Wedding Project

Wedding Project
Sedang Berusaha


__ADS_3

Pagi ini Chika mengemasi pakaiannya. Untungnya baju yang dibawanya tidak terlalu banyak, jadi baju yang dibeli Felix kemarin muat di kopernya.


Bertemu Felix di meja makan, Chika masih merasa sangat malu. Semalaman dia merutuki keberaniannya mencium Felix terlebih dahulu. Entah kenapa dia seberani itu, dia sendiri tidak tahu. Namun, yang jelas kini dia menyadari jika Felix adalah pria baik yang patut dicintai. Karena itu,  Chika akan berusaha untuk mencintai Felix.


"Dengar, aku menciummu bukan karena kamu memberiku barang-barang, jadi jangan menganggap aku ...."


"Aku tahu." Felix tersenyum.


Chika yang sedang mengobrol di taman dengan Felix menjelaskan alasannya mencium. Dia tidak mau Felix berpikiran dirinya yang matre. 


"Apa kamu sudah menyukai aku?" Senyum Felix belum surut dari wajahnya.


"Aku sedang berusaha," jawab Chika lirih. 


Jawaban itu sudah cukup bagi Felix untuk membuka jalan di mana dia akan mendapatkan Chika seutuhnya.


"Aku akan membantumu." Tangan Felix menggenggam tangan Chika. Meyakinkan jika dia akan selalu ada saat tunangannya itu sedang berusaha.


***


Malam ini semua keluarga Adion dan Maxton pulang ke Indonesia, mereka melakukan penerbangan malam hari. Tiba di Indonesia menjelang pagi. 


Perjalanan berjalan dengan lancar. Al dan El yang awalanya rewel, tetapi akhirnya bisa terkendali saat dua bayi tidur terlelap.

__ADS_1


Perjalanan yang memakan waktu lima belas jam membuat mereka sampai pagi hari di Indonesia. Di Bandara mereka berpisah masuk ke mobil masing-masing menuju ke rumah masing-masing. 


Bryan menawari Felix dan Chika untuk ikut ke rumahnya dahulu dan nanti akan diantar supir ke apartemen, tetapi Felix menolak karena ingin segera sampai di apartemen. Felix dan Chika memilih untuk naik taxi untuk pulang. 


Badannya kembali beradaptasi dengan suhu panas dan membuat Chika sedikit merasa tidak enak. 


"Aku pusing."


"Tidurlah di bahuku," ucap Felix seraya menarik tubuh Chika untuk lebih mendekat. Dia tidak tega melihat tunangannya pusing.


Chika yang merasa kepalanya berat, akhirnya  menerima tawaran Felix. Menyandarkan kepalanya di bahu Felix. Perlahan matanya terpejam karena tak kuasa merasakan pusing.


Tangan Felix membelai pipi Chika. Karena tunangannya itu tidur, sudah dipastikan tidak menyadari jika tangan Felix membelai lembut. 


Senyum tertarik di sudut bibirnya saat menyadari perubahan sikap Chika. Apalagi bagaimana kemarin wanita itu menciumnya membuatnya tak kuasa untuk segera mempercepat penikahannya. 


Sampai di apartemen Felix membangunkan Chika untuk turun dari taxi. Dengan langkah gontai, Chika melangkah seraya menarik kopernya. Kepalanya masih terus bersandar di bahu Felix.


"Aku akan buatkan teh herbal untukmu, setelah itu kamu bisa istirahat." 


Chika tidak menjawab. Dia hanya mengangguk saja menerima tawaran Felix. 


Mereka berdua menuju ke apartemen Felix terlebih dahulu. Chika yang tak kuasa menjatuhkan tubuhnya di sofa, sedangkan Felix membuat teh herbal. 

__ADS_1


"Ayo minum dulu," ucap Felix seraya membangunkan Chika yang sedang merebah di sofa.


Chika bangun dan menikmati teh herbal buatan Felix. Jahe yang terdapat di dalam teh membuat perutnya menghangat.


"Sebaiknya kamu tidur di kamar." 


"Aku tidur di sini saja." Chika yang malas melangkah ke kamarnya, menolak. Meletakkan kembali teh yang sudah habis diminumnya, dia merebahkan lagi tubuhnya.   


"Badanmu akan lebih pegal jika tidur di sini." Felix memberitahu, tetapi Chika tampak mengabaikan. "Baiklah, aku akan mengantarkan kamu ke kamar." Tangannya menangkup tubuh Chika dan membawanya ke kamarnya.


Chika yang terkejut melingkarkan tangannya di leher Felix. "Kamu mau bawa aku ke mana?" Merasa yang dilakukan Felix begitu tiba-tiba membuat Chika takut.


"Sementara kamu tidur di kamarku, aku akan tidur di sofa."


"Tadi kamu melarang aku tidur di sofa, sekarang kamu sendiri akan tidur di sofa." Dengan tubuh yang lemas, Chika masih bisa melayangkan protes.


"Lalu aku harus tidur di mana? Di sebelahmu?" tanyanya menyeringai.


Chika buru-buru menggeleng, tanda tidak setuju. Dia tidak bisa bayangkan akan tidur di kamar bersama dengan Felix. 


Felix tersenyum, sudah tahu jawaban apa yang akan tunangannya berikan. Sampai di kamar dan menurunkan Chika perlahan. Tubuhnya yang membungkuk membuatnya berjarak sangat dekat dengan Chika. Namun, buru-buru Felix meletakkan Chika tak mau sampai tiba-tiba hasratnya muncul. 


"Sudah tidurlah lebih dulu." Felix menari selimut dan menutupi tubuh Chika. Kemudian dia keluar dari kamar untuk beristirahat di sofa. 

__ADS_1


__ADS_2