
Setelah tadi pagi mengatakan jika Chika akan pulang ke rumah orang tuanya. Hari ini sepulang kerja, Felix mengantarkannya. Dia menyempatkan berbincang dengan orang tua Chika, membahas kesiapan pernikahan mereka. Kemudian dia berpamitan untuk pulang karena hari juga sudah semakin malam.
"Apa berarti kamu akan berangkat ke kantor sendiri?" Berat untuk Felix melepas Chika sendiri.
"Aku akan diantar papa. Jangan khawatir." Tangan Chika meraih tangan Felix. Menatap lekat tunangannya itu. Meyakinkan jika dia akan baik-baik saja.
Felix mengangguk. Sejenak perasaannya tenang, mengingat Chika berada di tempat yang tepat.
"Baiklah. Aku pamit dulu. Jaga dirimu baik-baik." Felix mendaratkan kecupan di dahi Chika.
"Kamu juga harus menjaga dirimu baik-baik. Jangan macam-macam!" Chika melayangkan tatapan tajam. Dua minggu bukan waktu sebentar, tidak bertemu mungkin akan sangat sulit.
"Tenanglah, aku tidak akan macam-macam." Felix tersenyum.
Janji Felix membuat Chika yakin dan tenang.
Felix masuk ke dalam mobilnya. Melajukan mobil meninggalkan rumah Chika. Namun, di tengah perjalanan, Felix berbelok menuju ke rumah mamanya. Dia ingin menanyakan persiapan yang mamanya kerjakan.
__ADS_1
Di rumah mamanya terkejut dengan kedatangan anaknya. Mendengarkan penjelasan jika Felix baru saja mengantarkan Chika membuat Liana mengerti.
Meja makan adalah tempat ternyaman untuk mereka saling bercerita. Walaupun sudah terlalu larut malam, tetapi mereka tidak mau kehilangan momen.
"Mama sudah siapkan WO yang akan menangani semua. Rencananya besok sore Mama akan mengajak Chika dan mamanya untuk test food."
Felix mengangguk, kemudian menyesap kopi yang dibuatkan oleh mamanya. "Tetapi aku tidak bisa ikut." Kerena pekerjaan yang harus dia selesaikan sebelum nanti cuti menikah, dia menyerahkan para wanita saja untuk mengurus hal itu.
"Tidak masalah. Biar Mama dan Chika yang urus. "
Saat sedang berbincang, dia teringat dengan pertemuannya dengan papanya. "Ma, aku sudah menemui papa."
"Tetapi aku tidak mau dia datang dengan istrinya."
Liana tersenyum. Sebenarnya dia tak masalah jika mantan suaminya itu datang dengan istrinya, tetapi keputusan apa pun akan dia terima, mengingat hari itu adalah hari bahagia anaknya, jadi tidak mau merusak sama sekali. "Kamu sudah mau mengundang saja mama sudah senang."
Felix melihat lekat wajah mamanya. Entah terbuat dari apa hati mamanya itu, tak tampak kebencian sama sekali. Tanpa Felix tanya apakah mamanya mau berdampingan dengan papanya di pelaminan saja, dia sudah bisa mendapatkan jawaban. Pastinya mamanya tidak akan keberatan.
__ADS_1
Mereka melanjutkan bercerita beberapa hal mengenai persiapan pernikahan. Saat malam sudah semakin larut, Liana meminta Felix untuk beristirahat.
Felix mengangguk dan meninggalkan mamanya yang masih merapikan gelas kopi,
Melihat Felix pergi, perlahan senyum Liana surut. Dia menghembuskan napas kasarnya. Berusaha untuk tetap kuat. Jauh di lubuh hatinya, dia teramat berat berdampingan dengan suaminya. Namun, semua dilakukan demi anaknya.
***
Sore ini Liana menjemput calon besannya dan calon menantunya. Mengajak mereka untuk mereka ke tempat catering yang akan menangani acara pernikahan besok.
Di tempat catering. Berjajar makanan yang akan disajikan untuk pesta. Mereka semua mencoba mencicipi makanan. Memilih makanan mana yang nanti akan tersaji.
"Kemarin, Felix menceritakan jika dia menemui papanya. Terima kasih sudah membujuk Felix." Semalam Felix menceritakan jika Chika juga ambil andil membujuknya.
"Mama jangan berterima kasih. Kemarin aku lihat Pak Theo terlihat sedih, jadi aku meminta Felix."
"Iya." Liana tersenyum. Merasa beruntung karena Felix mendapatkan gadis yang baik. Dia hanya bisa berdoa semoga kehidupan mereka akan baik-baik saja.
__ADS_1
Setelah mencicip beberapa makanan, mereka memilih beberapa makanan yang akan disajikan nanti di pesta.