Wedding Project

Wedding Project
Sesi Belajar


__ADS_3

Chika yang melihat Felix masuk ke dalam kamar mandi merasa berdebar. Tubuhnya gemetar merasakan ketakutan. Tak ada sedikit pun bayangan adegan itu. Dia memikirkan harus bagaimana nanti. Jika berciuman dia bisa membalas, tetapi jika hal ini, Chika tak bisa membayangkan apa yang harus dia lakukan. 


Buru-buru Chika memakai baju tidurnya. Mencari tasnya yang tadi pagi dia bawa, tetapi sayangnya tasnya tidak ada. Padahal tadi dia sudah meminta kakaknya untuk meletakkannya di kamar. 


"Lalu aku pakai apa?" Chika bingung karena tidak ada baju yang bisa dia pakai. "Lebih baik aku tanyakan saja pada Felix nanti." 


Sambil menunggu Felix, Chika duduk di tempat tidur, meluruskan kakinya. Tubuhnya memang lelah, terutama bagian kakinya. Seharian berdiri membuatnya kelelahan. Tangannya bergerak memijat, meredakan kelelahan yang dirasakannya. 


"Kamu kenapa?" Felix keluar dari kamar mandi dengan menggosok-gosokan rambutnya yang basah. 


Chika yang sedang asyik memijat kakinya, menoleh pada Felix. Dia menelan salivanya melihat Felix yang keluar dengan handuk di pinggangnya. Tak berani berlama-lama menatap Felix, dia menundukkan kepalanya. 


"Kakimu pegal?" Felix melangkah mendekat. Mendudukkan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya menatap kaki putih yang dipijat. 


"I-iya," jawab Chika gugup. Yang dilihatnya adalah tubuh Felix yang sedang duduk. Tak melihat ke wajah suami yang mengajaknya berbicara. 


Namun, sejenak dia ingat dengan pakaiannya. Akhirnya, memberanikan melihat wajah Felix. "Ke mana baju-bajuku. Aku tadi meminta Kak Elia menaruh di kamar ini." 


"Mana aku tahu, apa kamu sudah cari dengan benar?" Felix menahan tawanya saat mendengar pertanyaan itu. Tadi sebelum dia masuk ke dalam kamar, dia sempat meminta petugas hotel untuk mengambil tas milik Chika, dan menitipkannya. Rencananya besok dia akan mengambilnya. 


"Aku sudah cari, tetapi tidak ada." 


"Mungkin Kak Elia tidak menaruhnya di kamar."

__ADS_1


Chika mendengus kesal karena ternyata kakaknya tidak mengantarkan tasnya. Karena ingin meluapkan kekesalannya, Chika berdiri dan  berniat menghubungi kakaknya.


Namun, tangannya ditarik oleh Felix dan membuat tubuhnya limbung. Tubuh Chika jatuh di pangkuan Felix. Menatap Felix, Chika begitu berdebar-debar.


"Tidak perlu menghubungi Kak Elia." Felix menatap Chika dengan tersenyum manis.


Senyuman yang diberikan Felix seperti sebuah tanda yang membuat tubuh Chika gemetar. "Kenapa? Jika aku tidak menghubungi Kak Elia, aku akan tidur dengan bathrope." 


"Siapa bilang kamu akan memakai bathrope." 


"Lalu aku pakai apa?" 


"Kamu tidak perlu memakai apa-apa." Felix tersenyum menyeringai. Perlahan dia mendaratkan bibirnya di bibir Chika. 


Chika hanya bisa pasrah. Sejauh apa dia berusaha untuk menghindar, waktu ini pun akan tiba. Dia membiarkan Felix mendaratkan bibirnya. Menyesap manisnya bibir dengan aroma mint.


Felix terkejut, dia melepas tautan bibirnya dan bertanya, "Kenapa?" 


"Kata Shea saat melakukan pertama kali sakit." Chika memberanikan diri untuk mengatakannya. Sebenarnya itulah yang berada di dalam benaknya. 


Shea? Nama itu seketika mengisi pikiran Felix karena mampu menghentikan kenikmatan yang akan direngkuh. "Kapan dia bilang?"


"Dia tidak bilang, tetapi pertama kali Shea mengatakan jika Bryan menyentuhnya dia begitu terlihat kesakitan." 

__ADS_1


Felix mengembuskan napas kasar. Tak menyangka jika Chika mendapatkan cerita seperti itu. "Apa kamu tidak ingat jika Bryan melakukan dengan paksaan pada Shea, jadi wajar saja bukan kalau sakit." 


"Memang apa bedanya?" Chika mendorong tubuh Felix agar suaminya itu menjelaskan. 


Kesabaran Felix benar-benar diuji. Harusnya sesi belajar ini dilakukan sebelum hari ini. Jadi hari ini tinggal praktek saja, gerutunya dalam hati. 


Mau tak mau Felix mengalah dan menjelaskan lebih dulu. Turun dari tubuh Chika, Felix memilih di sebelah Chika. 


Chika tak kalah antusias mendengar cerita. Dia memiringkan tubuhnya dan memerhatikan Felix yang menjelaskan bak guru dan murid. 


"Saat tubuh wanita tidak siap atau belum siap menerima hubungan intim, pasti sakit, seperti yang terjadi pada Shea."


Chika masih belum bisa menerima penjelasan Chika. 


"Jadi begini. Anggap kamu tuan rumah  Lalu aku mengetuk pintu pasti kamu akan membukakan bukan? Jadi aku masuk tanpa melukai siapa-siapa. Berbeda dengan aku yang ingin masuk, tetapi aku membobol pintu, pasti pintunya akan rusak. Ya rusak itu persamaan dengan rasa sakit tadi." 


Mendengar penjelasan Felix panjang lebar, Chika mengerti. 


"Harusnya Shea juga menceritakan setelahnya."


"Memang setelahnya apa?"


"Saat merasa sudah terbiasa dengan kedatangan, rasanya akan lebih nikmat." Felix tersenyum penuh arti. 

__ADS_1


Pipi Chika merona, dia tahu yang dimaksud.


"Rileks saja, terimalah kedatanganku." Felix kembali memposisikan mengkungkung tubuh Chika di bawahnya. 


__ADS_2