
Chika bagun dan langsung keluar dari kamarnya. Dilihatnya Felix yang berada di balkon menikmati secangkir kopi.
"Kamu sudah bangun?" tanya Felix.
Jam memang masih menunjukan jam enam pagi waktu setempat. Peresmian juga baru akan diadakan jam sepuluh pagi.
"Iya aku sudah cukup tidur puas." Chika menghampiri Felix dan ikut duduk di balkon dekat Felix.
"Mau coklat hangat?" tanyanya seraya membalikkan cangkir yang tengkurap. Chika mengangguk membuat Felix bergerak mengambil coklat bubuk kemasan yang sudah disediakan. Setelah jadi, Felix memberikannya pada Chika.
"Terima kasih." Chika menerima dan menyesap coklat hangat.
"Apa tidurmu nyenyak?"
"Mungkin karena lelah, jadi aku pulas tertidur," jawabnya, "Apa agenda kita hari ini?" tanyanya.
"Jam sepuluh acara peresmian diadakan. Akan berlanjut pesat kecil hingga jam tiga. Di jam tiga kita akan bersiap kembali ke London. Kita akan tinggal di rumah orang tua Kak Regan. Berpisah dengan Bryan dan Shea."
"Kenapa harus berpisah?" tanya Chika.
"Rumah orang tua Bryan tidak cukup menampung kita, jadi kita harus tinggal di rumah orang tua Kak Regan yang lebih besar."
Chika mengangguk. Tidak masalah baginya tidur di mana saja. Asalkan ada tempat. "Apa kita akan jalan-jalan lagi?"
"Aku akan mengajakmu nanti jalan-jalan lagi."
Mata Chika berbinar mendengar ucapan Felix. Tidak mau menyianyiakan kesempatan Chika ingin menikmati indahnya kota London.
__ADS_1
Tepat jam sembilan Chika dan Felix bersiap. Menyiapkan semua keperluan untuk acara peresmian. Felix memantau semua persiapan yang sedang dikerjakan.
Lobi sudah dihias sedemikian rupa. Bunga-bunga berjajar rapi sepanjang area masuk. Rencananya, beberapa teman dan kerabat dari orang tua Bryan dan Regan akan datang. Maklum mereka masih memiliki banyak orang-orang yang kenal dengan mereka.
Setelah memastikan semua sudah siap, Felix dan Chika memanggil keluarga Maxton dan Adion.
Acara dimulai dengan sambutan dari Regan selaku pemilik apartemen. Regan memang sudah memiliki hak penuh atas perusahaan papanya. Semua sudah ditanganinya setelah papanya memutuskan untuk pensiun. Namun, Regan tetap menyerahkan pada papanya untuk peresmian dari apartemen yang dibangunnya.
Sebuah pita digunting sebagai tanda jika apartemen telah dibuka untuk umum. Tepuk tangan terdengar mengiringi pinta yang digunting.
Beberapa pengunjung yang sengaja di undang dipersilakan untuk masuk untuk melihat contoh miniatur desain unit apartemen. Beberapa petugas promosi menjelaskan beberapa promo pembelian yang sudah disediakan.
Felix dan Chika merasa lega, karena acara bisa berlangsung dengan meriah. Paling tidak usaha mereka tidak sia-sia.
Beberapa tamu undangan khusus dibawa ke tempat diadakannya pesta. Merayakan pesta peresmian. Mereka memberikan ucapan pada pemilik acara yaitu Regan dan Andrew. Namun, tak lupa Andrew memperkenalkan rekan bisnisnya yang membangun apartemen. Siapa lagi jika bukan keluarga Adion.
Felix setia berada bersama Bryan. Menemani atasannya itu berkenalan dengan beberapa rekan dari papa Regan.
Chika bersama dengan ibu-ibu bercerita. Rasanya Chika senang sekali saat orang tua Bryan dan Regan memperkenalkan Selly dan Shea.
Mungkin nanti jika aku sudah menikah, maka mertuaku juga akan memperlakukanku seperti itu.
Chika tergelitik membayangkan akan hal itu. Namun, sejenak dia beralih melihat pria yang di sudut sana sedang mengobrol. Senyumnya tertarik di sudut bibirnya.
"Em ... jika suka kenapa tidak mau mengakui?" Suara Shea terdengar menyindir temannya itu.
"Apa cinta itu saat kita nyaman bersamanya?" tanya Chika. Matanya masih melihat di mana pria yang menjadi tunangannya itu berdiri.
__ADS_1
"itu salah satunya." Ibu satu anak itu menjawab dengan yakin. Karena dulu itu yang dirasakannya. "Felix pria yang baik, jadi aku yakin dia akan bertanggungjawab atas dirimu."
"Aku harap begitu." Chika sudah bisa memastikan jika Felix akan bertanggung jawab. Mengingat bagaimana dia membantu Nadia.
"Aku tinggal dulu," ucap Shea saat Felix menghampiri Chika.
"Kenapa Shea pergi?" tanya Felix yang melihat Shea pergi. Setelah puas mengobrol Felix memang memilih menghampiri Chika.
"Takut mungkin denganmu." Chika tersenyum menggoda Felix.
"Aku sudah jinak, jadi tidak perlu takut harusnya."
Chika tertawa mendengar guyonan receh Felix. Hal itu pun membuat Felix terpesona dengan Chika.
"Aku suka saat kamu tertawa," ucapnya menatap lekat wajah Chika.
"Buatlah aku selalu tertawa." Kalimat itu lolos begitu saja dari mulut Chika.
"Aku berjanji akan membuatmu selalu tertawa." Felix menatap Chika. Perasaan cintanya pada tunangannya itu, terlihat jelas di matanya.
Tatapan Felix mampu membuat Chika terhipnotis. Jantungnya semakin berdebar. Buru-buru dia mengalihkan pandangan. Membahas tamu yang hadir.
.
.
.
__ADS_1