
Memanfaatkan waktu libur, Felix mengajak Chika untuk makan di luar. Menikmati makan di restoran langganan Felix. Bagi Felix hari ini cukup membantu membuat Chika dekat dengannya. Paling tidak menghabiskan waktu liburan kali ini mengasikan.
"Kamu waktu itu ingin menceritakan mantan kekasihmu, sampai sekarang belum." Suara Chika terdengar di tengah-tengah makan. Nada sindiran terdengar dari kalimat Chika dan membuat Felix tersenyum.
"Aku lupa."
"Lupa apa sengaja lupa?"
Felix semakin melebarkan senyumnya. Rasa ingin tahu Chika menyiratkan jika tunangannya itu ingin dekat dengannya. "Baiklah, aku akan ceritakan semua padamu. Yang keempat kamu sudah dengar waktu itu, jadi aku akan hitung mundur saja," ucap Felix dan mendapati anggukan dari Chika.
"Yang ketiga, bernama Nadia. Dia meninggalkan aku karena menikah."
Mata Chika membulat sempurna mendengar Felix yang mulai bercerita. Rasanya andai saja Felix menikah dengan pacarnya, Chika tidak harus terjebak dengan Felix. "Apa kamu tidak mengajaknya menikah? Apa kamu tidak melamarnya? Apa—"
"Dia hamil sebelum menikah?" potong Felix yang mendapati pertanyaan bertubi-tubi dari Chika.
"Hamil denganmu?" Dengan polos Chika bertanya hal itu.
"Kalau dia hamil denganku, aku akan menikahinya pastinya." Felix tersenyum dengan apa yang tanyakan Chika.
Mata Chika memutar, memikirkan jika yang dikatakan Felix ada benarnya. Tidak mungkin pria di hadapannya itu tidak bertanggung jawab, mengingat padanya saja Felix begitu bertanggung jawab.
"Lalu dengan siapa dia hamil?" Chika begitu penasaran.
"Dia selingkuh dan tiba-tiba dia hamil."
Chika bergidik ngeri membayangkan jika kekasih Felix itu berhubungan dengan dua pria dalam waktu yang sama dan sudah bisa Chika pastikan jika gaya pacaran Felix pasti sampai pada hal intim.
"Dia datang dan mengatakan padaku jika dia hamil." Felix melanjutkan kembali ceritanya.
"Lalu apa yang kamu lakukan." Chika memajukan sedikit tubuhnya. Semakin penasaran dengan cerita Felix.
Felix sedikit terkejut melihat Chika yang memajukan tubuhnya. Walaupun ada meja, jarak mereka semakin dekat. Karena tidak mau kehilangan kesempatan, Felix pun ikut memajukan tubuhnya saat bercerita.
"Aku menanyakan siapa pria yang menghamilinya." Felix sengaja memberi jeda agar berlama-lama bercerita. Semakin Chika penasaran, semakin Chika akan banyak menanyakan sebelum ceritanya lama.
"Kenapa kamu langsung menanyakan pria lain, sedangkan kamu juga pasti menyentuhnya?" Chika berpikir Felix pasti ambil andil dalam hal menghamili.
Tepat dugaan Felix jika Chika akan melayangkan pertanyaan padanya. "Aku memang berhubungan lebih dengannya, tetapi aku bukan penggila dan kami melakukannya hanya beberapa kali selama setahun pacaran. Aku juga melakukan semua dengan hati-hati dan mengunakan pengaman."
Chika masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Felix. Dia masih dengan tuduhannya yang mengatakan jika Felix ikut andil dalam proses pembuatan anak itu. "Bisa saja pengamanmu itu bocor." Kalimat bodoh keluar begitu saja dari mulut Chika.
__ADS_1
Felix langsung tertawa mendengar ucapan Chika. "Apa kamu pikir milikku itu bergerigi atau berduri?" tanya Felix dengan masih tertawa. Beruntunglah mereka ada di sudut restoran dan jauh dari pengunjung lain. Jadi pertanyaan Felix itu hanya Chika yang mendengar.
Pipi Chika merona mendengar ucapan Felix yang terdengar fulgar, tetapi dia menyadari jika dirinya yang memicu kalimat itu keluar. "Lanjutkan," ucap Chika mengalihkan kembali ke topik utama.
"Dia menangis dan meminta maaf telah selingkuh—"
"Dan kamu memaafkan begitu saja?" potong Chika lagi.
Felix menghela napasnya dan memasang senyuman di wajahnya. "Iya," jawabnya.
Chika menggelengkan kepalanya, heran dengan pria di hadapannya. Terbuat dari apa hati pria itu memaafkan semudah itu. Padahal jelas-jelas dikhianati.
