
Empat bulan berlalu. Hari-hari Felix dan Chika dilalui dengan bahagia. Jika dihitung mundur harusnya ini adalah adalah bulan terakhir misi Chika. Misi mengakhiri pertunangannya.
Namun, takdir seolah memberikan jalan yang berbeda. Di bulan keenam ini, Chika justru sedang menikmati masa-masa indah menikah. Melakukan pendekatan satu sama lain dengan status suami istri, terlihat lebih manis dibanding sewaktu sebelum menikah.
Waktu yang bergulir dengan cepat kini membuat mereka sudah saling memahami satu sama lain. Membuat hubungan mereka semakin harmonis. Namun, ada hal yang sedikit yang mengusik mereka, yaitu pertanyaan "kapan punya anak?" Pertanyaan yang mengusik batin.
Desakan orang tua untuk mengecek ke dokter akhirnya membuat mereka pergi ke dokter untuk memeriksakan. Membuat lega, mereka para orang tua yang tak sabar menunggu cucu mereka lahir.
Hasil menunjukan jika semua baik-baik saja. Tidak ada masalah diantara Felix dan Chika. Hanya tinggal Tuhan saja yang memberikan.
Bukan mereka tak mau, tetapi memang Tuhan belum menitipkan benih di rahim Chika. Akan tetapi, belum diberikan keturunan dimanfaatkan Chika dan Felix menghabiskan waktu bersama. Liburan di kala akhir pekan menjadi rutinitas mereka. Felix selalu mengatakan, "ayo kita manfaatkan jalan-jalan sebelum anak kita hadir" Itu yang menjadi penguat Chika menghiraukan omongan orang lain.
Berbeda dengan jadwal liburan Chika seperti biasa. Hari ini Chika pergi bersama dua istri CEO, yang sekaligus temannya. Rencananya, mereka akan pergi untuk mencari gaun untuk menghadiri pesta Erix dan Lyra.
Enam bulan berlalu, Erix yang dipindah tugaskan sudah kembali lagi. Dia yang sudah berencana untuk menikah akan mengelar pernikahannya minggu depan.
Di sebuah butik ternama, Chika, Shea dan Selly memilih-milih gaun untuk menghadiri acara. Dua ibu muda itu tidak membawa dua anak mereka. Al dan El yang sudah berumur setahun itu ditinggalkannya bersama daddy mereka.
Dua bayi itu sudah mulai bisa berjalan dan sedang senang-senangnya melangkahkan kaki mereka. Jadi Shea dan Selly memilih untuk tidak mengajak mereka.
__ADS_1
"Apa yang ini bagus?" Selly menunjukan gaun dengan warna biru navy pada Chika dan Shea.
"Bagaimana kita coba dulu?" Shea pun memberikan ide.
Selly dan Chika mengangguk. Mereka mencoba gaun yang ditujukan Selly. Sesaat keluar tiga wanita melihat tampilan di depan cermin, tersenyum tanda jika mereka sudah setuju dengan pilihan Selly.
Setelah membayar gaun yang mereka pilih, akhirnya mereka bertiga melanjutkan untuk makan siang. Kapan lagi bisa jalan-jalan bertiga saat anak mereka tidak ada.
"Apa hasil pemerikasaan kalian kemarin?" Shea yang mendapat cerita Chika jika dia akan memeriksakan pada dokter kandungan, bertanya.
"Semua baik," jawab Chika seraya memasukkan makanan ke dalam mulut.
"Tenanglah, aku saja sampai dua tahun baru punya Al. Jadi jangan khawatir." Selly menenangkan Chika berdasarkan pengalamannya.
"Kamu sendiri kapan melepas alat penunda kehamilan?" tanya Selly melirik Shea.
Shea tersenyum. Selama ini dia memang masih memakai alat pencegah kehamilan dan pastinya atas persetujuan Bryan. "El dan Al masih perlu air susu, jadi aku pikir aku menunggu mereka dua tahun. Aku tak mau membuat mereka harus minum susu formula jika memang aku masih bisa."
Selly langsung memeluk. Merasa terharu mendengar Shea masih terus memikirkan anaknya.
__ADS_1
"Kalian luar biasa, kelak aku harap Al dan El akan saling menyayangi karena mereka satu ibu susu." Chika yang melihat Shea dan Selly saling berpelukan merasa ikut senang.
"Aku berharap begitu." Shea memandang Selly mendoakan untuk anaknya kelak.
Mereka kembali menikmati makan siang. Sesekali menyelipkan cerita dan tawa. Namun, obrolan mereka terhenti saat suara ponsel Shea berbunyi. Alangkah terkejutnya Shea melihat dua anak yang dimasukkan ke keranjang oleh daddy-nya. Sudah seperti cucian kotor.
"Sebaiknya kita cepat pulang, Kak?" Shea menunjukan foto anak-anak pada Selly dan membuatnya mengangguk.
Karena tak mau menjadikan anaknya jadi objek eksperimen sang daddy. Begitulah jika menitipkan anak pada suami. Selalu saja ada ulah yang dikerjakan.
Setelah makan, akhirnya mereka pulang. Mengantarkan Chika terlebih dahulu sebelum pulang. Chika hanya tersenyum sepanjang perjalanan saat dua ibu itu menceritakan bagaimana tingkah Bryan dan Regan yang bermain dengan anak mereka.
Chika senang mendengarkan cerita dan membayangkan Felix akan seperti itu. Bermain dengan anaknya dengan riang.
Sampai di apartemen, Shea dan Selly menurunkan Chika dan berlalu kembali ke rumah.
.
.
__ADS_1
.
.