
Terasa waktu bergulir begitu cepat. Freya yang dulu masih begitu kecil, kini sudah bisa berlarian. Felix dan Chika seolah sudah melepas bayi kecil mereka menjadi bayi besar.
Usia Freya yang genap dua tahun membuat kedua orang tuanya kewalahan. Freya yang dulu hanya bisa menangis saat haus dan menangis saat popoknya penuh, kini tumbuh sebagai anak perempuan kecil yang begitu cerewet.
Sudah bisa berbicara membuatnya banyak sekali bertanya. Konon katanya jika anak kecil banyak bertanya tandanya pintar, tetapi sebenarnya kalimat itu sedikit kurang, karena sebenarnya saat anak kecil banyak bertanya justru orang tuanyalah yang semakin pintar, karena semakin banyak informasi yang dicari untuk dapat menjawab pertanyaan.
"Fleya …." Suara anak kecil terdengar.
Mendengat suara, Freya yang sedang memakai baju ingin berlari menghampiri. Dia sudah tahu suara siapa itu. Siapa lagi jika bukan si jagoan tetangga sebelah. Anak Dari Bryan dan Shea itu sudah biasa keluar masuk rumah Felix dan Chika, seperti keluar masuk rumahnya sendiri.
Mommy dan Daddy-nya sebenarnya selalu mengeluh karena pagi-pagi sekali pria kecil itu selalu sudah bersiap untuk ke rumah Freya. Menghampiri gadis kecil yang katanya akan dijaganya nanti.
Kalau aku sudah besal aku akan jaga Fleya. Itu sepenggal kalimat yang diucapkan El, hingga membuat Bryan, Shea, Felix dan Chika geleng kepala.
"Eh … nanti Sayang, pakai baju dulu." Chika menarik kembali tubuh Freya agar tidak bisa pergi. Belum selesai Chika memakai baju. Tadi anaknya itu mandi di kamar mandi di lantai bawah. Jadi dia ganti baju di ruang keluarga.
"El atang Mama," keluh Freya tak mau membuat El menunggu.
Chika heran jam berapa sebenarnya El itu bangun, pagi-pagi sudah datang ke rumahnya.
"Sudah ada yang apel pagi-pagi?" goda Felix yang menuruni anak tangga. Tepat saat menuruni anak tangga, dia berpapasan dengan El. "Hai, Boy, jadwal apa hari ini?" tanya Felix menyapa Bryan junior itu.
"Aku mau main masak-masak sama Fleya, Pa." Anak usia empat tahun itu menjawab dengan lancar dan terselip cadel sedikit di nama Freya. Dia memanggil Felix-Papa dan Chika-Mama, sama persis bagaimana Freya memanggil.
"Memang anak laki-laki main masak-masak, Boy?" tanya Felix seraya merangkul bahu El dan mengajaknya menyusul Freya di ruang keluarga.
"Tidak, tetapi Fleya tidak bisa main mobilan jadi aku yang mengalah menemani main masak-masak. Kata Mommy, kita harus mengalah."
Felix terkadang merasa lucu. Jika Bryan itu sedikit bodoh baginya, bertolak belakang sekali dengan anaknya. Anaknya benar-benar jenius, merekam ajaran mommy-nya dengan baik dan menerapkannya.
"Oke." Felix pasrah, baginya main apa saja yang penting aman.
Langkah Felix dan El sampai di ruang keluarga. Tampak Freya sudah memakai baju lengkap. Aroma minyak telon menyeruak begitu membuat ruangan begitu segar.
"El … " panggil Freya.
"Panggil Kak El, Sayang," tegur Chika.
"Tidak au." Terbiasa memanggil El, membuat Freya sulit untuk mengganti memangil kakak.
Chika pasrah menatap suaminya.
Dua anak kecil itu langsung menuju ke taman belakang, melanjutkan niatan dan rencananya untuk bermain.
Felix yang menghampiri istrinya tersenyum. Chika yang melihat suaminya sudah bersiap ke kantor merapikan dasinya.
__ADS_1
"Kenapa kamu semakin hari semakin tampan?"
"Apa kamu sedang merayuku pagi-pagi?" Felix melingkarkan tangannya di pinggang Chika.
"Aku takut akan banyak wanita yang menggodamu jika kamu semakin tampan. Katanya menggoda pria beristri itu lebih menantang." Chika sedikit resah dengan wanita pengganggu rumah tangga yang terang-terang mengklaim itu adalah cinta dan berani mengumbar secara terbuka.
