Wedding Project

Wedding Project
Rumah Kita


__ADS_3

Chika masuk ke dalam apartemen. Di kamar dia melihat Felix yang sedang mengerjakan pekerjaannya. Chika yang melihat langsung menghampiri dan merebahkan kepalanya di pangkuan Felix. 


Tangan Felix yang berada di atas keyboard laptop terpaksa harus mengalah, menyingkir. Memberikan jalan kepala istrinya. 


"Kenapa cepat sekali?" Seingatnya, Chika bilang setelah makan akan jalan-jalan, tetapi istrinya itu sudah pulang saja. 


"Shea dan Kak Selly pulang karena Bryan dan Pak Regan menaruh Al dan El di keranjang cucian." 


Felix langsung tersenyum. Sudah menebak jika pasti Bryan yang memberikan ide itu, mengingat tidak mungkin Regan yang pendiam bisa berbuat seperti itu. 


"Seperti apa nanti jika kita punya anak?" tanya Chika. Wajahnya menatap ke atas untuk menjangkau wajah suaminya. 


"Aku ingin selalu bisa memberikan yang terbaik untuk anakku. Sehingga dia tak akan kekurangan sedikit pun." 


"Kalau anak kamu perempuan, apa kamu akan mengizinkannya berpacaran atau sampai melakukan hal lebih?" 


"Setiap orang tua berharap yang terbaik untuk anaknya. Tentu saja aku tidak mau. Tidak ada yang mau anaknya jadi buruk seperti halnya mungkin mamaku, tetapi tidak dipungkiri saat anak tumbuh besar, dia mulai mencari kenyamanan yang ternyata salah. Tugas kita ada mengarahkan, kalaupun sampai anak kita salah jalan, teruslah berusaha membenarkannya." Berkaca pada mamanya, Felix pun ingin seperti itu. Akan tetapi, dia takut juga kalau anaknya akan seperti dirinya yang tak mendengarkan ucapan orang tua. 


"Semoga kita bisa menjadi orang tua yang baik." 


Felix mengangguk dan tersenyum. Seburuk apa dia dulu, dia ingin membimbing anaknya menjadi anak yang lebih baik. 

__ADS_1


Chika yang berada di pangkuan Felix, memeluknya. Bahagia perubahan di dalam diri Felix sudah banyak sekali. Hingga kadang dia lupa jika kelakuan Felix dulu sangat buruk. 


"Aku mau mengajakmu pergi kalau memang kamu sudah pulang." 


Chika melepas pelukannya, terkejut dengan ajakan Felix yang tiba-tiba. "Ke mana?"


"Sudah ayo ikut." Dia mendorong tubuh Chika agar bangun dan bersiap. 


Chika hanya pasrah dan ikut ke mana Felix akan membawanya. Lagi pula tidak ada kegiatan yang dilakukan di sisa waktu liburnya. 


Mobil melaju membelah jalanan yang tampak lengang di Ibu kota. Chika yang duduk manis di sebelah, memperhatikan jalanan tanpa bertanya. Dia ingin menebak ke mana suaminya membawanya. 


Mobil sampai di kawasan rumah Bryan dan Regan, Chika menebak jika dia akan ke rumah dari salah satu mereka. Benar saja, Felix menghentikan rumah tepat di samping rumah Bryan. Entah kenapa tidak di depan rumah Bryan, Chika tidak mengerti. 


Chika dengan patuh ikut turun. Namun, dahinya berkerut saat melihat Felix mengajaknya menuju satu rumah yang berada di samping Bryan. 


"Ini rumah siapa?"


"Rumah kita." Felix tersenyum. Dia membuka pintu rumah dan mengajaknya masuk. 


Chika yang masih dalam kebingungannya mengikuti saja ke mana suaminya mengajak. Bentuk rumah memang tidak beda jauh dengan milik Bryan dengan desain minimalis. 

__ADS_1


"Selamat datang di rumah kita dan anak-anak kita." 


"Kenapa kamu tidak bilang jika punya rumah di sini."


"Ini baru, kemarin Bryan mengatakan padaku jika rumah di sebelahnya dijual, jadi aku membelinya. Lagi pula kelak kamu akan berhenti bekerja dan lebih banyak di rumah. Jadi dekat dengan Shea akan jauh lebih enak untukmu."


Chika langsung memeluk Felix. Tak menyangka suaminya memikirkan sejauh ini. "Tapi bukankah rumah ini mahal?" 


"Aku meminjam uang dari kantor sebagian dan sebagian uang tabunganku."


Terkadang Chika merasa heran. Mungkin bisa saja Felix mengurus perusahaan papanya mengingat jika papanya tidak memiliki anak lagi. Namun, dia memilih untuk berjuang sendiri.


"Terima kasih." Chika mengeratkan pelukan. Merasa sangat bahagia memiliki Felix yang selalu berjuang sendiri tanpa bantuan orang tuanya. 


"Secepatnya kita akan pindah." Felix mendaratkan kecupan di dahi Chika. 


Chika mengangguk. 


Felix mengajak Chika untuk berkunjung melihat kamar. Tak ada rasa yang mewakili selain rasa bahagia. Baginya semua sudah sangat indah untuk Chika. Kelak kehidupannya akan semakin indah saat anak menjadi pelengkap.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2