Wedding Project

Wedding Project
Sarapan


__ADS_3

Chika yang tadi istirahat, kini sudah segar. Dia sengaja mengajak Felix untuk ke restoran lebih awal untuk menikmati minuman hangat. 


Felix yang melihat Chika keluar dari kamar merasa sangat senang saat tunangannya itu memakai coat yang dibelinya. Walaupun Chika tidak tahu, tidak masalah baginya. 


"Aku suka susana di sini," ucap Chika saat menyesap coklat hangat yang dipesannya. "Tapi sayangnya aku tidak tahu kapan akan kembali lagi ke tempat ini." Chika yang merasa tidak akan mampu pergi ke luar negeri.


"Kalau kamu mau nanti saat kita bulan madu bisa ke sini."


Chika yang sedang meminum coklat hangatnya seketika tersedak. Buru-buru tangannya meraih tisu untuk mengelap bibirnya. Membayangkan menikah saja Chika belum. Apalagi membayangkan sampai bulan madu. 


"Apa kamu tidak mau?" Melihat reaksi Chika, Felix menduga jika Chika tidak suka. 


"Bukan begitu." Chika merasa tidak enak dengan Felix. "Aku hanya malu saja membahas bulan madu, sedangkan kita belum menikah." Alasan itu yang dipakai Chika agar Felix tidak tersinggung.


"Ayo kalau begitu kita percepat pernikahan, tidak perlu menunggu sampai enam bulan."


Chika membulat mendengar akan hal itu. Dia menyadari jika sebenarnya bukan itu yang dia inginkan. "Tidak akan semudah itu bukan mempercepat pernikahan. Lagi pula gedung dan perlengkapan lainnya tidak mungkin dipesan dengan waktu mendadak." 


"Aku akan atur jika kamu mau." Felix tersenyum. Baginya, hal mudah mencari gedung pernikahan dan semua pernak perniknya.

__ADS_1


Chika menelan salivanya mendengar ucapan Felix. Jika dipercepat sudah tidak ada jalan lagi untuknya lari. Akan tetapi, Chika sudah tak berniat untuk lari. Entah kenapa dia lebih memasrahkan takdir akan membawanya ke mana. 


"Hai … kalian sudah di sini," ucap Shea. 


Bagai dewi penyelamat. Suara Shea mengakhiri pembicaraan Felix dan Chika. Padahal Felix sudah tampak serius menunggu jawabannya. 


"Iya, kami ingin menikmati minuman hangat," jawab Chika. 


Shea yang mengendong El dan Bryan yang mengendong Al duduk bersama Felix dan Chika. Sepasang suami istri itu bersiap menyuapi dua bayi kecil dulu sebelum mereka makan. 


Sesaat kemudian orang tuan Bryan dan Regan datang dan bergabung untuk sarapan. Mereka begitu antusias menikmati sarapan.


"Belum, Bi." Felix menjawab lebih dulu dari pada Chika. "Kami masih menentukan tanggal yang pas," ucapnya lagi. "Terlebih lagi mungkin kami akan memajukan pernikahan kami." Felix menatap Chika mengucapkan apa yang baru saja mereka bahas. 


Wajah Chika seketika pucat. Pembahasan tadi, dia pikir tidak serius. Akan tetapi Felix menganggapnya serius. 


"Benarkah? Kalian mau mempercepat pernikahan?" Shea yang mendengar begitu antusias bertanya. 


Mulut Chika tertutup rapat. Bingung harus menjawab apa. 

__ADS_1


"Masih rencana, Se. Kami nanti akan bicarakan lagi." Felix yang melihat wajah pucat Chika tahu artinya. Sebenarnya dia sengaja mengatakan akan hal itu. Tidak main-main untuk mempercepat pernikahannya. 


"Aku akan senang hati membantu pernikahan kalian, jadi nanti jangan sungkan meminta tolong aku." Shea tersenyum. Dia senang temannya sudah memberikan celah sedikit untuk Felix masuk ke dalam hidupnya.


"Kamu memang harus membantuku," ucap Chika membalas senyum Shea. Baginya, Shea adalah bagian dari keluarganya, jadi adanya Shea pasti sangatlah penting. 


"Tenanglah aku akan siap membantu."


"Jika kalian butuh hotel dan perencana pernikahan, nanti Aku akan berikan  rekomendasi yang pernah dipakai Regan dan Selly." Lana ikut bicara di tengah-tengah pembicaraan Shea dan Chika. 


"Terima kasih, Bi," jawab Chika dan Felix bersamaan. 


Suasana meja makan semakin ramai dengan kedatang Selly dan Regan. Mereka melanjutkan makan sambil bercerita. Rencananya mereka akan ke Buckingham Palace dan berlanjut ke London eye. Setelah itu mereka akan menuju ke apartemen yang mereka akan resmikan besok. 


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2