Wedding Project

Wedding Project
Merayakan Kehamilan


__ADS_3

Malam ini suasana rumah Chika dan Felix tampak ramai. Keluarga berkumpul merayakan hari bahagia Chika. Mama Felix dan kedua orang tua Chika hadir memberikan selamat untuk anak-anak mereka.


Shea yang sudah memesan makanan menghidangkan makanan dan menyajikannya untuk para tamu. Dia dan Selly tidak membiarkan Chika membantu. Tak mau ibu hamil lelah.


Mereka semua menikmati makan malam terlebih dahulu. Untuk merayakan kebahagiaan kehamilan Chika. Suasana begitu ramai. Apalagi ada El dan Al yang begitu berisik bergumam. 


Dua bayi kecil itu sudah mulai pandai berkata 'mama' dan 'papa', padahal kedua orang tuanya membiasakan memanggil mommy dan daddy. 


Selesai menikmati makan malam, mereka membuat grup sendiri. Para wanita berada di dalam rumah, sedangkan para pria berada di taman belakang. 


Beberapa para pria saling berbincang menceritakan keseruan mereka saat menjadi ayah. Felix mendengarkan dengan seksama, siapa tahu bisa menjadi pelajaran untuknya kelak. Mereka para bapak dan bapak muda seperti Bryan dan Regan menceritakan bagaimana dulu sulitnya memenuhi nyidam. Felix hanya berharap istrinya tidak akan sesulit itu saat ingin sesuatu. 


Di sudut lain para wanita tak kalah seru bercerita. Sambil bermain dengan El dan Al mereka menceritakan bagaimana dulu mualnya mereka. Keseruan itu membuat kenangan tersendiri dan dapat dibagikan untuk Chika.


"Jadi kamu akan puasa selama satu bulan?" goda Bryan setelah papa Chika dan papa Felix pergi. 


"Tidak," jawab Felix enteng. 


"Kenapa tidak? Apa kamu tidak kasihan bayimu?"


"Sebelum kemarin saja aku baru saja melakukan dan aman saja, jadi untuk apa menunggu sampai usia kandungan tiga bulan."


"Bryan tak mau sendiri, jadi dia mau cari teman," timpal Regan tersenyum.

__ADS_1


Felix tertawa terbahak. Dulu dia adalah tempat curhat Bryan jadi tahu bagaimana Bryan berjuang untuk tidak menyentuh Shea. 


"Kak Regan juga seperti Bryan?" tanya Felix penasaran.


"Tidak."


Tawa Felix semakin kencang saat ternyata temannya menderita sendiri. 


"Sial kalian berdua. Awas saja nanti anak kedua aku juga akan melakukan hal yang sama." Muka Bryan tampak kesal sekali. 


Felix dan Regan semakin senang menggoda Bryan. 


Malam semakin larut. Semua orang mulai berpamitan meninggalkan rumah Chika. Tinggallah Chika dan Felix sendiri. Mereka kembali ke kamar untuk membersihkan diri. Chika yang terlampau lelah meminta lebih dulu dan bergantian Felix setelahnya. 


"Apa kamu lelah?" Felix merangkak naik ke atas tempat tidur dan berhenti di depan Chika. Dia mendaratkan kecupan di perut  Chika, mencium anaknya. "Aku senang sekali."


"Aku juga senang." Chika membelai rambut Felix. Tersenyum melihat aksi suaminya yang menciuminya. 


"Aku tidak sabar perutmu cepat besar."  Felix mengingat bagaimana Shea hamil dan Bryan menceritakan bagaimana gemasnya Bryan. Dia ingin segera merasakan apa yang dirasakan oleh Felix. 


"Sabarlah, kita akan nikmati setiap prosesnya." 


"Iya," jawab Felix, "sekarang tidurlah." Mengajak Chika untuk merebahkan tubuhnya dan bersiap tidur. 

__ADS_1


Memberikan pelukan, Felix menunggu Chika memejamkan matanya terlebih dahulu. Entah kenapa memandangi wajah Chika membuat Felix begitu senang. 


Aku yakin jika anak kita perempuan akan secantik kamu dan jika anak kita laki-laki setampan aku. 


Sebuah harapan kecil yang terselip dalam hati Felix.


Melihat istrinya tidur, Felix memulai untuk memejamkan mata. Menyusul Chika yang sudah terlelap tidur.


**


Pagi ini Chika muntah, tetapi tubuhnya tidak terlalu lemas. Sebenarnya kemarin pun tidak lemas, hanya saja karena khawatir Felix tak mengizinkan Chika masuk kerja. 


"Aku akan mengajukan surat pengunduran diri hari ini, aku harap Pak Regan bisa dapat penggantiku secepatnya."


"Iya,  aku berharap seperti itu. Jadi aku sudah tidak khawatir kamu terlalu lelah."


Sampai di kantor, Chika turun dari mobil dan masuk ke dalam kantornya. Kemarin siang saat tak ada kerjaan, dia sudah menulis surat pengunduran diri. Jadi hari ini Chika tinggal memberikan pada Regan.


Namun, sebelum Chika menyerahkan surat, Regan mengatakan jika dia sudah meminta pihak HRD untuk mengantikan Chika dan pihak HRD sudah dapat. Jadi tiga hari ke depan Chika bisa bersiap mengajari sekretaris baru sebelum dia keluar. 


Chika mengangguk dan menyerahkan surat untuk formalitas. Dia berjanji akan menyelesaikan pekerjaannya sebelum keluar dari pekerjaannya. 


Regan pun mengangguk. Bersyukur, Chika masih mau menunggu sampai tiga hari untuk mengajari sekretaris baru. 

__ADS_1


Setelah semua pembicaraan dengan Regan selesai, Chika melanjutkan pekerjaannya dan menyelesaikan semua yang belum dia selesaikan minggu kemarin.


__ADS_2