinggal bersiap di hari pernikahan saja.


Puas berbincang mengenai pernikahan, Felix dan Chika memutuskan untuk pulang ke apartemen. Sepanjang perjalanan rona bahagia terpancar dari mereka berdua.


"Aku berharap semua berjalan lancar." Entah kenapa ketakutan seketika menghinggapi perasaan Chika.  


"Tenanglah, semua akan berjalan dengan lancar seperti yang kita harapkan."  Felix mendaratkan kecupan di punggung tangan Chika, memberikan keyakinan jika semua akan berjalan sesuai harapan.


Chika mengangguk. Merasa lega dengan apa yang sudah dijelaskan oleh Felix. 


Sampai di apartemen mereka mengistirahatkan tubuh yang begitu lelah. Saat matanya hendak terpejam, suara ponselnya berdering.


Meraih ponsel yang diletakkan di atas nakas, dia mengecek siapa yang menghubunginya malam-malam. Ternyata Shea yang menghubungi, Chika sudah menebak jika temannya itu pasti sudah tahu rencana pernikahan yang dipercepat. 


Benar saja dugaan Chika, karena waktu pertama kali Chika mengangkat sambungan telepon, dia sudah mencecar kebenaran pernikahan yang dipercepat.

__ADS_1


"Iya, kami mempercepat pernikahan."


"Kamu tahu aku benar-benar senang saat Bryan mengatakan jika kalian mempercepat pernikahan, itu berarti kamu sudah mencintai Felix." 


"Iya, aku mencintainya." Alasan yang akhirnya Chika temukan sebelum rencana pernikahan yang dipercepat. 


"Akhirnya kamu mengakui jika mencintai Felix." Shea adalah orang yang paling senang. Di awal dia sudah melihat kesungguhan Felix hingga membuatnya membantu asisten suaminya itu. 


"Terima kasih kamu sudah membantu selama ini." Chika sadar jika Shea yang selalu membuatnya untuk membuka hati. Hingga kini Felix masuk di dalam hatinya. 


"Sudahlah, aku senang melihatmu senang. Jadi jangan berterima kasih," ucap Shea. 


"Iya."


Chika terharu melihat orang-orang yang ingin membantunya. Tak menyangka banyak orang yang akan membantu. "Baiklah, aku akan kabari." 


Mereka mengakhiri telepon dan Chika meletakkan ponselnya di atas nakas. Memandangi langit-langit kamarnya, Shea merasa sangat senang. 


**


Di apartemen sebelah, Felix sedang menghubungi mamanya. Menjelaskan jika mereka akan mempercepat pernikahan. Liana sangat senang mendengar akan hal itu. Dia akan membantu anaknya untuk agar pernikahan bisa terlaksana. 


"Apa kamu tidak mau menghubungi papamu?" Liana ragu-ragu menanyakan akan hal itu. 

__ADS_1


Felix menyadari jika papanya masih hidup dan dia yang harusnya menjadi wali nikahnya. Namun, rasanya Felix benar-benar merasa berat untuk menjadikan papanya wali nikahnya. 


"Dengarkan mama. Mama sudah tidak mempermasalahkan akan hal itu. Lagi pula kita sudah hidup bahagia masing-masing. Jadi temui dia dan mintalah dia menjadi wali nikahmu."


"Aku akan pikirkan, Ma. Jika nanti aku siap, aku akan menemuinya." 


"Mama harap kamu bisa bijak menyikapi masalah mama dan papa." 


Felix mengiyakan dan mematikan sambungan telepon dengan mamanya. Dia masih memikirkan bagaimana hubungannya dengan papanya. Terkadang Felix heran dengan mamanya yang begitu mudah memaafkan. Menganggap semua hanya rencana Tuhan yang harus dilalui. Berbeda sekali dengannya yang masih menyimpan dendam pada papanya. 


Mungkin begitulah saat kita menjadi orang tua. Menyikapi masalah dengan tenang dan tanpa amarah. 


Felix hanya bisa membayangkan apa yang dilakukan mamanya selama ini.


Mungkin kelak aku akan akan sebijak mama jika sudah menjadi orang tua. 


Felix tersenyum dan perlahan memejamkan matanya. Menanti esok menyiapkan semua pernikahannya dengan Chika. 


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2