"Aku juga yang mengejar pria itu untuk bertanggung jawab dengan menikahinya. Awalnya pria itu menolak, karena yakin aku juga melakukan pada Nadia, tetapi aku menantangnya untuk test DNA setelah anak itu lahir dan akhirnya pria itu menikahi Nadia dan saat anaknya lahir, aku benar-benar melakukan test DNA, agar Nadia kuat secara hukum jika anak yang dilahirkannya adalah anak suaminya."
Tubuh Chika lemas seketika. Pria macam apa yang akan menikahinya itu. Sebaik itu hatinya, hingga tak bisa Chika berkata-kata lagi. Untuk mendengar kisah kekasih Felix yang selanjutnya, Chika belum kuat, karena takut dengan kebaikan apa yang sudah dilakukannya untuk mantan kekasihnya yang lain lagi.
"Jangan kasihan padaku!" goda Felix dengan disertai senyuman di wajahnya.
"Siapa yang kasihan," elak Chika pura-pura tidak kasihan. Padahal hatinya begitu sakit melihat pengorbanan Felix. "Coba sekarang lanjutkan bagaimana dengan kekasihmu yang kedua," pinta Chika.
Felix terlihat memikirkan dan bagaimana memulai cerita. Merangkai kata yang pas untuk membangun sebuah cerita. "Aku mengenalnya saat aku naik bus ke kantor."
"Kamu naik bus ke kantor?" Chika kembali menyela pembicaraan Felix.
Chika langsung menggeleng. Walaupun sebenarnya ada yang salah, karena Felix memiliki mobil dan motor, kenapa pria itu harus bersusah payah naik bus.
"Kami berkenalan, namanya Natasya. Kebetulan dia bekerja di Adion juga. Dia cantik tapi sayangnya …."
Mendengar Felix menghentikan ceritanya Chika memajukan tubuhnya. "Dia kenapa?" tanyanya penasaran.
"Dia tidak terima karena hanya pegawai biasa di Adion. "
"Kenapa kamu berbohong?" tanya Chika.
"Berbohong untuk yang mana? Aku tidak berbohong karena memang pertama kali aku bekerja bukan sebagai asisten CEO. Awal aku dan Bryan bekerja sebagai karyawan biasa. Papa Bryan tidak langsung memberikan jabatan pada Bryan ataupun aku waktu itu."
Chika mengerti bagaimana bisa wanita itu tidak menerima Felix. "Berapa lama kalian pacaran?" tanya Chika penasaran.
"Sepertinya sebulan … salah ... sepertinya tiga minggu."
"Apa dia masih di Adion juga?"
__ADS_1
"Iya, dia resepsionis di Adion."
Chika mengingat jika dia pernah ke kantor Felix beberapa kali, tetapi tidak mengetahui jika ternyata salah satu wanita yang mungkin berbicara dengannya adalah mantan kekasih Felix.
"Apa kalian juga …." Chika menghentikan ucapannya karena bingung melanjutkannya.
"Tidak, kali ini tidak karena kami hanya sebentar menjalin hubungan."
Chika sedikit lega, ternyata dari keempat kekasih Felix, ada salah satu yang belum Felix sentuh. Lebih baik dari pada tidak ada sama sekali.
"Berarti kalian sering bertemu, apa dia menyesal saat tahu kamu sudah jadi asisten CEO?"
"Iya dan sampai sekarang dia masih berusaha kembali padaku."
"Kenapa kamu tidak mau?"
"Jika dia mencintaiku tulus, dia akan bersamaku mencapai kesuksesan, tetapi jika dia mencintai aku saat aku sukses, berarti dia hanya mencintai kesuksesanku bukan diriku."
Untuk kesekian kali kalimat bijak keluar dari mulut Felix. Membungkam Chika seketika. Jika mungkin wanita itu tergila-gila pada Felix, pastinya sudah pingsan mendengar kalimat itu.
"Lalu apa kamu yakin aku akan jauh lebih baik darinya yang akan mencintaimu dan menemanimu mencapai kesuksesan?
"Tanyakan pada dirimu sendiri, kenapa kamu bertanya padaku?" Felix memanggil pramusaji untuk meminta bill. Kemudian dia membayar pesanan makanan miliknya dan Chika.
Chika masih terdiam mendapati pertanyaan yang diajukannya sendiri.
"Sudah ayo, pikirkan nanti saat kamu akan tidur dan jika kamu sudah mendapatkan jawabannya katakan padaku, aku akan mempertimbangkan."
"Mempertimbangkan apa?" Wajah Chika berbinar.
"Mempertimbangkan mempercepat pernikahan kita."
Tubuh Chika lemas. Dia pikir Felix akan membatalkan rencana pernikahannya jika mendengar jawabannya.
Felix menuju ke mobil dan membuat Chika mengekor di belakangnya.
Sesampainya di apartemen, Felix menggoda Chika untuk memikirkan pertanyaannya tadi sebelum tidur. Walaupun Chika kesal, tetapi dia memang berencana memikirkannya sebelum tidur.
.
.
__ADS_1
Bersambung
...Like, komentar, vote dan beri hadiah....