"Secantik apa wanita di luar sana, aku tidak akan tertarik. Bagiku kamu wanita tercantik, terbaik dan yang paling aku cintai." Felix mendaratkan kecupan di pipi.
Chika sebenarnya tak perlu ragu lagi. Dia sudah hapal seperti apa suaminya.
Saat sedang asyik berbicara, suara ponsel Chika berbunyi dan membuat Felix melepas pelukan.
Mengambil ponselnya, Chika mendapati telepon berasal dari Shea. Dia menduga jika temannya itu ingin menanyakan anaknya.
"Halo, Se."
"Halo, Chika. Apa El di sana?"
"Iya, dia sedang bermain di sini."
"Baiklah, aku titip El dulu ya, karena aku harus ke Rumah sakit."
"Kamu sakit?" tanya Chika.
"Cek apa?" Chika masih penasaran alasan Chika.
"Cek kehamilan." Shea di seberang sana menjawab lirih.
"Kamu hamil?"
"Tadi pagi aku mengecek dan aku mendapati dua garis merah."
"Wah … aku ikut senang. Baiklah, pergilah ke Rumah sakit. Aku akan menjaga El."
Chika mematikan sambungan telepon saat Shea mengiyakan.
"Shea sakit?" Pertanyaan itu langsung terlontar dari Felix.
"Tidak, tetapi dia hamil." Chika menjawab dengan tersenyum senang.
"Akhirnya dia hamil juga." Felix sudah tahu bagiamana Bryan dan Shea menanti anak.
Saat mengingat anak, dia teringat dengan istrinya. "Apa kamu sudah datang bulan?"
Chika terkesiap mendapati pertanyaan itu. Memutar memorinya kapan terakhir dia datang bulan. "Sepertinya bulan ini belum dan baru telat beberapa hari saja."
__ADS_1
"Apa mungkin kamu hamil juga?" Mata Felix berbinar menanti Chika yang telat datang bulan.
"Jangan terlalu berharap. Telat beberapa hari itu sudah biasa." Chika memilih menghindar, tak mau memberi harapan palsu pada suaminya. "Sudah ayo sarapan." Chika melangkah meninggalkan Felix dan menghampiri anak-anaknya, mengajak mereka untuk sarapan lebih dulu.
***
Setelah beberapa hari lalu Chika mendapati kabar Shea hamil. Ada perasaan ingin mengecek dengan test kehamilan juga, mengingat dia juga sudah telat beberapa hari.
Pagi-pagi dia sudah bangun lebih awal untuk mengecek urinnya. Di kamar mandi, Chika meyakini apa pun garis yang keluar, dia tidak akan kecewa.
Setelah prosedur sesuai petunjuk dikerjakan, dia menunggu dengan cemas garis yang ada. Namun, suara ketukan pintu membuat Chika terkejut dan membuatnya menoleh. Suara Felix memanggil, membuat Chika membuka pintu.
"Kamu kenapa lama sekali di dalam kamar mandi?" Sejak Chika bangun, sebenarnya dia sudah bangun, tetapi matanya masih terpejam dan malas untuk terbuka.
"Tidak." Chika menyembunyikan alat tes kehamilan. Takut Felix melihatnya sebelum dirinya.
"Apa yang kamu sembunyikan?"
"Bukan, apa-apa."
"Jangan bohong."
"Apa." Tangan Felix meraih apa yang disembunyikan Chika. Karena takut dengan hasilnya, dia memilih untuk memejamkan matanya.
Felix meraih benda yang disembunyikan Chika. Dia sedikit terkejut saat mengetahui jika alat test kehamilanlah yang disembunyikan Chika.
Penasaran, Felix buru-buru melihat. Matanya membulat sempurna saat melihat garis yang terdapat di alat test kehamilan. "Apa ini benar?"
Chika menghela napasnya. Kini dia pasrah karena pasti hasilnya adalah satu garis.
"Kamu benar hamil?" tanya Felix.
Seketika Chika membuka matanya. Tidak mengerti apa yang diucapkan suaminya. Namun, dia ikut membulatkan matanya saat Felix menunjukan alat test kehamilan yang menunjukan dua garis.
"Aku hamil?" tanya Chika.
"Iya, Sayang. Kamu hamil." Felix langsung memeluk Chika. Merasa sangat senang saat mengetahui dirinya hamil lagi.
Kebahagiaannya mereka kini semakin bertambah dengan kehadiran anak lagi di antara keluarga kecil mereka. Anak pertamanya-Freya tidak akan sendiri lagi dan akan mempunyai teman saat bermain nanti.
.
.
.
__ADS_1